Jakarta, FORTUNE - Perusahaan pengembang sistem nirawak asal Denmark, Sky-Watch, memperkenalkan RQ-70 Dainn, drone jarak jauh generasi terbaru yang dirancang untuk mendukung misi intelijen, pengawasan, pengintaian (ISR), hingga akuisisi target. Produk tersebut akan diperkenalkan secara resmi dalam ajang Eurosatory di Paris, Prancis, pada 15–19 Juni 2026.
Peluncuran RQ-70 Dainn menjadi bagian dari strategi Sky-Watch untuk memperluas pijakan di pasar drone pertahanan global yang terus berkembang. Produk ini hadir di tengah meningkatnya kebutuhan militer terhadap sistem tanpa awak yang mampu beroperasi secara fleksibel dan cepat beradaptasi dengan dinamika medan tempur modern.
Sejumlah lembaga riset memperkirakan pasar drone militer dunia akan terus bertumbuh seiring meningkatnya belanja pertahanan dan perubahan strategi perang yang semakin mengandalkan teknologi nirawak. Data Fortune Business Insights menunjukkan nilai pasar drone militer global diperkirakan mencapai sekitar US$20,8 miliar pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi lebih dari US$30 miliar pada 2034.
Menurut Sky-Watch, dinamika peperangan saat ini berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan banyak sistem pertahanan konvensional untuk beradaptasi. Siklus pengembangan yang panjang, kompleksitas platform, serta keterbatasan dalam mendukung pengambilan keputusan secara cepat dinilai menjadi tantangan utama bagi teknologi pertahanan generasi sebelumnya.
Sky-Watch mengembangkan RQ-70 Dainn berdasarkan pengalaman operasional selama empat tahun di Ukraina melalui platform UAV RQ-35 Heidrun. Pengalaman tersebut menjadi dasar pengembangan sistem yang dirancang agar siap digunakan sejak hari pertama penugasan sekaligus mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan misi.
“RQ-70 Dainn tidak dikembangkan berdasarkan asumsi, melainkan berlandaskan platform UAV RQ-35 Heidrun yang telah terbukti di medan perang dan terus disempurnakan melalui umpan balik yang berkelanjutan,” ujar Martin Schousboe, CEO Sky-Watch, dalam keterangan resmi, Rabu (17/6).
Ia mengatakan tantangan utama dalam pengembangan teknologi pertahanan saat ini bukan lagi sekadar menghadirkan inovasi baru, melainkan memastikan teknologi tersebut tetap dapat diandalkan dalam situasi kritis dan mampu mengikuti perubahan karakter peperangan modern.
Dari sisi spesifikasi, RQ-70 Dainn dirancang untuk menghadirkan jangkauan operasi yang lebih luas, daya tahan terbang yang lebih lama, serta fleksibilitas misi yang lebih tinggi dibandingkan pendahulunya. Sistem ini mampu beroperasi hingga delapan jam dan menjalankan misi ISR pada jarak hingga 100 kilometer di luar garis depan.
Drone tersebut juga mengusung kemampuan lepas landas dan pendaratan vertikal (VTOL), arsitektur muatan modular yang memungkinkan integrasi berbagai sensor dan perangkat misi, serta kemampuan beroperasi di lingkungan yang tidak memiliki akses GPS.
Keunggulan lain terletak pada kemudahan operasionalnya. RQ-70 Dainn dapat dijalankan oleh satu operator dan terhubung dengan ekosistem medan perang digital, sehingga memungkinkan penyampaian data intelijen secara berkelanjutan di lingkungan operasional berisiko tinggi.
Sky-Watch menekankan bahwa pengembangan RQ-70 Dainn tidak berfokus pada platform drone semata, melainkan pada kemampuan operasional yang dihasilkan dari integrasi perangkat keras dan perangkat lunak dalam satu sistem yang utuh.
“RQ-70 Dainn dirancang sebagai sebuah sistem terpadu, di mana pesawat udara, sensor, perangkat lunak, antarmuka, serta siklus umpan balik bekerja terkonsolidasi dan terus disempurnakan berdasarkan pengalaman operasional di lapangan,” katanya.
