Jakarta, FORTUNE - Ambisi pemerintah menghentikan impor solar membuka babak baru bagi kebijakan energi nasional. Setelah pembuktian bertahun-tahun lewat B20, B30, hingga B40 yang menekan impor dan penghematan devisa, kini sorotan mengarah pada B50—campuran biodiesel yang disebut mampu membawa Indonesia menuju swasembada solar.
Namun, makin tinggi campuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME), kian besar pula tuntutan yang menyertainya, kesiapan infrastruktur distribusi, ketahanan pasokan CPO, kompatibilitas mesin industri dan transportasi, hingga koordinasi lintas kementerian agar target besar ini tidak justru tergelincir oleh persoalan teknis.
Di tengah rencana tersebut, pemerintah memilih untuk menunggu hasil uji B50.
Subkoordinator Pengawasan Usaha Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Herbert Wibert Victor Hasudungan, mengatakan bahwa sepanjang 2026, industri masih bertumpu pada B40 karena implementasi B50 menunggu rampungnya uji jalan berbagai moda transportasi.
Mayoritas uji jalan ditargetkan selesai Juni 2026, disusul kereta api pada Desember.
“Bulan Juni bisa selesai uji jalan, tetapi menunggu keputusan pimpinan,” kata dia saat Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 dengan tema “Dukungan Program Biodiesel bagi Kemandirian Energi dan Perekonomian Indonesia” yang diadakan oleh Majalah Sawit Indonesia, pekan lalu.
Ia menambahkan, pihaknya terus-menerus berdiskusi dengan seluruh pihak terkait dalam membahas persiapan implementasi B50.
Di balik kehati-hatian itu, berdasarkan data Kementerian ESDM, memang terjadi penghematan devisa sejak program biosolar ini dijalankan. Mulai dari US$0,29 miliar pada 2015 menjadi US$1,89 miliar pada 2018 saat B20 berjalan penuh.
Memasuki era B30 (2020–2022), penghematan melonjak ke kisaran US$2,6 miliar–3,8 miliar, dengan rekor Rp122,65 triliun pada 2021.
Pada 2023, implementasi B35 kembali mendorong penghematan hingga US$7,92 miliar, dan proyeksi B40 pada 2025 menunjukkan potensi efisiensi devisa mencapai US$9,33 miliar atau sekitar Rp147,5 triliun.
Meski ambisi B50 terus digaungkan, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Fadhil Hasan, menilai pemerintah memang seharusnya tidak tergesa-gesa melompat ke B50 sebelum memastikan penerapan B40 berjalan optimal. Menurutnya, target B40 pada 2026 sudah realistis dan sejalan dengan kondisi industri hari ini.
“Kita perlu meningkatkan produktivitas agar tidak terjebak dilema harus mengurangi ekspor demi kebutuhan biofuel dalam negeri,” kata Fadhil.
Indonesia harus mampu menjaga keseimbangan: memenuhi permintaan domestik sekaligus mempertahankan kinerja ekspor sawit.
Pandangan Fadhil berangkat dari sederet tantangan struktural yang masih membayangi ambisi B50.
Pertama, pasokan CPO diperkirakan belum siap menopang peningkatan campuran biodiesel, apalagi produksi sawit nasional tengah mengalami stagnasi.
Kedua, B50 masih berada pada tahap uji jalan, sehingga standar performa dan keamanan untuk berbagai moda transportasi belum sepenuhnya terverifikasi.
Ketiga, kesiapan infrastruktur, mulai dari fasilitas pencampuran, logistik, hingga kemampuan industri biofuel menambah kapasitas, masih harus dikejar agar transisi tidak menimbulkan bottleneck.
Tantangan lain, kata Fadhil, yang tidak kalah penting adalah skema pendanaan di balik mandatori biodiesel.
Porsi CPO yang lebih besar untuk B50 berpotensi mengurangi volume ekspor, yang secara otomatis menekan penerimaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit—lembaga yang justru menjadi penopang utama skema subsidi biodiesel.
“Kalau ekspor berkurang, penerimaan BPDP juga berkurang, sehingga bagaimana membiayai gap subsidi?” ujar Fadhil.
Menurutnya, opsi untuk menaikkan pungutan ekspor demi menutup kebutuhan dana malah membawa risiko lain, turunnya daya saing CPO Indonesia dan tekanan yang lebih besar bagi eksportir.
“Saya kira ini sudah benar, bahwa B40 tahun ini itu sudah benar. Udah tepat. Sambil kita misalnya meningkatkan produktivitas, dan produksi, sehingga kita tidak memiliki dilema antara harus mengurangi ekspor, untuk mengurangi kebutuhan dalam negeri untuk biofuel, jadi bisa mengurangi dua-duanya,” katanya.
