Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AI Ambil Alih Tugas Administratif HR, Apa Dampaknya Bagi Perusahaan?
Ilustrasi AI https://unsplash.com/photos/a-brain-over-cpu-represents-artificial-intelligence-sv2SuTA-9ug
  • AI mulai mengotomatisasi tugas administratif HR seperti rekrutmen, absensi, dan reimbursement, sehingga peran HR bergeser menjadi mitra strategis dalam pengambilan keputusan bisnis berbasis data.
  • Survei PwC dan Gartner menunjukkan adopsi AI di HR meningkat, namun kesiapan SDM masih timpang antara level eksekutif dan nonmanajerial serta banyak inovasi masih pada tahap awal.
  • Penerapan AI terbukti meningkatkan efisiensi hingga 85 persen di beberapa perusahaan, namun tata kelola data, privasi, dan peningkatan kompetensi tetap krusial agar manfaatnya optimal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penerapan AI dalam fungsi HR tampak membawa arah positif bagi perusahaan, karena teknologi ini membantu mengurangi beban administratif dan membuka ruang bagi profesional HR untuk berfokus pada pengembangan manusia serta strategi bisnis. Dengan otomatisasi yang terbukti meningkatkan efisiensi hingga 85 persen, AI turut memperkuat kualitas keputusan berbasis data tanpa meniadakan peran empati manusia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai mengubah cara divisi human resources (HR) bekerja. Makin banyak berbagai pekerjaan administratif yang selama ini menyita waktu, mulai dari penyaringan kandidat, pengelolaan absensi, hingga proses reimbursement, yang diotomatisasi.

Pergeseran ini membuat HR tidak lagi hanya berperan sebagai pengelola administrasi kepegawaian, tetapi juga dituntut menjadi mitra strategis dalam mendukung keputusan bisnis.

Chief Executive Officer Mekari, Suwandi Soh, menilai AI tidak dirancang menggantikan peran tenaga kerja pada divisi HR. Sebaliknya, teknologi tersebut bertujuan mengurangi beban pekerjaan yang bersifat repetitif sehingga para profesional HR dapat lebih berkonsentrasi pada tugas utamanya.

"Pada akhirnya, pertumbuhan bisnis selalu dimulai dari pengelolaan manusia yang tepat," kata Suwandi dalam keterangannya yang dikutip Senin (20/7).

Menurut dia, perusahaan saat ini membutuhkan sistem pengelolaan SDM yang tidak hanya menangani administrasi kepegawaian, tetapi juga mampu menghubungkan data HR dengan fungsi bisnis lain, seperti keuangan, perpajakan, hingga operasional, sehingga menghasilkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan berbasis data.

Transformasi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi perusahaan terhadap fungsi HR. Selain memastikan pengoperasian, seperti penggajian, absensi, dan administrasi berjalan lancar, HR kini dituntut mampu menyajikan analisis mengenai produktivitas, risiko turnover, hingga strategi pengembangan talenta.

Di sisi lain, jumlah staf HR pada banyak perusahaan tetap terbatas, sementara ekspektasi karyawan, khususnya generasi milenial dan gen Z, terhadap pengalaman kerja terus meningkat.

Fenomena itu juga tecermin pada hasil PwC Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025. Sebanyak 69 persen pekerja Indonesia mengaku telah menggunakan AI dalam pekerjaannya selama setahun terakhir, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 54 persen.

Namun, penggunaan AI generatif secara rutin masih relatif rendah. Hanya 16 persen tenaga kerja Indonesia yang menggunakannya setiap hari.

PwC juga menemukan adanya kesenjangan kesiapan sumber daya manusia. Sebanyak 89 persen eksekutif senior merasa memiliki akses terhadap pelatihan AI yang memadai, sementara pada level nonmanajerial angkanya hanya 64 persen.

Sementara itu, Gartner dalam Hype Cycle for AI in Human Resources 2025 menyatakan hampir separuh inovasi AI pada bidang HR masih berada pada tahap awal (innovation trigger).

Gartner merekomendasikan perusahaan untuk memprioritaskan implementasi AI pada fungsi yang telah terbukti matang, seperti rekrutmen dan manajemen talenta, sebelum mengadopsi teknologi AI yang lebih kompleks.

Temuan serupa disampaikan Mercer melalui Global Talent Trends 2026. Berdasarkan survei terhadap hampir 12.000 eksekutif C-suite, pemimpin HR, investor, dan karyawan di berbagai negara, sebanyak 63 persen eksekutif menempatkan integrasi AI dan otomatisasi sebagai prioritas utama untuk meningkatkan return on investment (ROI). Sebaliknya, divisi HR masih lebih banyak berfokus pada peningkatan pengalaman karyawan guna menarik dan mempertahankan talenta terbaik.

Mercer juga mencatat tingkat keyakinan para eksekutif terhadap kesiapan organisasi menghadapi era kolaborasi manusia dan mesin justru menurun, dari 65 persen pada 2024 menjadi 51 persen pada 2026.

Bukan hanya mengejar efisiensi operasional

Di tengah perubahan tersebut, sejumlah perusahaan teknologi mulai menghadirkan solusi AI yang menyasar fungsi-fungsi administratif HR. Salah satunya Mekari, melalui platform Mekari Talenta yang mengembangkan berbagai fitur AI demi membantu proses penyaringan kandidat, merangkum hasil evaluasi kinerja, memprediksi potensi karyawan mengundurkan diri, memverifikasi absensi, hingga memproses pengajuan reimbursement sekaligus mendeteksi indikasi kecurangan.

Head of Business Mekari Talenta, Stevens Jethefer, mengatakan adopsi AI pada bidang HR tidak lagi sekadar mengejar efisiensi operasional, tetapi juga meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

"Ketika screening kandidat berjalan otomatis, validasi reimbursement dibantu AI, dan data karyawan tersaji jelas, tim HR bisa fokus pada hal yang benar-benar membutuhkan penilaian manusia," ujarnya.

Menurut Stevens, AI memungkinkan tim HR mengalihkan waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan administratif ke aktivitas yang memiliki nilai tambah lebih besar, seperti pengembangan kompetensi karyawan, perencanaan suksesi, hingga penyusunan strategi organisasi.

Penerapan AI juga mulai menunjukkan hasil di lapangan. Salah satu perusahaan pada sektor klinik estetika dengan lebih dari 1.400 karyawan yang tersebar di 49 cabang mengklaim mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan absensi hingga 85 persen setelah menerapkan sistem verifikasi berbasis AI.

Perusahaan itu juga menyebut sekitar 90 persen komponen perhitungan payroll kini berjalan secara otomatis, sehingga tim HR dapat lebih fokus pada pengembangan SDM ketimbang pekerjaan administratif.

Meski demikian, para pelaku industri menilai adopsi AI pada fungsi HR tetap memerlukan tata kelola matang. Kualitas data, perlindungan privasi karyawan, serta peningkatan kompetensi SDM menjadi faktor penting agar pemanfaatan AI benar-benar meningkatkan produktivitas, bukan sekadar menggantikan proses manual.

Ke depan, Stevens memperkirakan AI akan kian banyak mengambil alih pekerjaan administratif pada divisi HR. Namun, keputusan yang berkaitan dengan kepemimpinan, pengembangan talenta, budaya organisasi, hingga penilaian terhadap manusia tetap akan bergantung pada pertimbangan dan empati yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

"Adopsi AI di HR bukan soal efisiensi semata, ini soal kualitas keputusan,” ujarnya.

 

Curated For You

Editorial Team

Related Article