Jakarta, FORTUNE – PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) membukukan laba bersih Rp1,01 triliun pada kuartal III-2026. Perolehan ini naik tujuh persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp945 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini ditopang oleh perluasan pembiayaan inklusif dan pengelolaan risiko bank.
Penyaluran pembiayaan BTPN Syariah meningkat 13 persen (YoY) menjadi Rp11 triliun. Angka ini berada di atas rata-rata industri perbankan syariah nasional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2026, pertumbuhan pembiayaan industri mencapai 11,61 persen (YoY) dengan nilai Rp748,7 triliun.
Peningkatan pembiayaan tersebut sejalan dengan perbaikan kualitas aset. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing finance (NPF) gross turun menjadi 2,49 persen. Rasio ini menyusut dari posisi September 2025 pada level 3,06 persen.
Direktur BTPN Syariah, Fachmy Achmad, menyampaikan penjelasan kinerja ini dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (23/10).
"Pertumbuhan laba yang kami raih tidak terlepas dari kualitas pembiayaan yang makin sehat. Hal ini mencerminkan semakin kuatnya disiplin dan kapasitas nasabah dalam menjalankan usaha, sekaligus menunjukkan efektivitas pendekatan pendampingan yang menjadi bagian dari model bisnis BTPN Syariah,” kata Fachmy.
Dalam pengoperasiannya, BTPN Syariah berfokus pada segmen pasar massal. Bank menyasar kelompok perempuan produktif. Bank menjalankan kolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan guna memperluas akses pembelajaran, kapasitas usaha, dan literasi keuangan nasabah.
Bank juga memperluas akses pembiayaan individu melalui produk Tepat Imbang serta menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan non-bank. Di sisi pendanaan, bank menyediakan produk Cash Waqf Linked Deposit (CWLD) guna mengintegrasikan ekonomi dan dampak sosial.
Kinerja operasional turut tecermin dari dua indikator permodalan dan profitabilitas. Return on asset (RoA) bank tercatat pada 7,3 persen. Adapun capital adequacy ratio (CAR) berada pada level 59 persen.
"Kami percaya bahwa pertumbuhan yang berkualitas merupakan fondasi utama untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Fachmy.
