BUSINESS

Sertifikasi Keselamatan 3 Produk Daihatsu Dicabut Otoritas Jepang

Daihatsu juga diminta lakukan perombakan.

Sertifikasi Keselamatan 3 Produk Daihatsu Dicabut Otoritas JepangIlustrasi pameran mobil Daihatsu di GIIAS 2023. (Dok. Daihatsu)

by Eko Wahyudi

17 January 2024

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Otoritas Jepang sangat serius terhadap penanganan skandal Daihatsu menyusul pengabaian sistem terhadap keselamatan yang dilakukan perusahaan tersebut. Setidaknya ada tiga tiga model yang dibuat oleh Daihatsu Motor yang dicabut sertifikasi keselamatannya

Nikkei Asia melansir, Rabu (17/1), bahwa Kementerian Perhubungan Jepang mengumumkan keputusan tersebut sekaligus meminta Daihatsu untuk melakukan perbaikan dan reorganisasi agar kejadian ini tidak terulang lagi. Pihaknya dapat menjatuhkan hukuman lebih lanjut seiring dengan masih berjalannya penyelidikan.

“Skandal tersebut telah mengguncang fondasi sistem sertifikasi, dan mengkhawatirkan kepercayaan terhadap sektor manufaktur Jepang," kata Menteri Perhubungan Jepang, Tetsuo Saito.

Model yang terkena dampak adalah Grand Max milik Daihatsu, TownAce milik Toyota, dan Bongo produk dari Mazda Motor.

Pencabutan sertifikasi ini pada dasarnya melarang produsen menghasilkan produk yang terkena dampak dalam skala besar. Untuk mendapatkannya kembali, diperlukan proses peninjauan yang jauh lebih ketat dan mungkin memakan waktu lebih lama dari biasanya.

Daihatsu akan menjadi perusahaan Jepang ketiga yang sertifikasinya dicabut setelah Hino Motors pada 2022 dan Toyota Industries tahun lalu. Hino memerlukan waktu hampir setahun untuk mulai mendapatkan kembali sertifikasinya dan masih belum memulihkan semuanya, setelah terbukti memalsukan data emisinya. Perusahaan pun dikenakan denda hingga 500.000 yen atau sekitar US$3.400.

Kementerian Perhubungan menyalahkan Daihatsu karena dianggap lalai dalam urusan keselamatan. Produsen mobil tersebut ditemukan menggunakan pengatur waktu untuk mengaktifkan air bag selama pengujian, dibandingkan memastikan sensor menyala ketika mendeteksi tabrakan. Tentu, hal ini sangat berbahaya ketika air bag tidak berfungsi saat dibutuhkan.

Otoritas menilai kesalahan ini telah berlangsung lama, dan pihaknya mendesak perusahaan untuk merombak struktur perusahaan secara mendasar. Mereka juga telah memerintahkan perusahaan untuk mengeluarkan laporan pada bulan mendatang mengenai rencana pencegahan agar kasus serupa tidak terulang kembali.

Daihatsu akan merespons dengan serius

Presiden Daihatsu, Soichiro Okudaira, meminta maaf kepada para pemangku kepentingan dan pihaknya akan merespons perintah tersebut dengan sangat serius.

Daihatsu telah menghentikan produksi di seluruh pabriknya di Jepang hingga akhir Januari. Perusahaan tidak mengungkapkan rencana produksi untuk Februari kepada pemasok pada Selasa kemarin. Produsen mobil biasanya memesan komponen beberapa bulan sebelumnya.

Skandal ini dapat berpengaruh pada kemitraan dengan perusahaan lain. Pada pekan lalu, Suzuki Motor mengatakan pihaknya akan menunda peluncuran kendaraan mini listrik komersial – yang dikembangkan bersama dengan Toyota Motor dan Daihatsu, dan akan dipasok oleh Daihatsu – yang dijadwalkan akan dirilis pada Maret 2024.

Meskipun ketiga model yang sertifikasinya dicabut hanya menyumbang sekitar 5 persen dari penjualan Daihatsu, dampaknya bisa lebih buruk jika skandal tersebut menyebar ke kendaraan penumpangnya. Sejauh ini ditemukan 171 masalah yang mencakup 64 model, termasuk beberapa yang sudah dihentikan produksinya.