Jakarta, FORTUNE - Perusahaan pengembang properti Pakuwon Group hingga Lippo Group buka suara terkait pemasangan pagar tinggi di sejumlah properti mall yang dikelola perusahaan.
Pendiri Pakuwon Group, Alexander Tedja, mengatakan pemasangan pagar tersebut merupakan keputusan dan inisiatif manajemen lokal, bukan arahan dari pemegang saham maupun kantor pusat.
"Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar," kata Alex dikutip dari keterangan resmi, Senin (3/8).
Alex mengatakan, tidak ada alasan khusus terkait pemasangan pagar karena situasi keamanan saat ini masih aman. Ia pun memastikan pagar yang sempat dipasang di Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, akan segera dibongkar.
Pakuwon saat iji mengelola sejumlah pusat perbelanjaan yang tersebar di berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Bekasi, Yogyakarta, dan Solo. Pagar tinggi tersebut sebelumnya diketahui terpasang di mal Kota Kasabelanka Jakarta, Pakuwon Mall Bekasi, serta sejumlah mal di Surabaya termasuk Tunjungan Plaza, Royal Plaza, dan Pakuwon City Mall.
Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia sekaligus Chairman Lippo Group, James T. Riady, turut menanggapi isu pemasangan pagar tinggi yang tengah ramai di masyarakat
Menurutnya, Lippo memang pernah memasang pagar di beberapa propertinya ketika Indonesia menghadapi kerusuhan pada masa lalu. Namun, pagar-pagar tersebut telah lama dibongkar seiring membaiknya situasi keamanan.
"Dulu semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan. Sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang," ujar James.
Pemasangan pagar di beberapa lokasi hanyalah kasus yang bersifat terisolasi (isolated cases) dan tidak mencerminkan kondisi industri pusat perbelanjaan secara keseluruhan. Kebijakan tersebut sepenuhnya merupakan keputusan manajemen setempat, bukan arahan pemilik perusahaan.
"Itu hanya inisiatif manajemen lokal, bukan kebijakan pemilik ataupun kantor pusat. Bahkan setelah dikonfirmasi, pagar seperti itu memang tidak diperlukan," tegasnya.
Di sisi lain, James menilai tidak ada alasan bagi masyarakat untuk mengkhawatirkan kondisi sosial maupun ekonomi. Menurutnya, daya beli masyarakat tetap terjaga berkat berbagai kebijakan pemerintah, seperti mempertahankan harga BBM bersubsidi, LPG 3 kilogram, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi.
“Selama BBM subsidi tidak naik, LPG 3 kilogram tidak naik, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi tetap, tidak ada alasan masyarakat gelisah,” ujarnya.
Stabilitas tersebut tercermin dari perkembangan industri pusat perbelanjaan yang justru sedang menikmati pertumbuhan sangat kuat. Permintaan ruang usaha dari para tenant saat ini bahkan melampaui ketersediaan ruang di banyak mal.
Seiring prospek industri tersebut, Lippo Group terus melakukan ekspansi. Saat ini grup tersebut mengelola 71 mal dan 35 shopping center, 106 pusat perbelanjaan, yang tersebar di lebih dari 29 kota di Indonesia. Menurut James, pangsa mal dan shopping center Lippo sekitar 25 persen dari total ruang ritel modern di Indonesia.
Jaringan Lippo Malls tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Bandung, Tangerang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, hingga Medan, Palembang, Bali, Manado, Kendari, dan berbagai kota lainnya. Sejumlah mal ikonik yang dikelola antara lain Lippo Mall Kemang, Lippo Mall Puri, Plaza Semanggi, Lippo Mall Nusantara, Senayan Park (SPARK), Bandung Indah Plaza, Sun Plaza Medan, Palembang Icon, dan Lippo Mall Kuta.
"Kami terus membuka pusat perbelanjaan baru karena permintaan sangat tinggi. Kalau situasi tidak aman, tentu para tenant tidak akan berlomba membuka toko," ujar James.
Sementara itu, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Alexander Tedja menyusul mencuatnya isu pemasangan pagar di pusat perbelanjaan.
Pemilik mall memastikan pagar di Kota Kasablanka akan dibongkar, sedangkan penataan di properti Pakuwon lainnya akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan persepsi keliru di masyarakat.
"Saya juga sudah berbicara langsung dengan Pak Alex Tedja. Beliau mengatakan itu hanya inisiatif manajemen lokal dan akan segera diselesaikan," ujar Maruarar.
Di sisi lain, Maruarar mengapresiasi pernyataan Alexander Tedja dan James Riady perihal kebijakan pembongkaran dan optimismenya akan kondisi keamanan nasional saat ini yang diniai kondusif. "Mereka adalah pemilik mal dan hotel di Indonesia. Sikap kedua pemilik mal ini patut diapresiasi karena situasi keamanan kita memang baik,” katanya.
Maruarar berharap penjelasan dari dua pemilik mal tersebut dapat mengakhiri spekulasi yang berkembang di masyarakat. Menurut dia, langkah Lippo Group dan Pakuwon menjadi sinyal positif bahwa dunia usaha tetap optimistis terhadap stabilitas keamanan dan prospek ekonomi nasional.
"Yang harus dibangun adalah optimisme. Faktanya, situasi keamanan kondusif, aktivitas ekonomi berjalan normal, pusat-pusat perbelanjaan ramai dikunjungi, bahkan permintaan ruang usaha terus meningkat. Tidak ada alasan untuk membangun persepsi seolah-olah kondisi keamanan memburuk," tutup Maruarar.
