Jakarta, FORTUNE – Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai mengubah cara divisi human resources (HR) bekerja. Makin banyak berbagai pekerjaan administratif yang selama ini menyita waktu, mulai dari penyaringan kandidat, pengelolaan absensi, hingga proses reimbursement, yang diotomatisasi.
Pergeseran ini membuat HR tidak lagi hanya berperan sebagai pengelola administrasi kepegawaian, tetapi juga dituntut menjadi mitra strategis dalam mendukung keputusan bisnis.
Chief Executive Officer Mekari, Suwandi Soh, menilai AI tidak dirancang menggantikan peran tenaga kerja pada divisi HR. Sebaliknya, teknologi tersebut bertujuan mengurangi beban pekerjaan yang bersifat repetitif sehingga para profesional HR dapat lebih berkonsentrasi pada tugas utamanya.
"Pada akhirnya, pertumbuhan bisnis selalu dimulai dari pengelolaan manusia yang tepat," kata Suwandi dalam keterangannya yang dikutip Senin (20/7).
Menurut dia, perusahaan saat ini membutuhkan sistem pengelolaan SDM yang tidak hanya menangani administrasi kepegawaian, tetapi juga mampu menghubungkan data HR dengan fungsi bisnis lain, seperti keuangan, perpajakan, hingga operasional, sehingga menghasilkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan berbasis data.
Transformasi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi perusahaan terhadap fungsi HR. Selain memastikan pengoperasian, seperti penggajian, absensi, dan administrasi berjalan lancar, HR kini dituntut mampu menyajikan analisis mengenai produktivitas, risiko turnover, hingga strategi pengembangan talenta.
Di sisi lain, jumlah staf HR pada banyak perusahaan tetap terbatas, sementara ekspektasi karyawan, khususnya generasi milenial dan gen Z, terhadap pengalaman kerja terus meningkat.
Fenomena itu juga tecermin pada hasil PwC Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025. Sebanyak 69 persen pekerja Indonesia mengaku telah menggunakan AI dalam pekerjaannya selama setahun terakhir, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 54 persen.
Namun, penggunaan AI generatif secara rutin masih relatif rendah. Hanya 16 persen tenaga kerja Indonesia yang menggunakannya setiap hari.
PwC juga menemukan adanya kesenjangan kesiapan sumber daya manusia. Sebanyak 89 persen eksekutif senior merasa memiliki akses terhadap pelatihan AI yang memadai, sementara pada level nonmanajerial angkanya hanya 64 persen.
Sementara itu, Gartner dalam Hype Cycle for AI in Human Resources 2025 menyatakan hampir separuh inovasi AI pada bidang HR masih berada pada tahap awal (innovation trigger).
Gartner merekomendasikan perusahaan untuk memprioritaskan implementasi AI pada fungsi yang telah terbukti matang, seperti rekrutmen dan manajemen talenta, sebelum mengadopsi teknologi AI yang lebih kompleks.
Temuan serupa disampaikan Mercer melalui Global Talent Trends 2026. Berdasarkan survei terhadap hampir 12.000 eksekutif C-suite, pemimpin HR, investor, dan karyawan di berbagai negara, sebanyak 63 persen eksekutif menempatkan integrasi AI dan otomatisasi sebagai prioritas utama untuk meningkatkan return on investment (ROI). Sebaliknya, divisi HR masih lebih banyak berfokus pada peningkatan pengalaman karyawan guna menarik dan mempertahankan talenta terbaik.
Mercer juga mencatat tingkat keyakinan para eksekutif terhadap kesiapan organisasi menghadapi era kolaborasi manusia dan mesin justru menurun, dari 65 persen pada 2024 menjadi 51 persen pada 2026.
