Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Danantara akan Resmikan Proyek Hilirisasi Senilai Rp101 Triliun

CEO Danantara, Rosan Roeslani dalam acara SAT 2026.
CEO Danantara, Rosan Roeslani dalam acara SAT 2026 (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya sih...
  • Danantara akan meresmikan enam proyek hilirisasi pada Februari 2026.
  • Total nilai investasi proyek mencapai sekitar Rp101 triliun.
  • Proyek mencakup sektor mineral, energi terbarukan, dan pangan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) akan meresmikan enam proyek hilirisasi strategis pada akhir Februari 2026.

Total nilai investasi dari keenam proyek tersebut mencapai sekitar 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp101 triliun (kurs Rp16.878 per dolar AS), menjadikannya salah satu agenda hilirisasi terbesar pada awal tahun ini.

Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, dalam acara Semangat Awal Tahun 2026 by IDN Times dengan sesi Peran Danantara Indonesia Mendorong Pertumbuhan Berkualitas pada Rabu (14/1).

Proyek-proyek hilirisasi ini mencakup sektor mineral, energi, hingga pangan, dirancang untuk memperkuat nilai tambah industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Enam proyek hilirisasi yang akan diresmikan Danantara

Danantara akan meresmikan enam proyek hilirisasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Proyek pertama berada di sektor mineral, yakni pengembangan industri smelter aluminium dari alumina serta fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) berbasis bauksit. Proyek ini berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat, serta Balikpapan, Kalimantan Timur, dan menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok aluminium nasional dari hulu ke hilir.

Selain mineral, Danantara juga akan meresmikan fasilitas produksi bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah. Bioavtur dikembangkan sebagai bahan bakar pesawat berbasis nabati untuk mendukung agenda transisi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap avtur berbasis fosil.

Proyek lainnya mencakup pengembangan kilang atau refinery, fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah, pengembangan fasilitas bioetanol, serta proyek budidaya unggas.

Untuk sektor pangan, Danantara menyiapkan lima fasilitas budidaya unggas yang tersebar di 12 titik lokasi, sebagai bagian dari penguatan rantai pasok protein hewani nasional.

“(Ada enam proyek hilirisasi) yang akan kami mulai, antara lain pengolahan bauksit dan alumunium di Balikpapan, produksi bioavtur, kilang refinery, serta proyek budidaya unggas yang tersebar di lima Lokasi,” ujar Rosan, Rabu (14/1).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa proyek hilirisasi Danantara tidak hanya terfokus pada sektor pertambangan, tetapi juga energi dan pangan.

Potensi tambahan proyek DME

Selain enam proyek utama tersebut, Danantara juga tengah mempersiapkan proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Proyek ini diarahkan untuk mendukung substitusi impor liquefied petroleum gas (LPG) yang selama ini masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Rosan menyebutkan bahwa proyek DME berpeluang untuk ikut diresmikan pada periode yang sama, meskipun masih berada dalam tahap analisis teknologi.

“Saya rasa, kalau tidak salah, proyek gasifikasi batu bara menjadi DME ini juga akan dimulai pada Februari,” ujar Rosan.

Menurut Rosan, teknologi yang akan digunakan dalam proyek DME saat ini masih dikaji oleh tim internal Danantara, termasuk Chief Technology Officer, sebelum masuk ke tahap eksekusi.

Peran Danantara dalam agenda hilirisasi nasional

Enam proyek tersebut merupakan bagian dari portofolio awal Danantara sebagai badan pengelola investasi strategis pemerintah. Pemerintah menempatkan Danantara sebagai motor penggerak hilirisasi lintas sektor, mulai dari mineral, energi baru terbarukan, hingga pangan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan percepatan pembangunan proyek-proyek hilirisasi pada awal 2026.

Arahan tersebut disampaikan dalam rapat terbatas di Hambalang, Bogor, yang juga membahas kesiapan infrastruktur energi dan penguatan industri nasional.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan peletakan batu pertama enam proyek hilirisasi senilai 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp101 triliun pada awal Februari 2026.

“Perkembangan rencana groundbreaking 6 titik baru proyek hilirisasi senilai USD6 miliar di awal Februari 2026,” tulis Teddy melalui unggahan media sosial resmi Sekretariat Kabinet, Senin (12/1).

Target lanjutan hingga 18 proyek

Pemerintah tidak berhenti pada enam proyek awal. Danantara menargetkan total 18 proyek hilirisasi dapat dieksekusi secara bertahap hingga Februari dan Maret 2026.

Proyek lanjutan tersebut akan mencakup sektor energi, pengelolaan limbah, hingga gasifikasi batu bara.

“Nanti dilanjutkan di bulan Februari dan di bulan Maret untuk menyelesaikan kurang lebih 18 program hilirisasi yang sudah kita sepakati,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Hambalang, Selasa (6/1).

FAQ seputar proyek hilirisasi Danantara

Kapan Danantara akan meresmikan proyek hilirisasi?

Danantara dijadwalkan meresmikan enam proyek hilirisasi pada Februari 2026.

Berapa nilai investasi proyek hilirisasi Danantara?

Total nilai investasi mencapai sekitar 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp101 triliun.

Apa saja sektor proyek hilirisasi yang diresmikan?

Proyek mencakup sektor mineral, energi, biofuel, refinery, dan pangan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in Business

See More

Apa Alasan Susu Nestle S-26 Promil Gold Ditarik Peredarannya di Indonesia?

15 Jan 2026, 16:11 WIBBusiness