MR DIY Masuk Sektor Pendidikan, Perluas Akses STEM Nasional

Jakarta, FORTUNE - PT Daya Intiguna Yasa Tbk atau MR. D.I.Y. Indonesia memperluas peran bisnisnya di luar ritel dengan meluncurkan inisiatif pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Direktur Utama MR. D.I.Y. Indonesia, Edwin Cheah, mengatakan bagi perusahaan ritel perlengkapan rumah tangga terbesar di Asia Tenggara ini, masuk ke sektor pendidikan bukan sekadar aktivitas tanggung jawab sosial (CSR), melainkan bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun ekosistem yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
"Akses harus menjadi fondasi, baik itu akses terhadap produk kebutuhan sehari-hari maupun akses terhadap pembelajaran yang relevan," ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (14/4).
Menurutnya, inisiatif bertajuk “Menginspirasi Generasi Inovator” ini menjadi langkah strategis perusahaan dalam memperkuat akses pembelajaran sekaligus membangun fondasi talenta masa depan. Selan itu, memperluas akses pengalaman belajar STEM yang lebih mudah dijangkau dan menyenangkan bagi lebih banyak anak di berbagai wilayah Indonesia.
Program ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aplikatif, mulai dari perakitan proyek kreatif hingga simulasi berbasis pemecahan masalah. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis siswa sejak dini, kebutuhan keterampilan yang semakin krusial di tengah transformasi ekonomi berbasis teknologi.
MR. D.I.Y. Indonesia memulai program ini dari wilayah prioritas pembangunan, yakni Waingapu, Sumba Timur, pada 10 April 2026. Pilihan lokasi ini mencerminkan strategi inklusif perusahaan dalam menjangkau daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan berkualitas.
Sebanyak 341 siswa dari 10 sekolah di Sumba Timur terlibat dalam tahap awal program, dengan dukungan Yayasan SUKA Indonesia untuk memastikan implementasi sesuai kebutuhan lokal. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan di kawasan Indonesia Timur, yang tengah menjadi fokus pembangunan nasional.
Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, menilai pendekatan berbasis praktik menjadi nilai tambah dalam proses pembelajaran. “Kami melihat bahwa pendekatan pembelajaran yang interaktif dan berbasis praktik menjadi semakin penting untuk melengkapi proses belajar di sekolah," katanya.
Menurutnya, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mencoba dan bereksplorasi secara langsung. Hal ini dapat membantu meningkatkan minat belajar sekaligus memperkuat keterampilan yang relevan bagi masa depan.
Edwin menegaskan bahwa program ini bukan inisiatif sesaat. Setelah fase awal di wilayah 3T, program ini akan diperluas ke Jakarta dengan target menjangkau 2.000 siswa dari 10 sekolah, bekerja sama dengan Indonesia Mengajar. Dengan demikian, perusahaan ingin mengintegrasikan pendekatan berbasis komunitas yang berskala nasional.
"Ini bukan inisiatif jangka pendek, tetapi bagian dari komitmen berkelanjutan untuk membuka akses yang lebih luas agar setiap anak memiliki ruang untuk belajar, mencoba, dan berkembang,” katanya.
Langkah ini mencerminkan tren yang kian menguat di kalangan korporasi, yakni mengintegrasikan bisnis inti dengan inisiatif sosial. Dengan lebih dari 5.500 toko di Asia, Eropa, dan Afrika serta sekitar 18.000 produk dalam 10 kategori, MR. D.I.Y. memiliki skala yang memungkinkan sinergi antara ritel dan program pemberdayaan masyarakat dan menjadi enabler yang membuka peluang lahirnya generasi inovator baru.


















