Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Airbnb Gelontorkan Rp4,4 T, Garap Hunian Sewa Terjangkau untuk Gen Z
ilustrasi bisnis, startup, Airbnb (unsplash.com/Oberon Copeland @veryinformed.com)
  • Airbnb menyiapkan investasi awal US$250 juta untuk Housing Accelerator, dengan potensi memobilisasi US$5 miliar dalam 10 tahun guna mempercepat pembangunan hunian sewa terjangkau.
  • Dana difokuskan pada pembiayaan tahap akhir proyek, diawali US$6,4 juta untuk lebih dari 200 unit di Austin, serta hadiah US$5 juta bagi inovasi pembangunan rumah.
  • Krisis keterjangkauan membuat 25,2 juta dewasa AS di bawah 35 tahun tinggal bersama orang tua; banyak yang bekerja, sementara biaya hunian turut menekan keuangan keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE Airbnb menyiapkan investasi awal US$250 juta atau sekitar Rp4,4 triliun untuk mendorong pembangunan rumah sewa yang lebih terjangkau. Perusahaan memperkirakan program tersebut dapat membuka investasi modal hingga sekitar Rp88,8 triliun atau US$5 miliar dalam 10 tahun ke depan.

Investasi tersebut menjadi bagian dari program Housing Accelerator, yang bertujuan mempercepat penyaluran modal untuk proyek perumahan, mendukung reformasi kebijakan yang mendorong pembangunan hunian, mengembangkan teknologi konstruksi, serta mengurangi berbagai hambatan yang membuat proyek perumahan tertunda.

Mekansir Fortune.com, langkah Airbnb dilakukan ketika Amerika Serikat masih menghadapi persoalan pasokan dan keterjangkauan rumah. Berdasarkan data terbaru Biro Sensus AS, lebih dari 15 juta rumah di negara tersebut tidak dihuni. Jumlah itu mencapai sekitar 10 persen dari total pasokan perumahan AS.

Pada saat yang sama, pembangunan rumah baru belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar. Berdasarkan riset yang dipesan Airbnb, sekitar 750.000 unit hunian telah memenuhi persyaratan regulasi, tetapi belum mendapatkan komitmen pendanaan untuk memulai pembangunan. Ratusan ribu proyek perumahan lainnya juga masih tertunda.

Sebagian besar dana Airbnb akan diarahkan untuk skema pembiayaan tahap akhir (last-dollar financing), yakni pendanaan yang dapat menjadi penentu apakah sebuah proyek perumahan dapat mulai dibangun atau kembali tertunda. Sebagai langkah awal, Airbnb menginvestasikan sekitar Rp113,7 miliar atau US$6,4 juta untuk mendukung pembangunan lebih dari 200 unit hunian terjangkau di Austin, Texas.

Selain pendanaan langsung, Airbnb meluncurkan Airbnb Housing Innovation Prize dengan hadiah sekitar Rp88,8 miliar atau US$5 juta. Program ini ditujukan bagi perusahaan dan organisasi nirlaba yang mengembangkan solusi untuk membuat pembangunan rumah lebih mudah dan murah.

CEO Airbnb, Brian Chesky, mengakui perusahaannya selama ini mendapat sorotan karena dinilai turut memengaruhi pasokan hunian jangka panjang dan biaya tempat tinggal di sejumlah kota. Melalui investasi tersebut, Airbnb ingin mengambil bagian dalam upaya mengatasi persoalan keterjangkauan hunian.

“Selama 15 tahun terakhir, terutama dalam satu dekade terakhir, Airbnb kerap dianggap sebagai salah satu faktor yang membuat biaya hidup di berbagai kota menjadi mahal,” kata Chesky kepada Time dalam wawancara baru-baru ini.

“Karena itu, kami ingin menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah," katanya, menambahkan.

Krisis keterjangkauan hunian juga berimbas pada generasi muda Amerika Serikat. Sebanyak 25,2 juta orang dewasa berusia di bawah 35 tahun masih tinggal bersama orang tua pada 2025, berdasarkan laporan Realtor.com pada 2026. Jumlah tersebut setara sekitar satu dari tiga orang dewasa muda.

Kondisi tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh ketiadaan pekerjaan. Sekitar 70 persen kelompok berusia 25–34 tahun yang masih tinggal bersama orang tua tercatat telah bekerja, berdasarkan laporan yang sama.

Hannah Jones, ekonom senior Realtor.com sekaligus penulis laporan tersebut, mengatakan pertumbuhan jumlah generasi muda yang tinggal bersama orang tua justru berasal dari kelompok yang telah bekerja.

“Pertumbuhan [generasi muda yang tinggal bersama orang tua] berasal dari orang-orang yang bekerja, bukan dari mereka yang masih menunggu mendapatkan pekerjaan,” kata Jones dalam studi tersebut.

Menurut Jones, tingkat pendapatan, beban utang, dan biaya perumahan di wilayah tempat tinggal menjadi sejumlah faktor yang membuat pekerja muda tetap berada di rumah orang tua meski memiliki pekerjaan.

“Sesuatu mengenai tingkat pendapatan, beban utang, atau biaya perumahan di pasar tempat mereka tinggal membuat mereka tetap berada di rumah meskipun memiliki pekerjaan yang stabil.”

Tekanan keterjangkauan hunian dan biaya hidup juga merembet kepada generasi orang tua. Survei Wells Fargo pada 2026 menunjukkan sekitar 64% orang tua yang memiliki anak Gen Z berusia 18–28 tahun mengatakan anak mereka yang telah dewasa masih bergantung pada bantuan untuk kebutuhan finansial, tempat tinggal, atau dukungan lainnya.

Bantuan tersebut turut memengaruhi kondisi keuangan orang tua. Sebanyak 56% responden dalam survei yang sama mengatakan dukungan kepada anak mereka yang telah dewasa memberikan tekanan terhadap keuangan pribadi.

Melalui Housing Accelerator, Airbnb kini mengarahkan modal dan inovasinya untuk memperbesar sisi pasokan hunian. Perusahaan memperkirakan kombinasi pendanaan tahap akhir, reformasi kebijakan, dan inovasi konstruksi dapat membantu proyek-proyek yang selama ini tertahan bergerak menuju tahap pembangunan dan menambah pasokan rumah di pasar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article