Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Melemah, Indonesia dan Filipina Tempuh Skema Barter

Rupiah Melemah, Indonesia dan Filipina Tempuh Skema Barter
Menteri Perdagangan Budi Santoso usai menyaksikan penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU) imbal dagang tripartit antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina digelar di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, pada Senin (8/6). (Eko Wahyudi/Fortune Indonesia)
Intinya Sih
  • Pemerintah Indonesia dan Filipina menandatangani dua MoU imbal dagang senilai US$350 juta untuk memperkuat perdagangan di tengah pelemahan mata uang dan ketidakpastian ekonomi global.
  • Skema barter dipilih agar transaksi tidak bergantung pada dolar AS, dengan PT Trade Barter Indonesia ditunjuk sebagai agen penghubung antara eksportir dan importir kedua negara.
  • Kesepakatan mencakup ekspor tekstil Indonesia ditukar serat abaka dari Filipina senilai US$50 juta per tahun, serta ekspor baja ditukar bijih besi senilai US$300 juta per tahun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Pemerintah Indonesia dan Filipina mulai mengandalkan skema barter untuk menopang perdagangan di tengah tekanan pelemahan mata uang dan ketidakpastian ekonomi global. Langkah itu ditandai dengan penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU) imbal dagang tripartit senilai US$350 juta atau sekitar Rp6,29 triliun yang melibatkan pelaku usaha kedua negara.

Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengatakan skema barter dipilih sebagai alternatif transaksi perdagangan yang tidak bergantung pada dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, mekanisme tersebut dapat menjadi solusi ketika nilai tukar mata uang menghadapi tekanan.

“Nanti masing-masing negara mempunyai agen yang memfasilitasi,” kata Budi usai menyaksikan penandatanganan MoU di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (8/6).

Dalam kerja sama tersebut, pemerintah menunjuk PT Trade Barter Indonesia (TBI) sebagai agen yang menjembatani transaksi antara eksportir dan importir kedua negara.

Budi menilai barter dapat menjadi instrumen strategis untuk menjaga kelancaran perdagangan internasional tanpa harus bergantung pada pembayaran tunai dalam mata uang asing. Selain mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, skema ini juga dinilai mampu menghemat cadangan devisa negara.

“Skema imbal dagang yang terstruktur dengan baik dapat menjadi instrumen perdagangan di tengah ketidakpastian perdagangan global dan tekanan mata uang saat ini,” ujarnya.

Tukar tekstil dengan serat abaka

Kesepakatan pertama yang diteken melibatkan perusahaan Filipina Asian Pyrochem Technologies Inc. (APTI), PT Trade Barter Indonesia, dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia.

Melalui kerja sama tersebut, Indonesia akan mengekspor produk tekstil jadi dan sebagai gantinya memperoleh pasokan serat abaka mentah dari Filipina. Nilai transaksi barter ini mencapai US$50 juta per tahun.

Abaka merupakan serat alami yang banyak digunakan sebagai bahan baku tekstil, tali industri, hingga produk kertas khusus. Filipina selama ini dikenal sebagai salah satu produsen terbesar komoditas tersebut di dunia.

Sementara itu, MoU kedua melibatkan APTI, PT Trade Barter Indonesia, dan PT Krakatau Global Trading.

Dalam kesepakatan ini, Indonesia akan mengekspor produk baja, sementara Filipina memasok bijih besi yang dibutuhkan sebagai bahan baku industri baja nasional, khususnya untuk mendukung produksi grup Krakatau Steel.

Nilai transaksi dalam proyek ini jauh lebih besar, mencapai US$300 juta per tahun.

“Setelah diproses dari grup Krakatau Steel, kemudian baja tersebut kita ekspor ke Filipina,” kata Budi.

Menurutnya, model perdagangan seperti ini memungkinkan kedua negara memperoleh kebutuhan industrinya masing-masing tanpa harus mengeluarkan devisa untuk pembayaran impor.

Budi menegaskan sistem barter tidak terbatas pada komoditas yang saling melengkapi dalam satu rantai pasok. Berbagai produk dapat diperdagangkan melalui skema tersebut selama kedua pihak memperoleh manfaat seimbang.

Ia mencontohkan Indonesia pernah menerapkan mekanisme serupa dengan Mesir. Saat itu Indonesia mengimpor kurma dan mengekspor kopi sebagai imbalannya.

“Barter bisa untuk semua komoditas. Tidak harus saling melengkapi. Ini pernah dilakukan juga dengan Mesir. Waktu itu kita impor kurma, kita ekspor kopi,” ujarnya.

Karena itu, Kemendag akan terus mendorong penjajakan bisnis untuk komoditas lain melalui business matching yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dan Filipina.

CEO Asian Pyrochem Technologies Inc. (APTI), Harley Luis T. Leano, mengatakan pihaknya mendukung skema barter karena dapat membantu menyeimbangkan perdagangan kedua negara.

Menurutnya, mekanisme tersebut mempermudah pertukaran berbagai komoditas strategis seperti abaka, tembakau, bijih mineral dari Filipina, serta produk baja dan tekstil dari Indonesia.

“Kami mempromosikan barter ini untuk membantu memperbaiki keseimbangan perdagangan ekspor-impor dan mempermudah pertukaran produk antara kedua negara,” ujarnya. 

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana

Related Articles

See More