Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Harga Minyak Dunia Hari ini Tembus 100 Dolar AS per Barel Imbas Konflik Timur Tengah

Harga Minyak Dunia Hari ini Tembus 100 Dolar AS per Barel Imbas Konflik Timur Tengah
ilustrasi barel minyak (unsplash.com/Atik sulianami)
Intinya Sih
  • Harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel setelah konflik AS, Israel, dan Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi.

  • Ancaman penutupan Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen minyak dunia memperburuk sentimen pasar.

  • Lonjakan harga energi memicu tekanan pada pasar saham global serta meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE — Harga minyak dunia melonjak tajam dan menembus level 100 dolar AS per barel pada Minggu (8/3). Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Data pasar menunjukkan minyak mentah acuan Brent naik 12,63 persen menjadi sekitar 104 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS melonjak 14,7 persen.

Kenaikan tersebut menjadi level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 dan memicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Lonjakan harga minyak dipicu kekhawatiran gangguan pasokan

Lonjakan harga minyak dunia dipicu kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik yang berpotensi mengganggu distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.

Pada perdagangan awal pekan di sesi Asia, kontrak berjangka minyak bahkan bergerak lebih tinggi. Minyak Brent sempat melonjak hingga 114,36 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah AS mencapai sekitar 115,11 dolar AS per barel.

Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan terganggunya rantai pasok energi global. Timur Tengah selama ini merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia.

Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman menilai stabilitas pasokan energi global sangat bergantung pada kawasan tersebut.

“Perekonomian global tetap bergantung pada aliran terkonsentrasi minyak dan gas alam Timur Tengah melalui Selat Hormuz,” ujarnya, dikutip Reuters.

Menurut Kasman, dalam skenario jangka pendek harga minyak berpotensi terus meningkat jika konflik tidak segera mereda.

“Namun tanpa resolusi politik yang jelas dan tegas, harga minyak Brent diperkirakan bertahan pada level tinggi sekitar 80 dolar AS per barel hingga pertengahan tahun,” tambahnya.

Ancaman penutupan Selat Hormuz memperburuk sentimen pasar

Salah satu kekhawatiran terbesar investor berkaitan dengan potensi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz.

Selat ini merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap hari.

Seorang pejabat senior Iran menyatakan konflik telah memasuki tahap baru setelah serangan Israel. Ia juga memberi sinyal kemungkinan langkah balasan terhadap infrastruktur energi regional.

“Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai target yang diinginkan tercapai,” ujar pejabat tersebut, Minggu (8/3).

Iran sebelumnya juga mengancam akan menyerang kapal tanker minyak yang melintasi jalur tersebut. Jika ancaman ini terjadi, distribusi energi global dapat terganggu secara signifikan.

Situasi ini membuat sejumlah produsen minyak menghadapi keterbatasan penyimpanan karena jalur distribusi yang terganggu. Akibatnya, sebagian produsen mulai menyesuaikan tingkat produksi mereka.

Dampak lonjakan harga minyak terhadap pasar global

Lonjakan harga minyak langsung memicu tekanan di berbagai pasar keuangan global.

Di AS, indeks saham utama bergerak turun setelah kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi. Dow Jones tercatat merosot 851,6 poin atau sekitar 2 persen, sementara S&P 500 turun 1,73 persen dan Nasdaq melemah 1,65 persen.

Kenaikan harga energi juga mulai terlihat pada harga bahan bakar di tingkat konsumen. Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga bensin rata-rata di AS mencapai 3,45 dolar AS per galon, naik sekitar 16 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Lonjakan biaya energi ini berpotensi menambah tekanan terhadap inflasi global, terutama di negara-negara pengimpor energi.

Kepala Riset Makro Asia di Mizuho Vishnu Varathan menyebut kawasan Asia menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap kenaikan harga minyak.

“Asia menanggung dampak terbesar dari lonjakan harga minyak, dan hampir tidak ada tempat aman untuk berlindung,” ujarnya.

Pemerintah AS mencoba meredakan kekhawatiran pasar

Di tengah lonjakan harga energi, pemerintah AS berupaya meredakan kekhawatiran terkait dampak konflik terhadap harga bahan bakar.

Presiden AS Donald Trump menyebut kenaikan harga bensin yang terjadi saat ini bersifat sementara.

Ia mengatakan kepada ABC News bahwa lonjakan harga bensin merupakan “gangguan kecil” dan menyebut kenaikan harga minyak sebagai “pengalihan” atau detour yang sudah diproyeksi sebelumnya.

Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan bahwa pemerintah tidak berencana menyerang industri minyak Iran atau fasilitas infrastruktur energi lainnya.

Risiko terhadap ekonomi global dan fiskal negara

Lonjakan harga minyak juga berpotensi memengaruhi kondisi fiskal sejumlah negara.

Di Indonesia, pemerintah telah melakukan simulasi risiko terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut tekanan fiskal dapat meningkat jika harga minyak bertahan tinggi.

Menurut perhitungan pemerintah, apabila harga minyak rata-rata mencapai 92 dolar AS per barel sepanjang tahun—lebih tinggi dari asumsi APBN sekitar 60 dolar AS per barel—maka defisit anggaran berpotensi melebar hingga sekitar 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

FAQ seputar harga minyak dunia

Mengapa harga minyak dunia naik tajam?

Harga minyak naik karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi.

Berapa harga minyak dunia saat ini?

Minyak Brent sempat mencapai sekitar 104 dolar AS per barel dan bahkan menyentuh lebih dari 114 dolar AS pada perdagangan awal pekan.

Apa dampak kenaikan harga minyak bagi ekonomi?

Lonjakan harga minyak dapat meningkatkan inflasi global serta menekan pasar saham dan biaya energi di berbagai negara.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in News

See More