Comscore Tracker
TECH

Kinerja Saham Raksasa Teknologi AS Kompak Anjlok, Sinyal Suram?

Apakah hanya karena perekonomian tengah sulit?

Kinerja Saham Raksasa Teknologi AS Kompak Anjlok, Sinyal Suram?Shuterstock/Michael Vi

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Sejumlah perusahaan teknologi AS diduga mulai terdampak oleh penurunan kinerja ekonomi serta iklim kompetisi yang keras. Belakangan, beberapa raksasa seperti Meta, Apple, Amazon, hingga Alphabet kompak membukukan penurunan saham.

Mengutip Google Finance, Jumat (28/10), saham Meta, yang merupakan induk Facebook dan Instagram, misalnya, dalam sebulan terakhir turun 30,84 persen. Sedangkan induk dari Google dan Youtube, Alphabet, membukukan penurunan shaam hingga 7,83 persen. Lalu, saham Apple periode sama terkoreksi 3,36 persen, dan raksasa e-commerce Amazon 5,97 persen.

Saham Apple dan Amazon terkoreksi karena laporan pendapatan kuartalan mereka telah mengecewakan investor, demikian The Straits Times. Sedangkan, saham Meta dan Alphabet merosot menyusul kinerja keuangan yang mengecewakan.

"Periode ini akan tercatat dalam buku sejarah musim pendapatan sebagai salah satu yang terburuk pada Big Tech dan, pada akhirnya, bisa menjadi 'momen bercabang' bagi para pendukung yang melihat ke depan," kata analis Wedbush Dan Ives dalam sebuah catatan kepada investor.

Menurutnya, perusahaan perlu segera beradaptasi dengan situasi saat ini yang sepenuhnya berbeda. Sebab, jika tidak, para investor akan meninggalkannya.

Pendapatan turun

Toko Apple di Shanghai, Tiongkok dipadati orang-orang yang  mengantre untuk membeli gadget terbaru perusahaan tersebut. Shutterstock/TonyV3112

Dalam kasus Amazon, titan e-commerce itu memperkirakan penjualan hanya tumbuh selama 2 persen selama musim belanja liburan pada akhir tahun nanti.

Amazon sebenarnya membukukan pertumbuhan penjualan pada kuartal yang baru saja berakhir. Itu membawa perusahaan kembali meraih keuntungan setelah dua kuartal merugi. Namun, laba perusahaan masih lebih rendah dari tahun lalu.

“Realitas pasar yang jauh lebih keras yang permintaannya lebih rendah dan biaya untuk melakukan bisnis tetap tinggi pada akhirnya berdampak kepada bisnis,” kata Direktur Pelaksana GlobalData, Neil Saunders.

Sementara itu, Apple melaporkan keuntungan yang solid serta pendapatan yang meningkat. Namun, penjualan ponsel pintar iPhone meleset dari perkiraan. Di sisi lain, pendapatan layanan Apple tumbuh, tapi melambat.

Kompetisi dengan TikTok

Logo Alphabet Inc. dan Google terlihat terpampang di smartphone. Shutterstock/IgorGolovniov

Meta mengalami penurunan bisnis karena perusahaan bertaruh untuk membangun teknologi imersif metaverse dalam jangka panjang.

“Facebook beralih ke Meta, sehingga mengalihkan perhatiannya,” kata analis teknologi, Rob Enderle, dari Enderle Group. Menurutnya, hal tersebut membuatnya limbung dan "memungkinkan TikTok untuk maju.”

Meta, yang telah menghadapi stagnasi jumlah pengguna dan pemotongan anggaran iklan, mengatakan labanya pada kuartal ketiga tahun ini telah menyusut lebih dari 30 persen dalam setahun. Perusahaan lantas menyampaikan rencana untuk melakukan perubahan secara signifikan demi meningkatkan efisiensi.

Dalam konferensi pers kinerja beberapa waktu lalu, CEO Meta, Mark Zuckerberg, mengakui bahwa perusahaan menavigasi "beberapa dinamika yang menantang",

Menurutnya, perusahaan saat ini memprioritaskan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung fitur rekomendasi pada layanan video pendek Instagram Reels. Niat ini diluncurkan sebagai tanggapan terhadap TikTok, aplikasi video pendek besutan Bytedance yang berbasis di Cina.

Menurut analis, TikTok berhasil memakan pendapatan iklan Meta dan Google. Namun, raksasa teknologi AS masih menjadi pemimpin pasar.

Lalu, Alphabet pekan ini melaporkan pendapatan kuartalan yang jauh dari ekspektasi pasar seiring belanja iklan digital yang melandai. Bahkan, pertumbuhan pendapatan induk dari Google dan Youtube ini dianggap terendah sejak 2014.

Perusahaan mengatakan pendapatan iklan hanya tumbuh 6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Namun, CEO Alphabet, Sundar Pichai, melihat momen ini sebagai “waktu untuk mengoptimalkan perusahaan demi memastikan pertumbuhan pada dekade mendatang.”

Related Articles