Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Autonomous Business Diprediksi Jadi Fase Baru Transformasi AI

Autonomous Business Diprediksi Jadi Fase Baru Transformasi AI
Kecerdasan buatan sebagai teknologi yang berpotensi dimanfaatkan untuk hoaks AI voice manipulation. (istockphoto.com)
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong dunia usaha memasuki tahap baru transformasi digital yang dikenal sebagai autonomous business. Berbeda dengan digitalisasi konvensional yang berfokus pada otomatisasi proses, pendekatan ini memungkinkan sistem menganalisis data, mengambil keputusan, hingga menjalankan tindakan secara mandiri untuk menciptakan nilai bisnis baru.

Konsep tersebut dinilai menjadi evolusi berikutnya setelah perusahaan selama bertahun-tahun berinvestasi dalam digitalisasi operasional. Jika pada model digitalisasi tradisional manusia masih memegang peran utama dalam menganalisis data dan menentukan langkah bisnis, autonomous business memungkinkan sistem merespons perubahan secara real-time tanpa intervensi manusia.

Senior Vice President PT Multipolar Technology Tbk, Achmad Fakhrudin, menjelaskan penerapan konsep tersebut telah mulai terlihat di berbagai sektor industri.

Di sektor ritel, misalnya, sistem dapat memprediksi kebutuhan stok saat musim promosi dan secara otomatis melakukan proses pengadaan barang. Sementara di industri keuangan, teknologi tersebut mampu mendeteksi transaksi yang tidak biasa dan langsung melakukan pemblokiran tanpa harus menunggu persetujuan manusia.

Pada lingkungan teknologi informasi, sistem bahkan dapat mengidentifikasi aplikasi yang mengalami penurunan performa, menemukan akar masalah, lalu melakukan perbaikan secara otomatis.

“Secara keseluruhan, autonomous business mengubah perusahaan dari yang awalnya bersifat reaktif (menunggu perintah atau kejadian) menjadi antisipatif dan proaktif,” katanya Dalam forum Digital & Security Forum 2026 bertajuk AI-Driven Enterprise: AIOps & Intelligent Security for the Autonomous Era di Bali, mengutip keterangan resmi, Selasa (2/6).

Kemampuan meningkatkan efisiensi sekaligus daya saing membuat autonomous business diperkirakan menjadi salah satu fokus utama perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.

Survei Gartner menunjukkan 80 persen CEO global memperkirakan AI akan mendorong perubahan operasional pada tingkat menengah hingga tinggi, sekaligus menggeser fokus perusahaan dari digital business menuju autonomous business.

Meski demikian, implementasi konsep tersebut membutuhkan fondasi teknologi yang matang. Langkah awal yang harus dilakukan perusahaan adalah membangun visibilitas menyeluruh terhadap operasional bisnis, mulai dari performa layanan, kemampuan skalabilitas, reliabilitas sistem, ketahanan infrastruktur, hingga aspek keamanan.

Tanpa kemampuan memantau kondisi sistem secara menyeluruh, perusahaan dinilai akan kesulitan membangun mekanisme yang mampu merespons perubahan secara otomatis dan akurat.

Diprediksi dampak autonomous business tidak hanya berkaitan dengan modernisasi teknologi, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kinerja bisnis. Pengalaman pelanggan yang lebih baik dapat meningkatkan tingkat konversi dan kepuasan pengguna, sementara skalabilitas yang lebih tinggi membantu perusahaan merespons pertumbuhan kebutuhan bisnis secara lebih cepat.

Di sisi lain, reliabilitas dan resiliensi sistem berperan menjaga kontinuitas layanan agar tetap berjalan optimal di tengah meningkatnya kompleksitas operasional.

Keamanan juga menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari penerapan autonomous business. Semakin tinggi tingkat digitalisasi perusahaan, semakin besar pula potensi ancaman siber, risiko kepatuhan, hingga kebocoran data yang dapat berdampak pada reputasi perusahaan.

“Oleh karena itu, penerapan sistem autonomous business harus dibangun di atas fondasi keamanan yang kuat dan berkelanjutan,” katanya.

Untuk mewujudkan autonomous business, perusahaan membutuhkan platform AIOps yang mampu mengintegrasikan berbagai komponen infrastruktur teknologi informasi, mulai dari bare metal, virtual machine, aplikasi, sistem operasi, cloud, database, sistem keamanan, hingga perangkat backup dan recovery.

Integrasi tersebut memungkinkan pemanfaatan machine learning, otomatisasi proses, serta dukungan large language model (LLM) guna menghasilkan respons yang lebih cepat, cerdas, dan terkoordinasi.

Ke depan, autonomous business diperkirakan akan menjadi fondasi utama bagi perusahaan yang ingin membangun AI-driven enterprise. Dengan dukungan observabilitas, AIOps, dan kemampuan self-healing, sistem tidak hanya mampu merespons gangguan, tetapi juga memprediksi, mengantisipasi, dan memperbaiki masalah secara otomatis.

Pendekatan ini diyakini dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan, serta menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih baik di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat.

Menurut Achmad, banyak solusi yang mendukung pengimplementasian autonomous business. Namun, untuk menentukan solusi yang paling tepat dan mengimplementasikannya ke dalam sistem bisnis perusahaan dengan baik, tidak mudah.

"Sebelum mengaplikasikannya ke dalam sistem bisnis, ada baiknya tim TI perusahaan menghubungi perusahaan solution integrator yang berpengalaman, kami juga siap membantu,” ujarnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More

Autonomous Business Diprediksi Jadi Fase Baru Transformasi AI

02 Jun 2026, 13:41 WIBTech