Jakarta, FORTUNE – Proyeksi pertumbuhan industri pet care di Indonesia menunjukkan tren yang menjanjikan. Vyansa Intelligence memproyeksikan nilai pasar pet care Indonesia mencapai US$605 juta pada 2025 dan meningkat menjadi US$700 juta pada 2030, dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 2,46 persen. Sementara itu, Business Software Help memperkirakan pasar yang jauh lebih besar, yakni US$2,5 miliar pada 2025 dan tumbuh menjadi US$4,45 miliar pada 2032 dengan CAGR 8,59 persen.
Proyeksi paling optimistis datang dari Jakarta Pet Expo bersama tim riset yang menganalisis ekonomi pet parent di Indonesia. Mereka memperkirakan pasar pet care tumbuh dengan CAGR 9,5 persen, dari US$2,2984 miliar pada 2023 menjadi lebih dari US$5,8832 miliar pada 2033. Perbedaan proyeksi tersebut mencerminkan optimisme terhadap prospek industri sekaligus ketidakpastian mengenai seberapa cepat penetrasi pasar pet care akan berkembang di Indonesia, terutama di luar kota-kota besar.
Salah satu pelaku yang telah membidik peluang tersebut sejak awal adalah PetShop Indonesia. Fortune Indonesia berkesempatan berbincang dengan Rizkitha Aswinda Putri, Founder dan CEO PetShop Indonesia, pada akhir Juli 2026.
Berbekal latar belakang pendidikan teknik jaringan multimedia serta pengalaman di bidang manajemen produksi dan e-commerce, ia mantap membangun perusahaan dengan pendekatan yang berorientasi pada inovasi dan pertumbuhan berkelanjutan. Sebelum mendirikan PetShop Indonesia, ia berkarier di Lazada Indonesia sebagai Lead of Production untuk kategori mainan dan bayi. Pengalaman tersebut membentuk kemampuannya dalam mengelola rantai produksi, menyusun strategi produk, serta memahami dinamika bisnis digital yang bergerak cepat. Nilai-nilai seperti kerja keras, inovasi, dan perhatian terhadap detail pun terus ia pegang dalam memimpin perusahaan.
Ide mendirikan PetShop Indonesia bukan berawal dari analisis pasar, melainkan dari pengalaman pribadinya sebagai pemilik hewan peliharaan. Pada akhir 2011, ia merasakan akses terhadap kebutuhan hewan peliharaan masih sangat terbatas. Jumlah pet shop belum banyak dan pilihan produknya pun belum lengkap. Bahkan, untuk mendapatkan perlengkapan tertentu, ia harus mencarinya hingga ke Bandung.
Di saat yang sama, pengalamannya bekerja di industri e-commerce membuat Rizkitha melihat peluang menghadirkan pet shop berbasis digital yang dapat menjangkau pelanggan di seluruh Indonesia. Ia membayangkan sebuah platform yang menjadi one stop solution, menyediakan seluruh kebutuhan hewan peliharaan dalam satu tempat, mulai dari makanan, obat-obatan, perlengkapan grooming, pakaian, hingga berbagai aksesori.
Berangkat dari kebutuhan pribadi itulah lahir PetShopIndonesia.com Saat itu, marketplace belum berkembang seperti sekarang sehingga platform tersebut mampu menjangkau pelanggan dari berbagai daerah yang kesulitan memperoleh kebutuhan hewan peliharaan. Rizkitha pun mulai merintis bisnis tersebut dengan membangun situs web yang dibantu seorang teman. Sementara itu, seluruh operasional usaha, mulai dari mencari pemasok, mengelola produk, hingga menjalankan bisnis sehari-hari, ia tangani sendiri. Persiapan dimulai pada akhir 2011, tetapi ia baru benar-benar fokus menjalankan usaha pada 2012 dengan membuka mini petshop di garasi rumah di Jalan Kalimantan, Beji, Depok.
“Bisnis ini mulai berjalan pada akhir 2011 dan tumbuh secara organik, tanpa investor maupun pinjaman bank. Modal awalnya pun nyaris tanpa uang tunai. Saya saat itu masih reseller,” ujarnya, kepada Fortune Indonesia, medio Juli 2026.
“Dari nol lah kalau bisa dibilang modal dengkul,” katanya, menambahkan.
Barang dagangan diperoleh dengan sistem tempo dari toko atau pemasok, kemudian dibayar setelah produk terjual. Dari margin penjualan yang terkumpul, sedikit demi sedikit stok mulai bisa disimpan sendiri.
Seiring waktu, penghasilan bulanan mulai terbentuk. Ruang usaha yang semula sederhana ikut menjadi bagian dari modal untuk memperbesar bisnis. Keuntungan yang diperoleh tidak ditarik seluruhnya, melainkan kembali diputar untuk menambah stok dan memperluas usaha.
“Jadi memang kita murninya gulung profit aja,” katanya.
Keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya diambil setelah melihat potensi bisnis yang terus berkembang. Setelah PetShopIndonesia.com diluncurkan, pesanan berdatangan dari berbagai daerah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali. Respons pasar yang positif semakin menguatkan keyakinannya bahwa industri pet care memiliki prospek jangka panjang karena kebutuhan masyarakat untuk memelihara hewan akan selalu ada.
Seiring meningkatnya jumlah pesanan dan stok barang, garasi rumah tidak lagi mencukupi. Ia kemudian memberanikan diri menyewa sebuah ruko kecil di Jalan Bungur Raya, Kukusan, Depok, sebagai toko offline pertama PetShop Indonesia. Keputusan tersebut sempat membuatnya khawatir karena harus menanggung biaya sewa. Namun, setelah melihat pendapatan dari penjualan online yang mulai stabil, ia bersama suaminya mantap mengambil langkah tersebut. Saat itu, penjualan telah mencapai sekitar 50 hingga 200 paket per hari dengan dukungan seorang karyawan.
