Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
HRTA Ramal Permintaan Masih Kuat, Meski Harga Emas Terkontraksi
Produk EMASKU dari PT Hartadinata Abadi Tbk/Dok. Fortune IDN/Desy Y.
  • HRTA menilai penurunan harga emas global 8 persen pada Juni 2026 hanya bersifat jangka pendek, dengan permintaan tetap kuat berkat tren investasi dan tabungan emas masyarakat.
  • Fundamental industri emas dinilai solid karena faktor geopolitik, kebijakan suku bunga global, serta berkembangnya ekosistem bullion di Indonesia yang terus memperluas akses investasi emas.
  • Pada kuartal I 2026, HRTA mencatat pertumbuhan pendapatan 196,96 persen dan laba bersih 189,48 persen, didorong lonjakan penjualan emas murni serta kolaborasi strategis dengan Bank Mandiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Harga emas global sepanjang Juni 2026 terkoreksi 8 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski begitu, emiten produsen PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memproyeksikan pelemahan harga hanya bersifat jangka pendek, sementara permintaan emas diyakini tetap kuat seiring meningkatnya tren masyarakat berinvestasi dan menabung emas.

Direktur Investor Relations HRTA, Thendra Crisnanda, mengatakan koreksi harga merupakan bagian dari siklus pasar komoditas. Menurutnya, faktor fundamental yang selama ini menopang industri emas masih tetap solid, mulai dari ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, hingga berkembangnya ekosistem bullion di Indonesia.

"Kami melihat fundamental permintaan emas masih tetap kuat. Kesadaran masyarakat untuk menabung emas terus meningkat, ditambah perkembangan ekosistem bullion yang semakin luas. Karena itu, kami tetap optimistis terhadap prospek industri emas dalam jangka panjang," ujar Thendra dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7).

Sepanjang Juni, harga emas global terkoreksi sekitar 8 persen dibandingkan bulan sebelumnya setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga dan memperkuat ekspektasi kebijakan higher for longer. Namun, di pasar domestik, harga emas dalam rupiah masih naik sekitar 5,5 persen secara year-to-date karena pelemahan nilai tukar rupiah.

Di tengah pasar yang berfluktuasi, HRTA tetap berfokus memperkuat fundamental bisnis melalui penerapan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi di seluruh rantai pasok. Perseroan juga memperluas kolaborasi strategis guna memperkuat ekosistem industri emas nasional.

Senada, Analis BCA Sekuritas, Jesselyn juga mengatakan koreksi harga emas saat ini lebih merupakan penyesuaian jangka pendek dibandingkan perubahan fundamental pasar.

Menurutnya, ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global masih akan menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Kondisi tersebut diperkirakan tetap menopang permintaan emas batangan, termasuk produk yang dipasarkan HRTA.

Sementara Equity Research Analyst BNI Sekuritas, Vera, menilai pelemahan harga lebih dipicu faktor likuiditas pasar dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, bukan melemahnya permintaan.

Vera juga melihat perubahan perilaku masyarakat dari membeli perhiasan menjadi menabung emas, serta berkembangnya industri bullion di Indonesia, akan menjadi katalis pertumbuhan bagi HRTA dalam beberapa tahun mendatang.

Pada kuartal I 2026, HRTA membukukan pendapatan tumbuh 196,96 persen secara tahunan, sementara laba bersih meningkat 189,48 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan volume penjualan emas murni sebesar 75,18 persen, mencerminkan tingginya permintaan masyarakat terhadap produk investasi emas.

Di sisi lain, HRTA terus memperkuat ekspansi bisnis melalui kerja sama dengan Bank Mandiri untuk mendukung layanan transaksi perbankan, pengelolaan kas, dan pengembangan layanan kepada pelanggan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan memperluas ekosistem bullion sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap investasi emas.

Ke depan, HRTA menilai meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perencanaan keuangan serta semakin berkembangnya ekosistem bullion akan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri emas nasional, meski harga logam mulia masih dibayangi volatilitas pasar global.

"Kami percaya kebutuhan masyarakat terhadap emas akan terus bertumbuh seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang. Oleh karena itu, kami akan terus menghadirkan berbagai inovasi agar masyarakat dapat mengakses produk emas dengan lebih mudah, aman, dan nyaman,” ujar Thendra.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article