Apakah Kita Memasuki Akhir Era Booming Sneaker?

- Sneaker menghadapi tantangan serius setelah dominasi global selama hampir dua dekade.
- Analisis Bank of America menyimpulkan siklus pertumbuhan merek olahraga mulai meredup.
- Data riil dari sektor ritel menunjukkan sneaker masih menjadi penggerak utama pertumbuhan.
Jakarta, FORTUNE - Setelah mendominasi gaya hidup global selama hampir dua dekade, sneaker kini mulai menghadapi tantangan serius. Sejumlah analis dari Bank of America (BofA) merilis laporan setebal 61 halaman yang menyimpulkan bahwa siklus pertumbuhan merek-merek besar olahraga mulai meredup secara signifikan.
Laporan yang disiapkan oleh para analis yang dipimpin oleh Thierry Cota tersebut memicu perdebatan sengit di pasar modal, terutama setelah BofA memberikan “double downgrade” terhadap saham Adidas.
Rating emiten Adidas dari “buy” menjadi salah satu saham yang paling tidak menarik di industrinya. Saham Adidas sempat anjlok hingga 7,6 persen pada pekan lalu, sebelum akhirnya pulih tipis pada akhir pekan.
Analis BofA berpendapat sektor perlengkapan olahraga telah menyelesaikan "siklus naik" (upcycle) selama 20 tahun. Tren ini berhasil mengangkat porsi sneaker dari kurang dari seperempat penjualan alas kaki dunia menjadi setidaknya setengah dari total pasar.
Pergeseran ini mencapai puncaknya saat pandemi COVID-19 ketika kebijakan bekerja dari rumah (work from home) memicu lonjakan permintaan sepatu jenis ini.
“Dengan pergeseran struktural yang sebagian besar telah selesai, prospek pertumbuhan pendapatan di masa depan kini berkurang secara signifikan,” demikian laporan BofA tersebut dikutip The Japan Times.
Jika industri ini tumbuh rata-rata 9 persen per tahun sejak 2007, para analis memperkirakan ekspansi tahunan pada tahun-tahun mendatang mungkin hanya akan berkisar 4-5 persen.
Meski analisis pasar modal cenderung pesimistis, data riil dari sektor ritel menunjukkan sneaker masih menjadi penggerak utama pertumbuhan dibandingkan dengan kategori lainnya.
Berdasarkan data Circana’s Retail Tracking Service yang dilansir laman WWD, nilai penjualan industri alas kaki AS secara keseluruhan turun 1 persen pada semester pertama 2025. Namun, segmen sport lifestyle dan performa justru tetap mencatatkan pertumbuhan.
Beth Goldstein, pakar alas kaki dari Circana, menyatakan sneaker kini menguasai sekitar 60 persen pasar alas kaki di Amerika Serikat.
“Bisnis sneaker lebih besar dari sebelumnya. Saya tidak akan menyebut [pergeseran ke arah sepatu jenis ini] sebagai sebuah tren, tapi sekadar preferensi utama konsumen,” ujar Goldstein.
Ia menambahkan bahwa kategori sneaker tumbuh 4 persen tahun lalu, sementara kategori sepatu fesyen turun 3 persen.
Pertumbuhan pada paruh pertama 2025 dipicu oleh gaya sport lifestyle yang naik 3 persen, terutama pada model-model bertema lari dan sepak bola.
Pada segmen performa, sepatu lari dan cross-training menjadi primadona dengan pertumbuhan penjualan masing-masing 7 persen dan 9 persen. Sebaliknya, kategori sepatu fesyen terus merosot hingga 6 persen akibat lemahnya permintaan pada kategori musiman.
Di luar pergeseran tren, industri juga dibayangi oleh hambatan makroekonomi.
Penjualan di Tiongkok mulai mendingin, ditambah dengan ancaman tarif impor AS yang kian nyata.
Gary Raines, ekonom utama di Footwear Distributors and Retailers of America (FDRA), menyatakan meskipun harga sempat turun tipis pada pertengahan 2025, biaya impor yang melonjak akibat bea masuk lebih tinggi akan segera menekan harga ritel.
“Kenaikan bea masuk rata-rata per pasang pada impor alas kaki melonjak tajam. Biaya lebih tinggi ini akan segera menekan harga ritel alas kaki untuk naik pada akhir tahun ini,” ujarnya dikutip WWD.
Meskipun muncul kekhawatiran tersebut, beberapa analis tetap optimistis. Mereka menilai kelesuan saat ini hanyalah kemerosotan berkepanjangan akibat kekhawatiran ekonomi konsumen.
Jika kondisi membaik, ledakan sneaker diprediksi masih berpeluang untuk bangkit kembali pada 2027. Hingga saat itu, pasar akan terus melihat fenomena unik seperti New Balance 1906L—sepatu hibrida yang memadukan tampilan loafer dengan sol sepatu lari—sebagai bentuk adaptasi merek terhadap selera konsumen yang kian kompleks.
















