Ford Berpeluang Masuk Bisnis Robotaxi Lewat Teknologi Mengemudi Tanpa Melihat Jalan

- Ford Motor Co. berencana meluncurkan teknologi terbaru dalam dua tahun ke depan yang memungkinkan pengemudi mengalihkan pandangan dari jalan saat berkendara.
- Versi terbaru fitur bantuan pengemudi BlueCruise milik Ford ini akan pertama kali diperkenalkan pada lini kendaraan pikap listrik kecil terbaru Ford.
- Ford meyakini memiliki keunggulan kompetitif karena teknologi tersebut dikembangkan secara internal dengan komponen berbiaya lebih rendah.
Jakarta, FORTUNE - Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat (AS), Ford Motor Co. berencana meluncurkan teknologi terbaru dalam dua tahun ke depan yang memungkinkan pengemudi mengalihkan pandangan dari jalan saat berkendara—yang berpotensi membawa sang pabrikan masuk ke bisnis robotaxi yang sedang berkembang.
Dikutip dari Bloomberg, versi terbaru fitur bantuan pengemudi BlueCruise milik Ford ini akan pertama kali diperkenalkan pada lini kendaraan pikap listrik kecil terbaru Ford. Teknologi tersebut memungkinkan pengemudi bekerja atau menikmati hiburan selama kendaraan melaju dengan aman.
Ford juga tengah mempertimbangkan berbagai skema harga untuk teknologi ini, mulai dari biaya satu kali, tarif per mil, hingga model berlangganan. Perusahaan meyakini memiliki keunggulan kompetitif karena teknologi tersebut dikembangkan secara internal dengan komponen berbiaya lebih rendah.
Ford mengatakan, perusahaan akan meluncurkan teknologi otonomi Level 3 pada 2028 melalui sistem BlueCruise, yang saat ini memungkinkan pengemudi melepaskan tangan dari kemudi, namun masih mengharuskan mata tetap menghadap ke jalan. Sedangkan versi baru yang memungkinkan pengemudi tidak lagi menatap jalan akan memulai debutnya pada model kendaraan pikap listrik kecil yang dibanderol dengan harga sekitar US$30.000, ujar Doug Field, Chief EV, Digital, and Design Officer Ford, dalam sebuah wawancara.
Dengan adanya teknologi ini, pengemudi dapat melakukan aktivitas seperti video meeting atau menikmati hiburan sambil tetap berkendara dengan aman. Menurut Ford, ini adalah fitur masa depan yang akan semakin dibutuhkan konsumen.
“Dari sekian banyak hal yang dibutuhkan orang saat ini, waktu berada di urutan teratas,” kata Field melalui sambungan telepon dari Las Vegas, tempat ia berbicara di ajang CES (Consumer Electronics Show). “Orang tidak ingin stres karena harus mengemudi. Kami yakin teknologi ini akan sangat menarik.”
Jika tingkat penerimaan konsumen setinggi yang diharapkan Ford, Field tidak menutup kemungkinan perusahaan akan memanfaatkan teknologi ini untuk masuk ke bisnis robotaxi. Ia menilai langkah tersebut sebagai pengembangan alami dari unit kendaraan komersial Ford yang terus tumbuh, Ford Pro.
“Kami tidak ingin terburu-buru, tetapi kami merasa memiliki platform yang sangat menarik untuk dikembangkan bersama mitra,” ujar Field ketika disinggung soal potensi bisnis robotaxi. “Sejauh mana kami mengembangkan Level 3 akan menentukan strategi jangka panjang kami.”
Jika Ford benar-benar masuk ke persaingan robotaxi, langkah ini akan menjadi perubahan arah signifikan setelah pada 2022 perusahaan menutup unit kendaraan otonomnya, Argo AI, dan membatalkan rencana pengembangan mobil sepenuhnya tanpa pengemudi. Saat itu, Field menyebut pengembangan mobil otonom penuh sebagai sesuatu yang “lebih sulit daripada mengirim manusia ke bulan.”
Sedangkan saat ini, Field melihat ada “banyak faktor yang memicu kebangkitan kembali” potensi otomasi layanan ride-hailing. Adapun, Tesla dan Alphabet—induk Google—menjadi pemain dominan dalam upaya otomatisasi layanan tersebut, yang dipandang Wall Street sebagai peluang bisnis bernilai besar.
Untuk sementara, Ford masih fokus pada bagaimana menjual teknologi otonomi Level 3 kepada konsumen. Skema harga belum diputuskan, dengan opsi biaya satu kali, tarif per jarak tempuh, atau sistem berlangganan masih dalam tahap kajian.
Karena dikembangkan secara internal dengan komponen berbiaya lebih rendah, Ford yakin teknologinya akan lebih terjangkau dan memiliki keunggulan dibanding para pesaing.
“Teknologi ini kami terapkan pada platform kendaraan dengan harga mulai di kisaran US$30.000, bukan pada mobil seharga US$70.000 hingga US$100.000 seperti yang dilakukan banyak kompetitor,” kata Field. “Itu perbedaan yang sangat besar.”

















