Jakarta, FORTUNE - Industri minuman ringan dan siap saji masih menghadapi tantangan pelemahan daya beli masyarakat pada semester II 2026. Kondisi tersebut berpotensi melemahkan pertumbuhan penjualan industri, dibandingkan semester I yang masih terbantu oleh momentum Lebaran.
Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo mengatakan, jika dibandingkan semester I 2026, periode semester II 2026 momentum untuk mendorong peningkatan penjualan relatif lebih terbatas. Meskipun ada Natal dan Tahun Baru, momentum tersebut menurutnya tidak banyak mendorong konsumsi sebesar saat Lebaran.
Selain itu, kondisi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung turut memberikan tekanan terhadap biaya-biaya produksi dan distribusi.
Di sisi lain, kenaikan harga sejumlah bahan bakar non-subsidi juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Meski pemerintah masih menahan harga bahan bakar tertentu, harga Pertamax dan beberapa jenis BBM non-subsidi telah mengalami kenaikan.
Menurutnya, tekanan biaya tersebut pada akhirnya turut berpengaruh terhadap kondisi masyarakat. “Terutama saat ini kita lihat banyak tenaga kerja sektor formal yang berkurang banyak digantikan sektor informal,” kata Triyono kepada Fortune Indonesia, Senin (8/9).
Tekanan daya beli tersebut menurutnya turut tercermin dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Berdasarkan data industri, pertumbuhan pada semester I masih banyak didorong oleh kategori Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), yang tumbuh sekitar 7 persen.
Namun, sejumlah kategori lainnya mencatat pertumbuhan yang relatif datar atau bahkan negatif. Hal tersebut menunjukkan adanya pergeseran preferensi konsumen dari produk dengan harga relatif lebih tinggi menuju produk dengan harga lebih rendah.
Pergeseran tersebut juga terlihat dalam ukuran kemasan. Sejumlah produk mulai menawarkan kemasan yang lebih kecil untuk menyesuaikan dengan kemampuan belanja konsumen.
“Kami lihat akhirnya beberapa konsumen mulai melakukan downsizing di beberapa kategori, misalnya teh,” katanya.
Pertumbuhan kategori tersebut disebut telah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Setelah ditelusuri melalui riset, konsumen dinilai mulai beralih ke produk teh siap minum dengan harga lebih murah.
“Banyak konsumen yang larinya, pindahnya ke teh yang modelnya ready to serve. Teh yang harganya cuma Rp2.000-Rp3.000,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, industri minuman siap saji masih cukup berhati-hati melihat prospek semester II 2026. Untuk mempertahankan pertumbuhan positif di kisaran 1-2 persen dan tidak minus hingga akhir tahun, hal itu sudah dianggap baik.
“Kalau kita bisa menjaga di positif saja, 1 atau 2 persen, itu sudah win for us. Karena momentumnya tidak ada,” katanya.
Pada semester I 2026, industri minuman ringan mencatat pertumbuhan sekitar 5 persen.
