Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi mencari kerja (pexels.com/Ron Lach)

  • OECD 2025 mencatat Afrika Selatan, Slovakia, Yunani, dan Italia memiliki median pengangguran terpanjang, lebih dari 12 bulan.

  • Indonesia tidak masuk pemeringkatan OECD. Pada Mei 2026, TPT turun menjadi 4,65 persen, tetapi 7,22 juta orang belum terserap industri kerja.

  • Riset IZA 2024 menyebut dampak pengangguran terhadap peluang kerja mulai terlihat setelah sekitar 12 bulan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 2025 menunjukkan beberapa negara yang warga negaranya paling sulit dapat kerja. Pencari kerja bisa menganggur berbulan-bulan.

Data OECD 2025 yang dikutip Visual Capitalist mencatat Afrika Selatan, Slovakia, Yunani dan Italia memiliki median durasi pengangguran terpanjang lebih dari 12 bulan. Sebaliknya, Meksiko memiliki durasi terpendek 1,2 bulan dan Amerika Serikat (AS) selama 2,2 bulan.

Daftar negara yang warganya sulit dapat kerja versi OECD 2025

Pemeringkatan OECD 2025 didasarkan pada durasi menganggur para pencari kerja di 42 negara. Riset ini hanya mengukur periode pengangguran yang sedang berlangsung, bukan waktu yang dibutuhkan untuk menemukan pekerjaan.

Berikut daftar negara paling sulit dapat kerja berdasarkan median durasi pengangguran terpanjang di dunia:

  1. Afrika Selatan (Afrika) – lebih dari 12 bulan

  2. Slovakia (Eropa) – lebih dari 12 bulan

  3. Yunani (Eropa) – lebih dari 12 bulan

  4. Italia (Eropa) – lebih dari 12 bulan

  5. Bulgaria (Eropa) – 9,3 bulan

  6. Kroasia (Eropa) – 8 bulan

  7. Lithuania (Eropa) – 7,9 bulan

  8. Rumania (Eropa) – 7,8 bulan

  9. Portugal (Eropa)  – 7,6 bulan

  10. Latvia (Eropa) – 6,9 bulan

  11. Swiss (Eropa) – 6,7 bulan

  12. Ceko (Eropa) – 6,5 bulan

  13. Luksemburg (Eropa) – 6 bulan

  14. Hungaria (Eropa) – 5,9 bulan

  15. Belgia (Eropa) – 5,7 bulan

  16. Polandia (Eropa) – 5,6 bulan

  17. Spanyol (Eropa) – 5,5 bulan

  18. Jerman (Eropa) – 5,3 bulan

  19. Estonia (Eropa) – 5,1 bulan

  20. Jepang (Asia) – 4,9 bulan

Kondisi pasar tenaga kerja di Indonesia

Indonesia tidak termasuk dalam pemeringkatan median durasi pengangguran di antara 42 negara berdasarkan data OECD 2025. Namun saat ini, pasar tenaga kerja nasional menjadi sorotan di tengah sulitnya mencari pekerjaan yang layak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berkurang 0,03 poin persentase menjadi 4,65 persen pada Mei 2026. Capaian ini dinilai mendekati level terendah yang tercatat pada 1994 sebesar 4,36 persen.

Meski menunjukkan pemulihan, jumlah angkatan kerja yang belum terserap mencapai 7,22 juta orang. Jumlah angkatan kerja di Indonesia tercatat 155,41 juta orang per Mei 2026. Dari jumlah ini, sebanyak 148,19 juta orang telah bekerja.

Kondisi tersebut menunjukkan penurunan tingkat pengangguran belum sepenuhnya mengatasi persoalan pasar tenaga kerja di Indonesia. Penciptaan lapangan kerja tetap menjadi tantangan utama dengan jutaan orang masih belum terserap.

Pengangguran berkepanjangan memperkecil peluang kerja

Pengangguran berkepanjangan dapat memengaruhi peluang seseorang untuk kembali masuk ke pasar tenaga kerja. Temuan ini didasarkan pada riset yang dirilis Institute of Labor Economics (IZA) pada 2024.

Laporan tersebut menunjukkan pemberi kerja cenderung memberikan penilaian lebih rendah pada pelamar yang sedang menganggur dibandingkan mereka yang masih bekerja. Dampak masa menganggur terhadap peluang diterima kerja mulai terlihat setelah sekitar 12 bulan.

Masa pengangguran yang singkat memiliki peluang lebih besar untuk segera mulai bekerja. Sebaliknya, periode menganggur panjang menjadi sinyal produktivitas atau kemampuan pelamar telah menurun dalam penilaian pemberi kerja. 

Persepsi tersebut berpotensi menjadi hambatan bagi pencari kerja jangka panjang. Namun, para peneliti masih membutuhkan riset lanjutan untuk membuktikan hubungan durasi menganggur dengan peluang mendapat pekerjaan.

Berdampak pada kesehatan mental

Periode menganggur yang terlalu panjang berpotensi membawa tekanan psikologis bagi pencari kerja. Penolakan lamaran, ketidakpastian penghasilan, hingga ketidakpastian dari perusahaan bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Perasaan gagal dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan dan depresi. Kepercayaan diri bisa ikut menurun dan berujung pada menarik diri dari masyarakat.

Bagi pencari kerja, kendala tersebut dapat menumpuk dan meluas seiring berjalannya waktu. Periode tanpa pekerjaan bisa memberikan tekanan finansial yang lebih besar, peluang kerja semakin sempit, dan sulit masuk ke pasar tenaga kerja.

FAQ seputar negara paling sulit dapat kerja

Negara mana yang memiliki durasi menganggur lama?

Afrika Selatan, Slovakia, Yunani, dan Italia berada di posisi teratas dengan median durasi menganggur terpanjang lebih dari 12 bulan.

Bagaimana dengan posisi Indonesia?

Indonesia tidak termasuk dalam penilaian OECD 2025. Namun, pasar tenaga kerja masih menghadapi tantangan penciptaan lapangan kerja untuk menyerap tenaga kerja sepenuhnya.

Apa dampak menganggur terlalu lama di negara tersebut?

Pengangguran berkepanjangan berpotensi menghadapi masalah finansial hingga kesehatan mental terganggu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article