3 Ancaman Dunia Kerja Turunkan Produktivitas Pekerja, Terutama Gen Z

Jakarta, FORTUNE - Kadang suasana terasa begitu berat—dan di tempat kerja, tekanan itu justru paling terasa. Gambaran ini muncul dalam State of the Workforce Report 2025 yang dirilis oleh meQuilibrium (meQ), sebuah platform yang meneliti ketahanan karyawan di lingkungan kerja. Laporan tersebut menemukan adanya ancaman besar yang disebut “triple threat”, yaitu pesimisme, ketidakpastian, dan keterputusan (disconnect). Ketiga hal ini sudah berada pada titik kritis, mengancam kesejahteraan pekerja sekaligus menurunkan produktivitas perusahaan.
“Pesimisme di dunia kerja lebih berbahaya daripada sekadar keluhan soal pekerjaan saat ngobrol di pantry—ia secara langsung merusak produktivitas dan kesehatan mental,” ujar Brad Smith, Chief Science Officer meQ, dalam rilis resminya (28/8). Data mereka menunjukkan bahwa karyawan dengan tingkat pesimisme tinggi mengalami penurunan produktivitas lebih dari 60 persen serta risiko depresi 128 persen lebih besar dibanding rekan mereka yang lebih optimistis.
Lingkaran pesimisme
Dari 5.477 karyawan lintas industri yang diteliti, mayoritas menunjukkan sinyal pesimisme. Sebanyak 67 persen merasa lebih buruk ketika memikirkan kondisi negara, 49 persen lebih pesimistis terhadap keuangan pribadi, dan 35 persen menilai situasi pekerjaan mereka memburuk. Lebih dari separuh responden (52 persen) bahkan percaya keadaan negara akan makin terpuruk.
Ketidakpastian menimbulkan stres
Ketidakpastian memperparah kondisi ini. Menurut laporan, ketika faktor ketidakpastian ditambahkan, jumlah pekerja yang pesimistis terhadap pekerjaan melonjak lebih dari tiga kali lipat. Dampaknya tidak hanya emosional, tetapi juga langsung memengaruhi output bisnis. “Individu dengan stres tinggi akibat ketidakpastian berisiko mengalami penurunan produktivitas hingga setengahnya,” jelas Smith. Hampir sepertiga dari mereka juga mengalami burnout, gejala kelelahan mental yang semakin sering muncul di lingkungan kerja modern.
Keterputusan di tempat kerja
Elemen ketiga dari triple threat adalah keterputusan. Ini bukan sekadar soal jarak fisik, melainkan hilangnya rasa percaya ketika perusahaan atau pemimpin gagal memenuhi ekspektasi. Akibatnya, relasi kerja menjadi rapuh, energi emosional terkuras, dan motivasi menurun drastis. Laporan menunjukkan 55 persen karyawan mengalami setidaknya satu gejala disconnect, dengan angka paling tinggi pada kelompok usia 18–29 tahun (62 persen).
Dampak paling serius terlihat pada produktivitas: pekerja muda yang mengalami disconnect parah menunjukkan penurunan kinerja hingga 66 persen. “Stres akibat ketidakpastian tidak akan hilang—ini adalah norma baru di dunia kerja,” kata Smith. “Yang mengkhawatirkan, kondisi ini mengikis kepercayaan diri karyawan dan menurunkan engagement tanpa banyak disadari.”
Gen Z: Generasi paling rentan
Laporan ini juga menyoroti perbedaan generasi dalam menghadapi triple threat. Gen Z muncul sebagai kelompok paling pesimistis. Sebanyak 71 persen dari mereka memiliki pandangan negatif terhadap kondisi negara, jauh lebih tinggi dibanding pekerja senior (59 persen). Dalam aspek finansial, 62 persen Gen Z tidak puas dengan keadaan mereka, dibanding hanya 37 persen pada karyawan yang lebih tua. Bahkan dalam konteks pekerjaan, 48 persen Gen Z merasa pesimistis, sementara pekerja senior hanya 22 persen.
Meski begitu, ada sisi menarik: dalam memandang masa depan, Gen Z justru sedikit lebih optimistis. Artinya, meski mereka kritis terhadap kondisi saat ini, generasi ini masih menyimpan keyakinan bahwa keadaan bisa berubah.
Di tengah ancaman triple threat, laporan meQ menekankan dua faktor protektif yang bisa membalikkan arah. Pertama adalah manajemen empatik. Ketika manajer menempatkan kesejahteraan tim sebagai prioritas, efek positifnya terasa nyata. Stres akibat ketidakpastian bisa turun hingga 37 persen, sementara angka keterputusan menurun dari 78 persen menjadi 40 persen.
Faktor kedua adalah resiliensi individu. Karyawan yang memiliki keterampilan tangguh—seperti kontrol emosi dan optimisme realistis—terbukti jauh lebih terlindungi. Hanya 6 persen dari kelompok paling resilien yang menunjukkan tanda-tanda disconnect ekstrem, dibanding 59 persen dari kelompok paling rentan.
Triple threat berupa pesimisme, ketidakpastian, dan keterputusan kini nyata mengancam dunia kerja. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan mental pekerja, tetapi juga langsung pada daya saing bisnis. Laporan meQ menegaskan, jalan keluar tidak datang dari strategi manajerial kaku, melainkan dari kepemimpinan yang empatik, dukungan untuk resiliensi, dan budaya kerja yang menghidupkan kembali kepercayaan antarrekan. Dalam lanskap kerja modern yang penuh guncangan, mengatasi ancaman ini bukan lagi pilihan, melainkan syarat utama bagi keberlangsungan organisasi.