Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Di Tengah Gejolak Geopolitik, Arus Peti Kemas Nasional Tumbuh 5,5 Persen
ilustrasi kapal kontainer dan derek di pelabuhan yang menampilkan perdagangan dan logistik global (pexels.com/Wolfgang Weiser)

Jakarta, FORTUNE – Di tengah tekanan geopolitik global yang memicu kenaikan biaya logistik dan gangguan rantai pasok internasional, arus peti kemas nasional justru menunjukkan pertumbuhan positif pada semester I-2026.

PT Pelindo Terminal Petikemas membukukan throughput 6,63 juta twenty-foot equivalent units (TEUs) atau naik 5,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi layanan pelayaran melalui pembukaan rute baru, penambahan kunjungan kapal (extra call), serta meningkatnya aktivitas perdagangan domestik dan internasional.

"Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas pelayaran, pembukaan layanan (service) baru, penambahan kunjungan kapal, direct call internasional di kawasan Indonesia Timur, hingga meningkatnya kebutuhan logistik untuk mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN)," kata Widyaswendra dalam keterangannya, Senin (27/7).

Kinerja positif tersebut tecermin baik pada arus peti kemas domestik maupun internasional. Arus peti kemas internasional mencapai 2,27 juta TEUs, naik 9,13 persen, sedangkan peti kemas domestik tumbuh 3,72 persen menjadi 4,36 juta TEUs.

Dari sisi perdagangan luar negeri, arus impor mencapai 1,11 juta TEUs atau naik 11,67 persen, sementara ekspor mencapai 1,13 juta TEUs atau naik 6,70 persen dibandingkan dengan semester I tahun lalu.

Menurut Widyaswendra, capaian tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan Indonesia masih mampu tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selain pembukaan layanan baru, Pelindo menilai modernisasi terminal, peningkatan konektivitas antarpelabuhan, serta penguatan kualitas layanan turut berperan menjaga kelancaran rantai pasok nasional sekaligus meningkatkan daya saing logistik Indonesia.

Wakil Ketua Umum Bidang Maritim dan Pelabuhan DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Harry Sutanto, menilai pertumbuhan arus peti kemas merupakan salah satu indikator penting untuk membaca kondisi perekonomian nasional.

Menurutnya, meskipun dunia masih menghadapi ketidakpastian, kenaikan throughput menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan.

"Kalau impor naik, sekitar 78 persen di antaranya merupakan bahan baku dan mesin. Artinya prospek ekonomi, terutama sektor manufaktur, masih tumbuh," kata Harry.

Ia menjelaskan, peningkatan aktivitas perdagangan turut mendorong perusahaan pelayaran membuka layanan baru dan menambah frekuensi kunjungan kapal di sejumlah pelabuhan.

Salah satu pelabuhan dengan pertumbuhan tertinggi adalah Pelabuhan Panjang, Lampung, yang mencatat kenaikan arus peti kemas sebesar 17,4 persen pada semester pertama tahun ini.

"Hampir semua pelabuhan menunjukkan pertumbuhan positif, meskipun tidak sama besar. Di Sumatra misalnya, Pelabuhan Panjang tumbuh cukup tinggi. Pelabuhan-pelabuhan Pelindo sendiri mewakili sekitar 90 persen aktivitas perdagangan nasional," ujarnya.

Meski demikian, Harry menilai perusahaan pelayaran masih bersikap hati-hati dalam membuka rute baru. Menurutnya, operator pelayaran hanya akan menambah layanan apabila tersedia muatan yang memadai sehingga pengoperasian dapat berlangsung secara berkelanjutan.

"Perusahaan pelayaran sangat berhitung dalam membuka rute baru. Mereka harus memastikan muatannya tersedia dan berkelanjutan sebelum memutuskan membuka layanan secara rutin," katanya.

Di sisi lain, Harry mengingatkan industri pelayaran global masih menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik yang memengaruhi jalur perdagangan internasional.

Perubahan rute pelayaran membuat biaya angkutan laut meningkat, terutama pada rute Asia–Eropa yang mengalami kenaikan tarif freight sekitar 30 persen hingga 70 persen. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut meningkatkan biaya impor bagi pelaku usaha. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article