Comscore Tracker
TECH

Kominfo Menyatakan 5G Aman Untuk Keselamatan Penerbangan

Kuncinya guard band selebar 600 MHz.

Kominfo Menyatakan 5G Aman Untuk Keselamatan PenerbanganPemandangan jet bisnis dan pesawat kecil di Bandara Eksekutif Henderson selama Pameran dan Konvensi NBAA Bisnis Aviasi di Henderson, Nevada, Amerika Serikat, Selasa (12/10/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Steve Marcus/HP/djo

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G. Plate, menyatakan 5G di Indonesia tidak membahayakan keselamatan penerbangan. Menurutnya, implementasi teknologi jaringan tersebut di dalam negeri berbeda dengan Amerika Serikat (AS).

"Pengaturan frekuensi 5G di Indonesia dapat dikatakan relatif aman. Hal ini disebabkan tersedianya guard band selebar 600 MHz yang membentang mulai dari frekuensi 3,6 GHz sampai dengan 4,2 GHz, guna membentengi radio altimeter dari 5G. Guard band sebesar itu hampir 3 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan yang disediakan di AS,” katanya, dalam keterangan resmi, Rabu (19/1).

Pemerintah menanggapi kekhawatiran yang tengah terjadi di AS saat ini, yang menyoroti potensi 5G dalam menganggu keselamatan penerbangan. Menurut Reuters, Selasa (18/1), sejumlah operator telekomunikasi AS, yakni AT&T dan Verizon Communications, sepakat untuk menunda pelaksanaan 5G di sejumlah menara nirkabel dekat bandara demi mencegah gangguan pada operasional penerbangan.

Menurut Johnny, pengaturan frekuensi 5G di AS menggunakan pita frekuensi 3,7-3,98 GHz. Sedangkan, Indonesia pada rentang 3,4-3,6GHZ. Sementara, layanan 5G saat ini dioperasikan secara komersial oleh tiga operator seluler nasional, yakni Telkomsel, Indosat, dan XL, yang menggunakan dua pita frekuensi selululer yang telah ada, yaitu 1800MHz dan 2,3 GHz.

Frekuensi yang bersinggungan dengan radio altimeter

Pemerintah nantinya juga bakal memanfaatkan pita frekuensi lebih rendah, yaitu 3,5GHz yang berada pada rentang 3,4 sampai 3,6 GHz.

“Kominfo senantiasa menjaga setiap komunikasi yang memanfaatkan sumber daya spektrum frekuensi radio bebas dari gangguan atau interferensi, terlebih radio altimeter, suatu sistem yang berkaitan erat dengan keselamatan penerbangan,” ujarnya.

Badan Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS) juga menghawatirkan risiko yang dapat dibawa 5G pada radio altimeter pesawat. Sebab, 5G memanfaatkan frekuensi spektrum jaringan C-Band.

Masalahnya, radio altimeter juga bergantung pada bagian spektrum yang bersebelahan dengan gelombang udara yang digunakan oleh C-Band tersebut. Dalam skenario terburuk, menurut FAA, sinyal yang dikirim melalui C-Band ini dapat menganggu radio altimeter.

Langkah mitigasi risiko 5G

Menanggapi isu tersebut, pengamat penerbangan nasional, Gerry Soejatman, mengatakan potensi dampak 5G hanya berfokus pada radio altimeter terutama ketika menerapkan prosedur sistem pendaratan instrumen kategori II dan III. Sistem pendaratan dengan kategori ini biasanya digunakan pada saat cuaca buruk.

Dia menambahkan, gangguan 5G terhadap radio altimeter juga dapat mempengaruhi informasi mengenai kinerja pesawat. “Yang dikhawatirkan adalah 5G ini bisa mengakibatkan radio altimeternya salah kasih angka, salah kasih nilai,” katanya kepada Fortune Indonesia.

Namun, risiko 5G terhadap keselamatan penerbangan diharapkan dapat diantisipasi dengan baik, kata Gerry. Caranya, para pelaku penerbangan beserta stakeholeder terkait dapat mengurangi pemancar 5G di sekitar bandara, atau menggunakan frekuensi yang berbeda dari radio altimeter.

“Pabrik-pabrik pesawat juga sudah mengeluarkan safety buletin untuk mitigasi sementara mengenai hal ini,” ujarnya.

Related Articles