Jakarta, FORTUNE – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperkirakan konflik dengan Iran akan berakhir setelah pemilu sela AS pada November 2026. Pernyataan itu disampaikan ketika ia berada di Irlandia untuk menghadiri turnamen golf Amgen Irish Open, Minggu (13/9).
Trump mengatakan perang yang telah memasuki bulan ketujuh tersebut berpotensi berakhir sebelum pemilu sela, tetapi lebih mungkin selesai setelah pemungutan suara berlangsung.
“Perang ini bisa berakhir sebelum pemilu sela, tetapi akan berakhir setelah pemilu sela,” kata Trump kepada wartawan, dilansir Anadolu Ajansı, Senin (14/9),
Trump juga mengklaim pemerintah Iran berulang kali menghubungi Washington untuk mencari kesepakatan. Namun, ia menegaskan bahwa AS tidak akan menerima perjanjian yang dinilai merugikan kepentingannya.
“Mereka terus menelepon,” ujar Trump. “Saya tidak akan membuat kesepakatan yang tidak bagus.”
Pernyataan tersebut bukan kali pertama Trump mengaitkan berakhirnya perang dengan agenda politik domestik AS. Pada Rabu (9/9/), ia juga memperkirakan konflik akan berakhir “segera setelah” pemilu sela November. Trump juga menyebut Iran tidak akan mampu bertahan lebih lama di bawah tekanan ekonomi AS.
Melansir Reuters, perang tersebut telah meningkatkan ketidakpastian di pasar energi. Harga minyak acuan Brent bahkan sempat menembus US$100 per barel setelah eskalasi serangan terhadap kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute penting bagi pengiriman minyak dunia.
Bagi konsumen AS, dampak konflik terlihat dari kenaikan harga bahan bakar. Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin di AS mencapai US$4,31 per galon pada Minggu. Angka itu naik dari US$4,07 per galon sebulan sebelumnya dan US$3,19 per galon pada periode yang sama tahun lalu.
Trump menyatakan harga bahan bakar domestik akan turun tajam setelah perang berakhir. Ia bahkan membuka kemungkinan harga bensin dapat ditekan hingga di bawah US$2 per galon, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan sebelumnya.
Klaim Trump mengenai komunikasi antara Teheran dan Washington langsung dibantah oleh Iran. Kantor berita Mehr News Agency menyebut pernyataan tersebut sebagai sesuatu yang “absurd”.
Iran menilai klaim itu merupakan upaya Trump untuk mengalihkan perhatian dari tekanan ekonomi di dalam negeri AS, yang salah satunya dipicu oleh kenaikan harga energi akibat konflik.
Di tengah perbedaan pernyataan tersebut, belum terdapat kepastian mengenai adanya kesepakatan konkret antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang. Trump memang menyatakan terbuka terhadap perundingan, tetapi pada saat yang sama tetap menekankan bahwa setiap kesepakatan harus memberikan keuntungan bagi Washington.
Trump juga kembali menegaskan bahwa salah satu tujuan utama operasi militer AS terhadap Iran adalah mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir. “Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
