Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Tarif AS Ancam Industri Alas Kaki, Asosiasi Harap Ada Pelonggaran

ilustrasi pabrik tekstil
ilustrasi pabrik tekstil (pexels.com/EqualStock IN)
Intinya sih...
  • Aprisindo menilai tarif AS 19% mengancam industri alas kaki nasional
  • Dampaknya, ekspor turun 23,14%, berdampak pada produktivitas dan penyerapan tenaga kerja
  • Aprisindo mendukung negosiasi Pemerintah untuk tarif 0% atau lebih rendah dari ketentuan saat ini
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menilai pengenaan tarif resiprokal 19 persen oleh Amerika Serikat (AS) membebani dan mengancam keberlangsungan industri alas kaki nasional.

Direktur Eksekutif Aprisindo, Yoseph Billie Dosiwoda mengungkapkan, penerapan tarif 19 persen untuk ekspor ke AS sudah berlaku sejak 7 Agustus 2025, yang sebelum nya berada diangka 10 persen. "Urgensi tarif AS diharapkan lebih rendah dibandingkan negara pesing dengan alasan faktual dan logis," kata Yoseph melalui keterangan tertulis yang dikutip di Jakarta, Senin (5/1).

Alasan pertama, menurutnya, adalah nilai upah yang masih tinggi. Selain itu, Aprisindo menilai biaya produksi juga masih tinggi. termasuk harga listrik, gas, importasi bahan baku, sertifikasi mesin, PPN jasa subcont dan perizinan lainnya. Alasan lainnya ialah perjanjian Indonesia-IEU-CEPA sebagai perluasan pasar tarif 0 persen masih proses ratifikasi sampai kuartal-2027 sehingga belum mendukung iklim bisnis. "Belum lagi berbagai biaya di luar produksi yang membebani pelaku industri," tambah Yoseph.

Dampak dari tarif AS, ekspor alas kaki turun 23,14%

ilustrasi alas kaki (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi alas kaki (pexels.com/cottonbro studio)

Untuk itu, Aprisindo mendukung langkah Pemerintah Indonesia menegosiasikan tarif hingga 0 persen atau lebih rendah dari ketentuan saat ini. Ia mengungkapkan, dampak tarif AS terhadap ekspor alas kaki dari RI ke AS sejak Agustus hingga September 2025 mengalami penurunan 23,14 persen (YoY) berdasarkan data BPS.

"Karena dampak tarif masuk ke AS menyebabkan penurunan pemesanan, tentu ini akan memberikan dampak produktivitas dengan kejadian lay-off yang harus dihindari. Ini sangat berat pelaku Industri alas kaki sebagai contoh ini sudah terjadi di sektor lain seperti tekstil," kata Yoseph.

Ia juga menegaskan, negara perlu melindungi industri sampai cukup kuat bersaing secara global. Aprisindo yakin Pemerintah memiliki perhatian memajukan industri padat karya alas kaki nasional.

Apalagi, industri alas kaki nasional menurut data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,  telah memberdayakan  lebih dari 960 ribu pekerja dan sebagai penyangga ekonomi nasional. "Tujuan Aprisindo mendukung tarif resiprokal lebih rendah dari negara pesaing untuk menyelamatkan produktivitas serapan tenaga untuk dapat stabil agar industri ini tetap sunrise," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Business

See More

Pertamina EP Pastikan Aset Migas di Venezuela Aman dari Serangan AS

05 Jan 2026, 17:28 WIBBusiness