Comscore Tracker
BUSINESS

Menatap Prediksi Penjualan Mobil Listrik di Masa Depan

Deloitte merilis riset tentang penjualan mobil listrik.

Menatap Prediksi Penjualan Mobil Listrik di Masa DepanProses charging mobil listrik. (ShutterStock/buffaloboy)

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Apa pun janji teknologi atau “strategi” penciptaan kendaraan listrik, tantangan sebenarnya terletak pada membuat konsumen bersemangat untuk membelinya. Dan itu terbukti paling tidak sesulit membuat baterai awet dan membangun infrastruktur pengisian daya yang komprehensif. Mengutip Road and Track pada Selasa (11/1), sebuah laporan baru dari perusahaan konsultan Deloitte, menunjukkan seberapa besar usaha yang diperlukan untuk membuktikan hal itu.

Dalam rilis studi “2022 Global Automotive Consumer Study”, Deloitte menjelaskan secara terperinci tentang harapan pembeli yang akan mendorong pasar otomotif di tahun-tahun mendatang. Riset dilakukan terhadap 26.000 konsumen di 25 negara, termasuk Indonesia. Berikut hasil riset Deloitte yang dirangkum Fortune Indonesia.

Selama mobil listrik belum murah, konsumen masih ingin mobil bensin

Terkait minat jenis kendaraan di masa depan, di Amerika Serikat 69 persen konsumen mengharapkan kendaraan mereka berikutnya ditenagai oleh pembakaran internal. Adapun 22 persen lainnya akan memilih kendaran hybrid.

Namun tetap saja, di tengah semua ini, hanya sekitar lima persen orang Amerika yang mengharapkan kendaraan mereka berikutnya adalah mesin yang sepenuhnya bertenaga listrik dan berbahan bakar baterai.

“Pembeli mengharapkan kendaraan mereka terjangkau,” kata Ryan Robinson, Pemimpin Riset Otomotif Deloitte.

Dia menambahkan, mayoritas 74 persen dari mereka yang berniat membeli kendaraan listrik mengharapkan kendaraan mereka berikutnya berharga kurang dari US$50 ribu. Dengan harga rata-rata kendaraan baru yang sudah mendekati US$40 ribu, tentu menjadi rentang harga yang sangat sempit untuk sebuah kendaraan listrik.

Saat ini, banyak dari listrik di pasaran adalah apa yang digambarkan Robinson sebagai produk "halo". Artinya, kendaraan premium yang menarik perhatian dan dijual dengan harga tinggi, tetapi tidak dimaksudkan untuk dijual dalam volume besar kepada pembeli biasa. 

Kesimpulannya, apakah akan ada kendaraan listrik yang terjangkau dan menarik? “Pertanyaan bagus,” katanya.

Masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi daripada transportasi umum

Banyak dari apa yang dilaporkan Deloitte tidak mengejutkan, beberapa hal penting yang menjadi sorotan, yaitu:

  1. Masyarakat masih lebih memilih kendaraan pribadi daripada transportasi umum,
  2. bersedia menerima teknologi tinggi selama mereka tidak perlu membayarnya,
  3. masyarakat masih ingin membeli kendaraan baru secara langsung dan tidak melalui internet, dan
  4. konsumen menerima dengan baik kendaraan listrik selama harganya terjangkau dan setidaknya dengan sistem sebaik yang kendaraan yang mengandalkan pembakaran internal.

Wawasan besar datang dengan subjek intensionalitas. Itulah yang diharapkan konsumen untuk dibeli selanjutnya.

Rencana agresif bahan bakar alternatif

Di berbagai belahan dunia, pemerintah bergerak maju dengan rencana agresif untuk mengubah armada kendaraan menjadi bahan bakar alternatif. Sebaliknya, apa yang ditekankan dari laporan Deloitte adalah bahwa ambisi dan kenyataan adalah hal berbeda dan belum tentu sejalan.

Negara lain lebih menginginkan EV. Contohnya, di Korea Selatan sebanyak 23 persen pembeli mengantisipasi pembelian kendaraan listrik untuk berikutnya, sementara di Cina hanya 17 persen.

Hasil juga menunjukkan, bahwa di hampir semua negara lebih tertarik pada kendaraan hibrida dan hibrida plug-in. Dua kategori ini tampaknya menjadi daya tarik sebagai alternatif untuk kendaraan Internal Combustion Engine (ICE) murni.

Ada banyak indikasi lain dalam laporan Deloitte, bahwa apa yang ada di depan kita adalah masa depan kendaraan yang penuh gejolak. “Ada banyak taruhan besar dan all-in yang dibuat,” tegas Robinson. “Kita berada tepat di tengah-tengah waktu yang sangat kacau.”

Related Articles