Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menteri Koordinator (Menko) Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (YouTube/Kementerian ESDM)
  • ESDM berencana memperketat RKAB, terutama untuk komoditas nikel, guna menjaga harga sesuai asumsi yang ditetapkan.

  • Kelebihan pasokan membuat harga nikel turun, sehingga industri dan pengusaha tambang diminta menahan produksi.

  • Pemerintah juga mengkaji pendalaman hilirisasi agar industri bergerak dari produk setengah jadi menuju produk akhir.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rabu (4/11)

Bahlil Lahadalia menyatakan harga nikel yang buruk terjadi karena produksi yang terlalu besar. Ia juga meminta industri dan pengusaha tambang nikel menahan produksi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    ESDM berencana memperketat RKAB, terutama untuk komoditas nikel, serta mendorong pengendalian produksi dan pendalaman hilirisasi.
  • Who?
    Bahlil Lahadalia, Kementerian ESDM, industri, dan pengusaha tambang nikel.
  • Where?
    Di pasar nikel saat ini, dengan dampak pada nikel nasional.
  • When?
    Rencana dan pernyataan tersebut disampaikan Rabu (4/11), ketika kondisi pasar sedang mengalami kelebihan pasokan.
  • Why?
    Kelebihan pasokan membuat harga nikel turun ke kisaran USD15.800 per ton, di bawah level US$16.000 per ton.
  • How?
    Melalui pengetatan RKAB, ajakan menahan produksi, dan pengembangan industri menuju produk akhir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemerintah mau mengatur jumlah nikel yang dibuat karena nikel terlalu banyak dan harganya turun. Bahlil Lahadalia meminta pengusaha tambang menahan produksi. Pemerintah juga ingin nikel diolah sampai menjadi barang akhir, bukan hanya barang setengah jadi. Sekarang, rencana pengetatan RKAB dan hilirisasi nikel sedang didorong.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rencana pengetatan RKAB dan pengendalian produksi menunjukkan upaya pemerintah menjaga pengelolaan nikel agar tidak hanya berorientasi pada produksi besar. Dorongan menuju produk akhir juga membuka arah pengembangan industri yang lebih mendalam. Langkah ini sejalan dengan penekanan pada pengelolaan sumber daya mineral untuk kepentingan jangka panjang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana memperketat Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada komoditas nikel. Langkah ini ditempuh untuk menjaga harga supaya tetap tinggi di tengah pasokan yang berlebih.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut, kelebihan pasokan yang terjadi di pasar saat ini membuat harga nikel turun ke kisaran US$15.800 per ton, di bawah level US$16.000 per ton.

"Kenapa terjadi harga buruk ? Karena produksi kita," kata Bahlil dikutip dari keterangan resmi, Rabu (4/11).

Padahal, kata dia, total kebutuhan nikel dunia hanya sekitar 3,5 juta ton per tahun, sementara saat ini pasokannya mencapai 800 ribu ton. Produksi yang terlalu besar ini dinilai berisiko membuat nikel nasional dibeli murah oleh negara tertentu, disimpan sebagai cadangan, lalu dijual kembali saat harga naik.

Berdasarkan hal itu, Bahlil pun memintah industri dan pengusaha tambang nikel menahan produksi. "Kalau memang hari ini barangnya belum mahal, harganya belum bagus, tinggalkan. Nanti ada Menteri ESDM baru, ada Dirjen baru, ada Presiden baru, ada pengusaha baru, untuk anak cucu kita, untuk mereka mendapatkan harga yang maksimal," ujar Bahlil.

Ia menegaskan, sumber daya mineral harus dikelola untuk jangka panjang. Bahlil membandingkan dengan sawit yang bisa ditanam ulang setelah 25 tahun. Sementara mieral yang sudah ditambang habis tidak bisa tumbuh lagi.

Selain mengendalikan produksi, pemerintah juga mendorong pendalaman hilirisasi nikel. Bahlil menyebut pemerintah tengah mengkaji agar pengembangan industri tidak berhenti pada produk setengah jadi, tetapi bergerak menuju produk akhir.

Dia memperkirakan, realisasi produksi nikel 2026 akan berada di level 290 juta hingga 300 juta ton. Angka ini lebih rendah dibanding produksi nikel dalam RKAB 2025 yang sebesar 379 juta ton.

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article