Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemerintah Garap Konversi Motor Listrik dan Skema Insentif Industri
Petugas menjelaskan sepeda motor listrik yang dipamerkan kepada pengunjung pada pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (1/8). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
  • Pemerintah menargetkan 6 juta motor listrik pada 2029, diawali konversi 63.000 motor BBM pada 2027 untuk menekan energi fosil dan impor BBM.
  • Skema insentif bagi motor listrik produksi dalam negeri telah mendapat persetujuan anggaran, dengan target mendorong penggunaan hingga 1 juta unit; nominal per unit masih dihitung.
  • Peluncuran MoLiNas memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional, didukung 69 produsen roda dua-tiga berkapasitas 2,511 juta unit per tahun dan investasi perakitan sekitar Rp30,468 triliun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah menargetkan populasi motor listrik di Indonesia mencapai 6 juta unit pada 2029, yang diawali dengan sasaran konversi motor berbahan bakar minyak (BBM) sebanyak 63.000 unit pada 2027. Kebijakan yang tertuang dalam Buku II Nota Keuangan RAPBN 2027 tersebut dirancang mengakselerasi transformasi energi pada sektor transportasi sekaligus menekan konsumsi energi fosil dan mengurangi impor BBM nasional.

Namun, pemerintah belum memerinci besaran anggaran subsidi maupun skema implementasi untuk program konversi motor listrik tersebut pada 2027. Pada dokumen yang sama, pemerintah juga memastikan pemanfaatan kompor listrik akan dilaksanakan pada tahun tersebut, meskipun volume penerima dan besaran subsidinya belum dijelaskan.

Di luar skema konversi, pemerintah tengah menyiapkan skema insentif khusus guna mempercepat penggunaan motor listrik hasil produksi dalam negeri. Program ini ditargetkan mampu mendorong penggunaan hingga 1 juta unit motor listrik sekaligus memangkas ketergantungan pada BBM impor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan alokasi anggaran program insentif tersebut telah disiapkan dan memperoleh persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto.

“Anggarannya sebetulnya sudah ada,” ujar Airlangga seusai konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat (14/8).

Menurut Airlangga, pemerintah masih menghitung kebutuhan anggaran secara keseluruhan, yang besaran insentif per unit nantinya akan disesuaikan dengan volume kendaraan sasaran.

Ia menegaskan Indonesia memiliki modal kuat dalam pengembangan kendaraan listrik karena telah menguasai unsur penting dalam rantai pasok baterai, yang diharapkan dapat mempercepat transisi energi dan meringankan beban subsidi BBM.

Upaya pengembangan motor listrik nasional mendapat dorongan kuat setelah Prabowo meluncurkan Motor Listrik Nasional (MoLiNas) beserta ekosistem pendukungnya di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8).

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menilai peluncuran MoLiNas menjadi momentum penting memperkuat kemampuan industri nasional dalam penguasaan teknologi, memperdalam struktur industri, serta meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri.

“MoLiNas harus kita jadikan sebagai momentum untuk membangun ekosistem kendaraan listrik nasional yang semakin kuat dari hulu sampai hilir. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi harus menjadi basis produksi dan pengembangan teknologi kendaraan listrik yang memiliki daya saing global,” kata Agus dalam keterangannya, Kamis (13/8).

Indonesia saat ini telah memiliki fondasi manufaktur yang cukup besar untuk menopang pertumbuhan industri kendaraan listrik. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, terdapat 69 perusahaan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda dua dan roda tiga dengan kapasitas produksi 2,511 juta unit per tahun dan total nilai investasi sekitar Rp1,2 triliun.

Selain itu, sektor ini didukung oleh 14 perusahaan kendaraan listrik roda empat dengan total kapasitas 409.860 unit per tahun, serta 10 perusahaan kendaraan komersial listrik berkapasitas 7.500 unit per tahun. Secara keseluruhan, total investasi industri perakitan kendaraan listrik nasional telah menembus sekitar Rp30,468 triliun. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article