Jakarta, FORTUNE - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menargetkan penjualan batu bara sebesar 76–78 juta ton sepanjang 2026. Perusahaan memperkirakan harga jual rata-rata akan berada di kisaran US$60–US$62 per ton, dengan biaya produksi sekitar US$43–US$44 per ton.
Manajaemen BUMI menyampaikan, meski harga batu bara sedang melemah dan pasar cukup menantang, perusahaan masih mampu menjaga keuntungan. Oleh karenanya, BUMI optimistis bisa meningkatkan penjualan tahun ini.
Sepanjang 2025, perusahaan mencatatkan volume penjualan batu bara sebanyak 74,6 juta ton, dengan harga jual rata-rata US$59,7 per ton (free on board/FOB). Angka ini turun 17 persen dibandingkan 2024 sebesar US$71,8 per ton. Sementara itu, BUMI mencatat produksi batu bata bara sebanyak 74,8 juta ton tahun lalu.
"Stabilitas operasional tetap terjaga di tengah kondisi pasar yang menantang, menunjukkan efektivitas pengelolaan operasional dan pengendalian biaya yang konsisten," kata BUMI dalam siaran pers, Senin (30/3).
Manajemen menambahkan, hasil kinerja sepanjang 2025 mencerminkan upaya perseron dalam melakukan disiplin operasional dan keberlanjutan upaya efisiensi biaya di tengah fluktuasi harga komoditas global. Berkat strategi ini, emiten eksportir batu bara termal tersebut mampu meraup pendapatan US$1,42 miliar, naik 4,8 persen secara tahunan. Beban pokok pendapatan turun 1,2 persen menjadi US$1,17 miliar, sehingga laba bruto melonjak 47,1 persen menjadi US$249,1 juta.
BUMI juga membukukan margin usaha sebesar 9,9 persen, tumbuh dari margin pada tahun 2024 yang hanya 4,5 persen. Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi US$81 juta, naik 20,1 persen dibandingkan perolehan tahun 2024 yang sebesar US$67,5 juta.
Manajemen berkomitmen untuk tetap menjaga efisiensi operasional, memperkuat ketahanan rantai pasokan, dan mendukung strategi diversivikasi. Hal ini dilakukan perseroan guna memperkuat portfolio usaha jangka panjang.
