Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPS Beberkan Alasan Desil Pakai Data Pengeluaran Bukan Pendapatan
irektur Metodologi Statistik dan Sains Data Badan Pusat Statistik (BPS) Setia Pramana. Dok Fortune Indonesia
  • BPS menggunakan pendekatan pengeluaran untuk mengklasifikasikan desil karena data pendapatan masyarakat belum lengkap.
  • Penetapan desil melibatkan pengeluaran dan 40 variable lain, tetapi data yang belum mutakhir dapat memicu kesalahan.
  • BPS membuka peluang integrasi data kementerian dan lembaga lain serta pemutakhiran melalui sensus ekonomi 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah BPS menggabungkan data lembaga lain untuk desil?
Vote Now
Jumat (11/9)

Setia Pramana menjelaskan alasan BPS menggunakan pendekatan pengeluaran untuk mengklasifikasikan desil di Jakarta.

saat ini

BPS belum memiliki data pendapatan lengkap dan data yang dimiliki belum mutakhir serta tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah BPS menggabungkan data lembaga lain untuk desil?
Vote Now
  • What?
    BPS menjelaskan penggunaan pendekatan pengeluaran untuk mengklasifikasikan tingkat kesejahteraan masyarakat ke dalam 10 desil.
  • Who?
    Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data BPS Setia Pramana dan Badan Pusat Statistik.
  • Where?
    Dalam Diskusi Metodologi Penentual Desil dan Pengukuran Kemiskinan Indonesia di Jakarta.
  • When?
    Jumat (11/9).
  • Why?
    BPS belum memiliki data pendapatan yang lengkap untuk menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia.
  • How?
    Desil diurutkan berdasarkan pengeluaran dan 40 variable lain, dengan peluang menggabungkan data kementerian serta lembaga lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah BPS menggabungkan data lembaga lain untuk desil?
Vote Now

Pak Setia dari BPS bilang BPS memakai data uang yang dibelanjakan untuk membuat kelompok desil, karena data pendapatan belum lengkap. Ada sepuluh kelompok, dari Desil 1 sampai Desil 10. Sekarang data BPS belum baru, jadi kadang kelompok orang bisa salah ditetapkan. BPS ingin memakai data dari tempat lain juga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah BPS menggabungkan data lembaga lain untuk desil?
Vote Now

Rencana BPS menggabungkan data dari kementerian dan lembaga lain membuka ruang penyempurnaan data yang digunakan dalam penetapan desil. Pemanfaatan data Kementerian Sosial, PLN, dan penggunaan pulsa, serta pemutakhiran melalui sensus ekonomi 2026, diarahkan untuk membuat data BPS lebih akurat sesuai kondisi saat ini yang disebutkan Setia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perlukah BPS menggabungkan data lembaga lain untuk desil?
Vote Now

Jakarta, FORTUNE - Direktur Metodologi Statistik dan Sains Data Badan Pusat Statistik (BPS) Setia Pramana menjelaskan faktor yang mempengaruhi penggunaan pendekataan pengeluaran untuk mengklasifikasian desil dibandingkan pendapatan masyarakat.

Menurutnya, saat ini BPS belum memiliki data pendapatan yang lengkap untuk menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia. Sebagai konteks, dalam sistem tersebut, tingkat kesejahteraan masyarakat dikelompokkan ke dalam 10 kategori atau desil.

Desil 1 menggambarkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan Desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.

“Kenapa tidak pendapatan? Karena kita tidak memiliki data pendapatan, sehingga kita lakukan pengeluaran. Nah, data pengeluaran tersebut kita bisa lakukan perrankingan, bahwa asumsinya bahwa dengan yang ranking pengeluaran 1, 2, 3, dari spek atas itu nanti terkait dengan kondisi ekonominya,” ujar Setia dalam Diskusi Metodologi Penentual Desil dan Pengukuran Kemiskinan Indonesia, di Jakarta, Jumat (11/9).

Meski demikian, ia juga mengatakan bahwa penentuan desil tidak hanya diurutkan berdasarkan pengeluaran, melainkan terdapat 40 variable lain. Setia juga menyatakan bahwa data yang dimiliki oleh BPS saat ini belum mutakhir dan tidak sesuai dengan kondisi saat ini, yang menyebabkan banyaknya kesalahan penetapan desil.

Pasalnya, terdapat kasus di mana anggota DPR yang mendapatkan desil 4, sedangkan tukang becak justru ditetapkan pada desil 9.

“Karena data ini tidak mutakhir. Itu ya, data ini tidak mutakhir, dan tidak sesuai dengan kondisi saat ini,” ujarnya.

Dengan demikian, BPS juga membuka peluang untuk menggabungkan sumber data yang dimiliki kementerian dan lembaga lain untuk menyempurnakan data BPS agar lebih akurat. Beberapa data yang akan dimanfaatkan seperti Kementerian Sosial, PLN, hingga penggunaan pulsa.

“Kalau kita bicara data, itu sangat memungkinkan bahwa kita berkolaborasi dengan seluruh kementerian dan lembaga yang ada. Tidak hanya tentu pajak, untuk yang lain juga bisa saja,” katanya.

Setia juga menambahkan, salah satu cara untuk memutakhirkan data-data tersebut adaah menggunakan sensus ekonomi 2026.

Pilih pandanganmu soal pembaruan data desil BPS

Perlukah BPS menggabungkan data lembaga lain untuk desil?

See More
Perlu menggabungkan data
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
Cukup memakai data BPS

Curated For You

Editorial Team

Related Article