Jakarta, FORTUNE - Merek wafer cokelat global, KitKat, melaporkan pencurian 12 ton atau sebanyak 413.793 batang KitKat saat proses distribusi di Eropa.
Perusahaan induk perusahaan, Nestlé, mengungkapkan kronologi kehilangan bermula pada saat truk pengangkut membawa produk dari lini terbaru dari fasilitas produksi mereka di Italia menuju Polandia sebelum akhirnya menghilang.
"Kendaraan dan muatannya masih belum ditemukan," dikutip dari Los Angeles Times, Senin (30/3).
Insiden kehilangan ini berpotensi mengganggu ketersediaan produk KitKat di rak supermarket di sejumlah negara Eropa.
Sementara itu, Nestle memperkirakan kemungkinan produk curian tersebut masuk ke jalur distribusi tidak resmi di pasar regional. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan menegaskan bahwa setiap produk dapat dilacak melalui kode batch unik yang tertera pada kemasan.
Dengan sistem ini, konsumen, pengecer, maupun grosir dapat mengidentifikasi apakah produk yang beredar merupakan bagian dari pengiriman yang dicuri dengan memindai nomor batch.
Jika terdeteksi, pihak terkait akan memperoleh instruksi untuk melaporkan temuan tersebut kepada perusahaan, yang selanjutnya akan menindaklanjuti bukti yang ada.
Manajemen KitKat menyatakan bahwa aparat penegak hukum juga dapat memanfaatkan kode batch tersebut untuk melacak peredaran produk curian.
"Kami menghargai selera luar biasa para pelaku kriminal, faktanya pencurian kargo merupakan masalah yang semakin meningkat bagi bisnis dari semua ukuran," demikian pernyataan manajemen KitKat, dikutip dari The Guardian.
Meningkatnya kecanggihan modus operandi, mendorong mereka mempublikasikan kasus ini guna meningkatkan kewaspadaan pelaku industri terhadap tren kejahatan serupa yang kian marak di berbagai wilayah distribusi global.
KitKat adalah merek cokelat wafer batang yang saat ini diproduksi oleh Nestlé, setelah sebelumnya dikembangkan oleh Rowntree's di Inggris sejak era 1930-an. Saat ini KitKat telah dipasarkan secara luas di lebih dari 80 negara di dunia.
