Nilai Perdagangan Bilateral RI-Rusia Tembus US$5 Miliar pada 2025

- Nilai perdagangan bilateral Indonesia–Rusia diproyeksikan menembus hampir US$5 miliar pada 2025, menunjukkan peningkatan signifikan dalam hubungan ekonomi kedua negara.
- Dubes RI dan Dubes Rusia menekankan pentingnya diversifikasi perdagangan, penguatan kerja sama industri, serta eksplorasi investasi di sektor pertanian, halal, teknologi informasi, infrastruktur, dan pertambangan.
- Pertemuan Working Group on Trade, Investment, and Industry RI–Rusia menyoroti percepatan implementasi I-EAEU FTA sebagai langkah strategis menghadapi proteksionisme global dan memperkuat kemitraan ekonomi berkelanjutan.
Jakarta, FORTUNE - Nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Rusia mencapai hampir US$5 miliar (atau setara Rp85,4 triliun) pada 2025. Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Jose Tavares menyoroti bahwa masih terdapat ruang besar untuk peningkatan investasi melalui diversifikasi perdagangan, penguatan kerja sama industri, serta identifikasi proyek-proyek investasi potensial.
“Liberalisasi lebih dari 90 persen tarif melalui Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) menjadi langkah penting di tengah tren global terkait proteksionisme,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (10/4).
Sementara itu, Duta Besar Federasi Rusia untuk Republik Indonesia Sergey Tolchenov menegaskan bahwa dimensi ekonomi merupakan pilar utama dalam penguatan hubungan bilateral yang saling menguntungkan.Â
Dubes Tolchenov juga menyoroti potensi besar kerja sama di berbagai sektor pertanian, industri halal, teknologi informasi, pengembangan infrastruktur, serta pertambangan dan pengolahan.
Pernyataan tersebut dikemukakan pada pertemuan ke-7 Pemerintah Republik Indonesia dan Federasi Rusia dalam Working Group on Trade, Investment, and Industry (WGTII) RI-Rusia.
Forum ini menjadi momentum untuk memperkuat kemitraan strategis kedua negara di tengah dinamika ekonomi global, termasuk meningkatnya proteksionisme dan disrupsi perdagangan akibat konflik di Timur Tengah.
“Pada kerja sama dengan Federasi Rusia, kami meyakini terdapat banyak potensi besar yang belum digarap dengan maksimal guna meningkatkan kerja sama perdagangan yang berkontribusi pada pertumbuhan berkelanjutan dan saling menguntungkan,” kata Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Perekonomian RI Edi Prio Pambudi.
Deputi Edi menyampaikan bahwa kedua negara perlu mendorong percepatan implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) serta peningkatan kerja sama di sektor-sektor prioritas, termasuk perdagangan, industri, investasi, ketahanan pangan, dan ekonomi kreatif.


















