Lahan Karawang Kurang dari 10 Persen, Suryacipta Swadaya Fokus ke Subang Smartpolitan

Lahan di Karawang tersisa kurang dari 10 persen.
Subang Smartpolitan dikembangkan sejak 2020 sebagai kota pintar berkelanjutan seluas 2.717 hektare.
Minat investor global meningkat, terutama dari Korea Selatan dan Cina.
Jakarta, FORTUNE - Arus Penanaman Modal Asing (PMA) membuat pusat pertumbuhan ekonomi tidak lagi hanya bertumpu pada titik-titik lama yang kian sesak. PT Suryacipta Swadaya (Suryacipta), anak usaha dari PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), pun mengarahkan radar ekspansinya ke wilayah Subang, Jawa Barat, seiring dengan hampir tuntasnya penyerapan lahan di kawasan industri legendaris mereka di Karawang.
"Ketersediaan [lahan di Karawang] tinggal kurang dari 10 persen," ujar Abednego Purnomo, Chief Marketing Officer Suryacipta di hadapan wartawan di Jakarta (13/3).
Keyakinan perusahaan yang 36,5 persen sahamnya digenggam oleh Grup Djarum ini didasari oleh posisi Jawa Barat yang tetap menjadi motor utama investasi nasional. Kawasan industri dianggap sebagai garda terdepan yang paling siap menyerap transfer teknologi dari investor global yang kian selektif.
Binawati Dewi, General Manager Sales & Tenant Relation Suryacipta, mengatakan dominasi Jawa Barat sebagai tujuan Foreign Direct Investment (FDI) adalah buah dari kematangan ekosistem industri di wilayah tersebut.
"Data menunjukkan bahwa Jawa Barat konsisten memberikan kontribusi signifikan terhadap realisasi investasi nasional. Berdasarkan kunjungan bisnis kami ke Hong Kong awal Maret ini, investor antusias melihat Indonesia sebagai destinasi ekspansi mereka di Asia Tenggara. Kami melihat adanya pergeseran minat ke arah industri bernilai tambah tinggi yang membutuhkan kepastian infrastruktur," ujar Dewi dikutip dari siaran pers (16/3).
Langkah Suryacipta ini merupakan respons atas realitas di lapangan. Suryacipta City of Industry di Karawang, yang berdiri sejak 1990 di atas lahan 1.400 hektare, kini telah memasuki fase maturitas.
“Hal ini menunjukkan tingginya serapan pasar dan kepercayaan investor untuk terus beroperasi di kawasan kami,” kata Dewi.
Dengan lahan yang tersisa di Karawang, tumpuan pertumbuhan kini beralih ke Subang Smartpolitan. Kawasan mandiri terintegrasi seluas 2.717 hektare ini telah dirancang sejak 2020 sebagai kota pintar yang berkelanjutan. Di sana, geliat industri sudah terasa dengan kehadiran pemain global seperti BYD, manufaktur kendaraan listrik (EV) kelas dunia.
Secara geografis, Subang Smartpolitan berdiri di lokasi strategis dalam wilayah Metropolitan Rebana. Kawasan ini diuntungkan oleh kedekatannya dengan Pelabuhan Patimban yang ditargetkan beroperasi penuh pada akhir Desember 2026. Selain itu, aksesibilitas didukung oleh Tol Akses Patimban yang akan memiliki pintu keluar langsung ke dalam kawasan.
Minat investor kini tidak hanya tertuju pada petak-petak pabrik. Dewi mengungkapkan adanya lonjakan ketertarikan yang signifikan, terutama dari pemodal asal Korea Selatan, Cina, serta pengusaha domestik. Mereka tidak hanya merelokasi usaha, tetapi juga membentuk lini bisnis baru.
“Seiring dengan pengembangan area residensial ‘Rumida’, sesuai konsep awal kami ‘Smart, Green, and Sustainable City’ – Subang Smartpolitan sedang mewujudkan sebuah ekosistem yang lengkap,” kata Dewi.
Di area South Smart Core seluas 60 hektare, Suryacipta tengah menyiapkan pusat aktivitas yang mencakup taman bisnis, menara perkantoran, pusat riset (R&D), hingga fasilitas rekreasi dan edukasi. Daya tarik lain bagi investor adalah ketersediaan tenaga kerja yang melimpah (939.000 jiwa pada 2024) dengan Upah Minimum Rp3.737.482 (data 2026).
















