Akamai Perluas Bisnis Cloud, Bidik Peluang dari Adopsi AI Korporasi

Akamai meluncurkan Akamai Inference dan Akamai Agent Sandbox untuk mendukung pengembangan, pengoperasian, serta keamanan AI perusahaan melalui satu platform cloud.
Layanan tersebut memanfaatkan jaringan cloud global Akamai dan infrastruktur CPU, GPU, penyimpanan, jaringan, serta keamanan untuk pemrosesan AI.
Akamai memperluas kapasitas GPU, termasuk NVIDIA Blackwell Ultra, untuk memenuhi kebutuhan model AI besar dan pekerjaan berbasis agen.
Jakarta, FORTUNE — Perusahaan teknologi AS, Akamai Technologies memperluas bisnis infrastruktur cloud dengan meluncurkan dua layanan baru berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yakni Akamai Inference dan Akamai Agent Sandbox. Langkah ini menyasar kebutuhan perusahaan yang mulai menggunakan AI untuk mendukung kegiatan operasional dan layanan bisnis.
Menurut perusahaan, kedua produk tersebut memungkinkan perusahaan mengembangkan dan menjalankan model AI, menghubungkannya dengan data internal, serta mengoperasikan agen AI dalam lingkungan yang lebih aman melalui satu platform cloud.
Ekspansi ini menjadi bagian dari strategi Akamai untuk menangkap peluang pertumbuhan pasar infrastruktur AI. Seiring meningkatnya penggunaan AI di dunia usaha, kebutuhan perusahaan tidak lagi sebatas akses terhadap model AI, tetapi juga mencakup kapasitas komputasi, pengelolaan data, jaringan, dan keamanan untuk menjalankan teknologi tersebut.
Chief Operating Officer sekaligus General Manager Akamai Cloud, Adam Karon mengatakan, perusahaan memandang layanan AI inference sebagai salah satu kebutuhan utama yang akan mendorong investasi infrastruktur teknologi ke depan.
“Kami telah menjalankan strategi infrastruktur AI berdasarkan keyakinan bahwa AI inference akan menjadi fokus utama dan area investasi terbesar bagi perusahaan. Pelanggan kami membuktikan bahwa keyakinan tersebut benar dan mendorong kami untuk melangkah lebih jauh,” ujar Adam dalam keterangan tertulis, Selasa (3/11).
Menurutnya, pelanggan saat ini membutuhkan infrastruktur terintegrasi agar dapat mengembangkan, menjalankan, sekaligus melindungi aplikasi AI tanpa harus mengandalkan banyak penyedia layanan berbeda.
“Mereka ingin membangun, menjalankan, dan melindungi AI pada platform yang sama,” ujarnya.
Akamai Inference dan Akamai Agent Sandbox menambahkan lapisan inference dan eksekusi yang melengkapi infrastruktur AI menjadi sebuah ekosistem AI yang utuh, sementara portofolio keamanan melindungi setiap lapisannya.
Dengan demikian, Akamai berada pada posisi tepat untuk memanfaatkan skala dan jangkauan global dalam menjawab tantangan penskalaan inference real time dan workload agen AI.
Akamai mengembangkan layanan tersebut dengan memanfaatkan jaringan cloud global yang mencakup lebih dari 4.350 lokasi edge. Infrastruktur ini menggabungkan prosesor CPU, GPU, penyimpanan cloud, jaringan, dan sistem keamanan untuk mendukung pemrosesan AI lebih dekat dengan pengguna maupun sumber data.
Perusahaan menyebut infrastruktur Akamai Cloud telah mendukung perolehan kontrak multi tahunan dengan nilai kumulatif lebih dari US$14 miliar. Namun, nilai tersebut merupakan kontrak infrastruktur cloud secara keseluruhan, bukan khusus dari bisnis AI.
Perluas Layanan AI Perusahaan
Melalui Akamai Inference, perusahaan menyediakan akses ke berbagai model AI tanpa mengharuskan pelanggan mengelola sendiri seluruh infrastruktur teknis di belakangnya.
Layanan ini memungkinkan perusahaan menggunakan model AI open-weight maupun model yang dikembangkan sendiri melalui antarmuka pemrograman aplikasi (application programming interface/API) yang kompatibel dengan OpenAI.
Pada tahap awal, Akamai menyediakan 12 model AI open-weight dengan kapasitas mulai dari 8 miliar hingga 2,8 triliun parameter. Beberapa di antaranya adalah NVIDIA Nemotron 3 Ultra, OpenAI gpt-oss-120b, dan Google Gemma 4.
Selain layanan inference, Akamai memperkenalkan Agent Sandbox untuk menjawab kebutuhan perusahaan dalam mengoperasikan agen AI.
Berbeda dengan model AI yang umumnya merespons perintah pengguna, agen AI dapat menjalankan serangkaian tugas secara mandiri, termasuk menulis dan mengeksekusi kode. Kemampuan tersebut membuka peluang otomatisasi pekerjaan, tetapi sekaligus meningkatkan risiko keamanan apabila agen memperoleh akses terlalu luas terhadap sistem perusahaan.
Untuk mendukung ekspansi layanan, Akamai juga memperluas kapasitas komputasi melalui penambahan klaster GPU NVIDIA Blackwell Ultra. Perusahaan menyiapkan infrastrukturnya untuk mendukung platform NVIDIA Vera Rubin pada 2027.
GPU merupakan komponen penting dalam infrastruktur AI karena digunakan untuk menjalankan proses komputasi yang membutuhkan kapasitas besar, mulai dari pengembangan model hingga pengoperasian layanan AI.
Portofolio GPU Akamai kini mencakup NVIDIA RTX PRO 6000 Blackwell Server Edition untuk kebutuhan pemrosesan AI berlatensi rendah serta klaster NVIDIA Blackwell Ultra bagi perusahaan yang ingin membangun, mengembangkan, dan menjalankan model AI sendiri.
Setiap klaster Blackwell Ultra terdiri atas delapan GPU dengan kapasitas memori HBM3e sebesar 288 GB per GPU atau total 2,3 TB. Kapasitas tersebut memungkinkan perusahaan menjalankan model AI berukuran besar dan menangani pekerjaan berbasis agen yang membutuhkan pemrosesan data dalam jumlah besar.
Penggunaan GPU khusus juga memberikan kendali lebih besar kepada perusahaan atas model yang memberikan kendali lebih besar kepada perusahaan atas model yang dijalankan. Selain itu, pelanggan tidak perlu berbagi kapasitas komputasi dengan banyak pengguna lain sehingga dapat menghindari pembatasan penggunaan dan antrean pemrosesan.
Senior Vice President Cloud Technology Akamai Jon Alexander mengatakan, perusahaan membutuhkan fleksibilitas dalam memilih infrastruktur sesuai kebutuhan pengembangan AI.
“Perusahaan seharusnya tidak perlu memilih antara kecepatan dan kendali ketika menerapkan AI pada fase produksi," ujar Jon.


















