Mendiktisaintek: RI Terancam Defisit Talenta 18 Juta pada 2030

Jakarta, FORTUNE - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyoroti tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam pengembangan sumber daya manusia, mulai dari rendahnya tingkat pendidikan tinggi hingga ancaman defisit talenta nasional pada 2030.
Tantangan tersebut muncul di tengah momentum bonus demografi Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 68,95 persen populasi Indonesia pada 2025 berada di usia produktif 15–64 tahun. Namun, para ekonom menilai bonus demografi dapat berubah menjadi beban apabila tidak diiringi peningkatan kualitas pendidikan dan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi.
Brian mengatakan hanya 10,2 persen penduduk Indonesia yang tercatat sebagai lulusan perguruan tinggi pada 2024. Di sisi lain, serapan lulusan perguruan tinggi oleh industri domestik juga dinilai masih tertinggal.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia diproyeksikan mengalami kekurangan 12 juta hingga 18 juta talenta pada 2030. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,8 juta berasal dari lulusan pendidikan tinggi.
“Untuk menjawab tantangan tersebut, kita harus menyadari pentingnya membangun industri yang berbasis riset, sains, dan teknologi sebagai kunci agar Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dan lepas dari middle income trap,” ujar Brian dalam acara pengembangan talenta muda Novo Club Batch 4 yang digelar ParagonCorp 25 April 2026, mengutip keterangan pers, Rabu (29/4).
Dibanding sejumlah negara Asia yang berhasil keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, tingkat pendidikan tinggi Indonesia masih relatif rendah. Data OECD menunjukkan sekitar 71 persen penduduk usia 25–34 tahun di Korea Selatan telah menyelesaikan pendidikan tinggi, jauh di atas rata-rata OECD sebesar 48 persen
Menurut dia, penguatan ekosistem riset dan inovasi menjadi salah satu prasyarat agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing industri sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas.
Tantangan itu juga tercermin dari rendahnya investasi riset nasional. Data World Bank dan UNESCO menunjukkan belanja riset dan pengembangan (R&D) Indonesia baru sekitar 0,28 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2020. Angka tersebut masih jauh tertinggal dibanding negara-negara dengan basis industri teknologi kuat di Asia Timur yang mengalokasikan lebih dari 2 persen PDB untuk riset.
Brian juga menilai industri nasional perlu lebih agresif membangun kapasitas inovasi agar mampu bertahan di tengah kompetisi global. Ia menyebut perusahaan yang memiliki basis riset dan pengembangan cenderung lebih adaptif menghadapi perubahan pasar.
Tekanan terhadap kualitas talenta diperkirakan semakin besar seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, dan transformasi digital global. Industri kini semakin membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan analitis, teknologi, dan riset yang lebih tinggi dibanding satu dekade lalu.
Selain membahas tantangan makro ekonomi dan pendidikan, Brian turut menekankan pentingnya daya tahan generasi muda dalam membangun karier dan inovasi.
“Kesuksesan itu tidak ada kaitannya dengan eksistensi. Kesuksesan ditentukan oleh seberapa keras kita mengejar sukses itu sendiri, seberapa kuat endurance kita untuk terus mengejar mimpi-mimpi kita,” katanya.
Menilik dari sisi pengembangan talenta muda dan kesiapan sumber daya manusia menghadapi transformasi industri, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI), Salman Subakat, mengatakan generasi muda perlu didorong untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi.
Kebutuhan talenta tersebut dinilai semakin mendesak seiring ambisi Indonesia mengembangkan industri kendaraan listrik, hilirisasi mineral, energi terbarukan, hingga ekonomi digital yang membutuhkan lebih banyak insinyur, peneliti, dan tenaga kerja berbasis sains serta teknologi. “Teknologi membuka banyak kemungkinan, tetapi yang membedakan adalah pilihan kita: apakah hanya mengikuti, atau berani menciptakan. Novo Club hadir untuk mendorong mahasiswa mengambil peran tersebut dan mulai berkarya,” ujarnya.


















