Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Restrukturisasi Besar-besaran, Canva PHK Ribuan Karyawan

4 min read
Restrukturisasi Besar-besaran, Canva PHK Ribuan Karyawan
Canva Enterprise. (dok.Canva)
  • Canva merestrukturisasi organisasi yang berdampak pada 22 persen tenaga kerja atau 1.271 pekerja melalui PHK, relokasi, dan perubahan peran.

  • Perubahan ini mencakup pemusatan tim produk di Sydney serta kewajiban kerja dari kantor bagi karyawan hybrid mulai tahun depan.

  • Canva menghadapi perlambatan pertumbuhan dan tekanan biaya AI, sementara valuasinya dilaporkan turun dari A$60 miliar menjadi sekitar A$49 miliar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Perusahaan desain asal Australia, Canva akan melakukan restrukturisasi yang berdampak pada 22 persen tenaga kerjanya. Sebanyak 1.271 pekerja akan terkena perubahan status, mulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK), relokasi, hingga perubahan peran.

Dikutip dari BBC, Co-founder sekaligus CEO Canva Melanie Perkins menyebut keputusan tersebut sebagai salah satu momen tersulit dalam sejarah perusahaan setelah 13 tahun berdiri.

ā€œTanpa diragukan lagi, ini merupakan momen tersulit dalam 13 tahun sejarah kami,ā€ kata Perkins dalam surat kepada karyawan dikutip Kamis (5/11).

Meski sulit, restrukturisasi tersebut menurutnya akan membawa perubahan signifikan bagi karyawan. Sebagian pekerja akan mengalami perubahan posisi atau diminta pindah ke pusat kerja yang terpusat, sementara sebagian lainnya harus meninggalkan perusahaan.

ā€œBagi sebagian orang, ini berarti perubahan pada peran mereka atau diminta untuk pindah ke pusat kerja terpusat. Sayangnya, ini juga berarti kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada rekan kerja dan teman yang telah membantu membangun Canva hingga menjadi seperti sekarang,ā€ ujarnya.

Canva memiliki karyawan di 37 negara. Dalam restrukturisasi tersebut, Sydney akan menjadi ā€œrumah utamaā€ bagi lebih banyak tim produk perusahaan. Mulai tahun depan, karyawan dengan skema kerja hybrid juga akan diwajibkan bekerja dari kantor selama dua hingga tiga hari dalam sepekan.

Perubahan tersebut dilakukan setelah Canva menghadapi tahun yang berat. Pertumbuhan perusahaan melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade.

ā€œIni merupakan tahun tersulit bagi kami, dan seperti yang kami sampaikan sebelumnya tahun ini, pertumbuhan kami melambat untuk pertama kalinya dalam satu dekade,ā€ tulis Perkins kepada karyawan.

Perkins mendirikan Canva pada 2013 setelah ia meninggalkan bangku kuliah pada usia 19 tahun untuk membangun usaha pertamanya. Platform tersebut menyediakan berbagai templat dan perangkat desain yang memungkinkan pengguna tanpa keahlian teknis maupun latar belakang desain membuat materi visual.

Layanan Canva digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari undangan pernikahan hingga presentasi bisnis dan materi pemasaran.

Restrukturisasi terbaru menunjukkan tekanan yang dihadapi perusahaan teknologi ketika perkembangan AI mengubah pola penggunaan perangkat lunak sekaligus meningkatkan kebutuhan investasi teknologi.

  1. Valuasi Tertekan dan Tantangan AI

    Restrukturisasi Canva berlangsung di tengah meningkatnya tekanan terhadap perusahaan teknologi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). Valuasi perusahaan dilaporkan mengalami penurunan dalam setahun terakhir karena kekhawatiran terhadap dampak AI terhadap bisnis Canva serta meningkatnya biaya untuk mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam platform perusahaan.

    Dua investor Canva, Blackbird Ventures dan Airtree, dilaporkan menurunkan valuasi perusahaan dari A$60 miliar atau sekitar US$41,8 miliar pada akhir tahun lalu menjadi sekitar A$49 miliar pada tahun ini.

    Canva juga dilaporkan menurunkan valuasi internalnya di tengah melonjaknya biaya AI yang berkaitan dengan pengembangan dan peluncuran produk-produk baru.

    ā€œTeknologi baru mengubah apa yang dapat dibuat orang, bagaimana mereka membuatnya, dan apa yang mereka harapkan dari produk yang mereka gunakan,ā€ ujar Perkins.

    Perkembangan AI menjadi tantangan sekaligus kebutuhan bagi Canva. Perusahaan harus mengembangkan fitur berbasis AI untuk mempertahankan daya saing, tetapi pada saat yang sama harus menanggung biaya teknologi yang semakin besar.

    Canva merupakan salah satu perusahaan rintisan paling sukses di Australia dan selama bertahun-tahun disebut sebagai salah satu kandidat perusahaan teknologi Australia yang berpotensi melakukan pencatatan saham besar di Nasdaq.

    Restrukturisasi terbaru tersebut menambah panjang daftar perusahaan teknologi yang melakukan perubahan organisasi dan pengurangan tenaga kerja.

    Dilansir dari The Guardian, sebelumnya, perusahaan perangkat lunak Atlassian memangkas 1.600 pekerjaan. Pengurangan tenaga kerja juga terjadi di Block, pemilik Afterpay, serta WiseTech Global.

    Di tengah perkembangan AI, perusahaan perangkat lunak menghadapi tekanan untuk mempertahankan model bisnis mereka. Sebagian perusahaan menepis kekhawatiran mengenai fenomena yang disebut ā€œSaaS-pocalypseā€, yakni kondisi ketika perkembangan AI membuat perangkat lunak khusus tidak lagi dibutuhkan.

    Meski demikian, banyak perusahaan perangkat lunak telah mengubah model bisnis atau mempercepat adopsi teknologi AI untuk mempertahankan daya saing.

    Berbeda dengan Atlassian, Block, dan WiseTech, Canva tidak menyebut AI sebagai alasan dalam pengumuman restrukturisasi tersebut.

Related Articles

See More