Minyak Dunia Tembus US$108 Usai Mojtaba Khamenei Ditunjuk Pimpin Iran

Jakarta, FORTUNE - Pasar energi global kembali bergejolak setelah harga minyak melonjak tajam menyusul perubahan kepemimpinan di Iran. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong investor bereaksi cepat, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia dalam waktu singkat.
Melansir The Guardian, data pasar menunjukkan harga minyak Brent naik sekitar 17 persen hingga mencapai US$108,77 per barel. Lonjakan ini disebut sebagai kenaikan harian terbesar sejak awal pandemi Covid-19 pada 2020. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat (WTI) juga melonjak sekitar 18 persen menjadi US$107,56 per barel, yang berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar dalam waktu dekat. Kenaikan tajam tersebut terjadi ketika pasar merespons perubahan politik di Teheran.
Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Senin, 9 Maret 2025, menggantikan ayahnya Ali Khamenei yang dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 1 Maret lalu. Selain Mojtaba Khamenei, beberapa kandidat lain muncul untuk posisi tertinggi tersebut termasuk Alireza Arafi, salah satu dari tiga anggota dewan sementara yang memimpin negara, tokoh garis keras Mohsen Araki, serta Hassan Khomeini yakni cucu pendiri Republik Islam Iran pada 1979.
Bagi pelaku pasar energi, pergantian kepemimpinan ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan. Iran merupakan salah satu pemain penting dalam geopolitik minyak dunia, sehingga setiap dinamika politik di negara tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global. Investor pun mulai memperhitungkan kemungkinan meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Apalagi Mojtaba dikenal memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), yang selama ini menjadi salah satu pilar kekuatan militer negara tersebut.
Sejumlah analis menilai penunjukan Mojtaba justru berpotensi memperkeras sikap Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Situasi itu dipandang dapat memperpanjang ketegangan geopolitik yang pada akhirnya memengaruhi pasar energi global.
Barbara Slavin dari Stimson Institute bahkan menyebut keputusan tersebut sebagai pukulan bagi strategi Washington. “Ini adalah kesalahan nyata Donald Trump yang sebelumnya mengatakan dia tidak menginginkan Mojtaba Khamenei (sebagai pemimpin tertinggi),” kata Slavin mengutip Al Jazeera.
Menurut Slavin, serangan militer yang menewaskan Ali Khamenei justru menghasilkan pemimpin baru yang kemungkinan lebih keras terhadap Barat. “Mereka membunuh (Ali) Khamenei) dan membuat ia diganti putranya, seseorang yang akan marah, tentu saja, atas pembunuhan ayah, ibu, istri, dan salah satu anaknya dalam serangan Israel seminggu yang lalu,” ujarnya.
Sementara itu, analis Iran Hamid Reza Gholamzadeh, direktur lembaga pemikir DiploHouse di Teheran, menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba tidak ditentukan oleh ayahnya. “Itu tidak ada hubungannya dengan ayahnya,” kata Gholamzadeh mengutip Al Jazeera.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan pemimpin tertinggi sepenuhnya berada di tangan Majelis Ahli, lembaga ulama tertinggi Iran. “Majelis Pakar bertanggung jawab melakukan revisi teknis terhadap tokoh-tokoh yang mungkin dan yang paling sesuai dengan kriteria berdasarkan konstitusi, dan mereka telah memilihnya,” ujarnya.
Sosok Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei sendiri bukan sosok baru dalam lingkaran kekuasaan Iran. Putra kedua Ali Khamenei itu lahir pada 8 September 1969 di Mashhad dan telah lama dipandang sebagai kandidat kuat penerus sang ayah. Meski dikenal tertutup, ia merupakan satu-satunya anak Ali Khamenei yang memiliki peran publik dalam struktur politik Iran. Ia juga diketahui pernah terlibat dalam unit tempur pada akhir Perang Iran–Irak (1980–1988), yang memperkuat hubungannya dengan kalangan militer konservatif, khususnya IRGC.
Nama Mojtaba bahkan telah lama menjadi perhatian Amerika Serikat. Kementerian Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadapnya pada 2019, dengan alasan ia mewakili pemimpin tertinggi Iran dalam berbagai aktivitas politik dan keamanan. Pada 2019, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadapnya pada masa pemerintahan pertama Presiden Donald Trump. Langkah tersebut diambil dengan alasan Mojtaba dinilai mewakili peran pemimpin tertinggi Iran, “meskipun tidak pernah dipilih atau diangkat dalam posisi pemerintahan selain bekerja di kantor ayahnya.”
Menurut Departemen Keuangan AS, Ali Khamenei disebut telah “mendelegasikan sebagian tanggung jawab kepemimpinannya” kepada putranya. Mojtaba juga disebut “bekerja sangat dekat” dengan aparat keamanan Iran dalam menjalankan ambisi regional ayahnya serta kebijakan domestik yang dinilai represif.
Sejumlah pengkritik pemerintah Iran bahkan menuduh Mojtaba turut berperan dalam tindakan keras terhadap demonstrasi besar yang pecah setelah pemilihan ulang presiden ultra-konservatif Mahmoud Ahmadinejad pada 2009. Gelombang protes saat itu menjadi salah satu krisis politik terbesar di Iran dalam beberapa dekade.
Sementara itu, penyelidikan Bloomberg yang mengutip sumber anonim serta laporan lembaga intelijen Barat menyebut Mojtaba Khamenei diduga mengumpulkan kekayaan lebih dari US$100 juta. Dana yang sebagian berasal dari sektor minyak itu disebut dialihkan ke berbagai investasi, termasuk properti mewah di Inggris, hotel di sejumlah negara Eropa, serta aset di Dubai melalui perusahaan cangkang di wilayah suaka pajak.
Di bidang keagamaan, Mojtaba menempuh pendidikan teologi di kota suci Qom, di selatan Teheran, dan pernah mengajar di sana. Ia menyandang gelar Hujjat al-Islam, yakni tingkat ulama menengah yang berada di bawah gelar Ayatollah seperti yang dimiliki ayahnya serta pemimpin revolusi Iran Ruhollah Khomeini.
Dalam serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Ali Khamenei, istrinya Zahra Haddad-Adel yang merupakan putri mantan ketua parlemen Iran juga dilaporkan turut tewas. Israel sendiri telah mengeluarkan peringatan keras kepada pemimpin tertinggi Iran yang baru serta pihak yang memilihnya. Pemerintah Israel menyatakan bahwa “tangan Negara Israel akan terus mengejar siapa pun penerus dan siapa pun yang berupaya menunjuk penerus”.
Penunjukan Mojtaba pun disambut positif oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ia menilai keputusan tersebut menandai fase baru bagi negara itu. “Pilihan berharga ini merupakan wujud keinginan bangsa Islam untuk mengkonsolidasikan persatuan nasional; kesatuan yang, seperti penghalang kokoh, telah membuat bangsa Iran tahan terhadap konspirasi musuh,” kata Pezeshkian dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Fars.
Melansir The Times of Israel, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak memberikan komentar panjang terkait penunjukan tersebut. “Kita lihat saja apa yang terjadi,” ujarnya.
Bagi pasar energi global, dinamika politik di Iran ini menambah lapisan ketidakpastian baru. Investor dan pedagang minyak kini mulai menghitung risiko tambahan terhadap produksi dan distribusi minyak global, terutama jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat. Situasi tersebut menjelaskan mengapa harga minyak dunia dapat melonjak tajam hanya dalam waktu singkat—sebuah pengingat bahwa stabilitas energi global sangat sensitif terhadap perubahan politik di kawasan penghasil minyak utama.

















