Tren Pindah Kantor, Indikasi Kepercayaan Dunia Usaha Mulai Pulih

- Pasar perkantoran Jakarta menunjukkan sinyal pemulihan kian nyata sepanjang 2025.
- Perusahaan tidak hanya memperpanjang masa sewa.
- Keterbatasan pasokan gedung baru berdampak pada strategi pemilik gedung.
Jakarta, FORTUNE - Pasar ruang perkantoran Jakarta mulai menunjukkan sinyal pemulihan yang makin nyata sepanjang 2025. Salah satu indikator terkuatnya adalah meningkatnya aktivitas perusahaan yang tidak hanya memperpanjang masa sewa, tetapi juga memutuskan pindah kantor hingga ekspansi. Fenomena ini dinilai mencerminkan tumbuhnya kembali kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek perekonomian ke depan.
Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan sepanjang 2025 pasar perkantoran di Jakarta bergerak ke arah yang lebih sehat.
“Pasokannya sangat terbatas, dan ini sebenarnya hal yang baik karena bisa meregulasi keseimbangan supply dan demand. Dari sisi demand memang masih moderat, tapi ada pertumbuhan meski tidak besar, dan ini sudah cukup positif,” ujar Ferry dalam taklimat pers secara virtual, Rabu (7/1).
Menurutnya, pasar perkantoran Jakarta sepanjang 2025 arahnya telah membaik. Pada paruh pertama tahun lalu, aktivitas pasar masih didominasi oleh perpanjangan sewa (lease renewal). Namun, situasinya mulai berubah pada paruh kedua ketika kian banyak perusahaan merelokasi kantor dan menambah ruang kerja.
“Ini menjadi sinyal penting bahwa kepercayaan bisnis mulai pulih dan pelaku usaha sudah melihat 2026 dengan lebih optimistis dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Ferry.
Keterbatasan pasokan gedung baru juga berdampak pada strategi pemilik gedung. Alih-alih menaikkan harga sewa secara agresif, pemilik gedung kini lebih fokus menjaga penyewa yang ada sekaligus meningkatkan kualitas properti.
Kondisi ini membuat pasar cenderung berpihak pada penyewa, meski gedung-gedung kelas A atau premium mulai menunjukkan kinerja lebih kuat.
Tren lain yang kian menguat adalah meningkatnya minat terhadap gedung perkantoran yang terintegrasi dengan transportasi publik, khususnya MRT.
Aksesibilitas kini menjadi faktor pembeda utama dalam pengambilan keputusan penyewa.
Selain itu, permintaan juga masih didorong oleh sektor teknologi, industri kendaraan listrik beserta ekosistemnya seperti baterai EV, serta masuknya perusahaan asing, terutama dari Cina dan Eropa.
Data Colliers Indonesia menunjukkan, hingga kuartal IV-2025 tingkat hunian perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta mencapai 75,8 persen.
Angka ini tumbuh sekitar 1,5 persen secara kuartalan dan meningkat sekitar 2 persen dibandingkan dengan 2024.
Keterbatasan pasokan baru menjadi faktor utama yang menopang perbaikan ini, meski persaingan di antara gedung-gedung lama masih cukup ketat.
Sementara itu, tingkat hunian perkantoran di luar CBD relatif stabil pada kisaran 70 persen. Kawasan ini masih menghadapi tekanan dari gedung-gedung CBD yang mulai menawarkan paket sewa lebih kompetitif.
Namun, di tengah kondisi tersebut, sejumlah gedung premium di CBD sudah mulai berani menaikkan harga sewa secara selektif.
Dari sisi tarif, penyesuaian harga sewa masih dilakukan secara hati-hati. Tarif sewa di CBD Jakarta yang sempat tertekan pascapandemi mulai menunjukkan stabilisasi dan kenaikan bertahap sepanjang 2025.
Di luar CBD, tarif bergerak lebih landai, mencerminkan upaya pemilik gedung menjaga daya saing. Dibandingkan Jakarta, tarif sewa perkantoran di Surabaya masih berada pada level lebih rendah, dengan pertumbuhan gradual.
Ke depan, Colliers memproyeksikan 2026 sebagai fase rebound bagi sektor perkantoran, meski pemulihannya masih bertahap.
Permintaan diperkirakan terus membaik, sementara pasokan tetap terkendali. Gedung-gedung dengan konsep green building dan efisiensi energi diprediksi akan menjadi primadona baru.
“Pasarnya memang belum euforia, tapi arahnya semakin sehat dan selektif. Kalau pasar sewa terus membaik, biasanya pasar jual akan mengikuti,” kata Ferry.


















