OECD Pangkas Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,8% pada 2026

- OECD menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8% pada 2026, lebih rendah dari target pemerintah 5,4% dan capaian 5,1% di Desember 2025.
- Konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan energi global, memicu kenaikan harga minyak dan LNG yang berdampak pada inflasi serta ketidakpastian ekonomi dunia.
- OECD memperkirakan inflasi G20 naik ke 4,0% pada 2026 sebelum turun ke 2,7% di 2027, sambil mendorong kebijakan moneter waspada dan efisiensi energi nasional.
Jakarta, FORTUNE - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,8 persen, turun 0,2 persen dibandingkan proyeksi pada bulan Desember 2025. Hal ini dilaporkan dalam OECD Economic Outlook edisi Maret 2026.
Sebelumnya, pada Desember 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1 persen. Proyeksi OECD tersebut lebih rendah dibandingkan target pertumbuhan ekonomi 2026 pemerintah sebesar 5,4 persen pada 2026.
Sementara itu, inflasi Indonesia pada 2025 juga diperkirakan sebesar 3,4 persen, naik 0,3 persen dari proyeksi OECD pada Desember 2025 lalu.
OECD menilai, konflik di Timur Tengah menguji ketahanan ekonomi global. Sejak akhir Februari, penutupan infrastruktur energi yang signifikan dan hampir terhentinya pengiriman melalui Selat Hormuz telah mengganggu aliran global minyak mentah, produksi minyak, dan LNG.
Risiko yang paling mendesak adalah bagi banyak negara di Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Timur Tengah.
Secara global, OECD mempertahankan proyeksi pertumbuhan PDB global sebesar 2,9 persen untuk tahun 2026. Sementara itu, OECD memangkas proyeksi pertumbuhan PDB global untuk tahun 2027 dari 3,1 persen menjadi 3,0 persen.
“Pertumbuhan PDB global diproyeksikan akan tetap stabil di angka 2,9 persen pada tahun 2026 sebelum sedikit meningkat menjadi 3,0 persen pada tahun 2027, didukung oleh investasi terkait teknologi yang kuat dan penurunan tarif efektif secara bertahap,” demikian laporan tersebut, dikutip Senin (30/3).
Konflik yang berkembang di Timur Tengah membebani pertumbuhan dan menimbulkan ketidakpastian yang signifikan menyangkut permintaan global. Proyeksi ini mengasumsikan bahwa gangguan pasar energi bersifat sementara, dengan harga yang akan mereda mulai pertengahan tahun 2026 dan seterusnya.
OECD memproyeksi, kenaikan harga energi akan memperpanjang inflasi global. Inflasi G20 diproyeksikan 1,2 poin persentase lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya pada tahun 2026 menjadi 4,0 persen. Inflasi diproyeksi mereda menjadi 2,7 persen pada tahun 2027 dengan asumsi meredanya tekanan harga energi.
Menghadapi guncangan harga energi, OECD menilai bank sentral perlu tetap waspada dan memastikan bahwa ekspektasi inflasi tetap terkendali. Penyesuaian kebijakan moneter mungkin diperlukan jika tekanan harga meluas, atau jika prospek pertumbuhan melemah secara substansial.
Sementara itu, pemerintah perlu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dan mempercepat langkah-langkah efisiensi energi.



















