Jakarta, FORTUNE – Daya saing industri batu bara Indonesia dinilai tidak bisa lagi hanya mengandalkan keunggulan biaya produksi. Di tengah tekanan permintaan dari pasar utama, terutama Cina dan India, kemampuan pasar global menyerap batu bara Indonesia menjadi tantangan baru bagi industri komoditas tersebut.
Direktur INDEF Green Transition Initiative, Imaduddin Abdullah, mengatakan dalam urusan perbandingan biaya, batu bara Indonesia masih cukup kompetitif dibandingkan dengan negara lain. Namun, ukuran daya saing tidak berhenti pada kemampuan memproduksi komoditas dengan biaya murah, melainkan juga seberapa besar pasar global mampu menyerap produk tersebut.
“Ada aspek market competitiveness,” kata Imaduddin saat Talkshow dengan tema Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Opex di Jakarta, Jumat (11/9).
Menurut dia, tantangan tersebut kian terlihat karena sekitar 66 persen ekspor batu bara Indonesia mengalir ke Cina dan India. Kedua negara tersebut mulai mengurangi impor dari Indonesia, antara lain karena karakteristik batu bara Indonesia yang cenderung memiliki kalori lebih rendah, sementara kebutuhan pasar mereka makin mengarah pada batu bara dengan kalori lebih tinggi yang dapat dipasok negara lain.
Data Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA) memperlihatkan tekanan tersebut. Ekspor batu bara Indonesia ke Asia pada Agustus mencapai 35,83 juta ton, turun 23,66 persen dibandingkan dengan Agustus tahun sebelumnya dan 6,59 persen dibandingkan Juli. Asia menyumbang 99,3 persen dari total ekspor batu bara Indonesia pada bulan tersebut.
Cina masih menjadi pasar terbesar. Namun, ekspor ke negara tersebut pada Agustus 14,47 juta ton, turun 30,78 persen secara tahunan. Sementara itu, ekspor ke India mencapai 7,10 juta ton atau turun 15,83 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, ekspor batu bara melalui jalur laut sepanjang Januari–Agustus mencapai 302 juta ton, turun 4,51 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu. Pengiriman ke Cina daratan mencapai 116 juta ton, turun 2,73 persen.
Imaduddin menilai kondisi tersebut menunjukkan keunggulan biaya produksi saja tidak cukup menjamin keberlanjutan industri batu bara Indonesia. Apalagi, ketergantungan terhadap dua pasar utama membuat perubahan permintaan di Cina dan India dapat langsung memberikan tekanan terhadap kinerja industri domestik.
Di sisi lain, kontribusi batu bara terhadap perekonomian Indonesia masih relatif besar. Karena itu, menurut Imaduddin, persoalan yang perlu diantisipasi bukan semata-mata penurunan permintaan saat ini, melainkan risiko ekonomi yang muncul jika Indonesia dan perusahaan tambang gagal melakukan diversifikasi dalam jangka panjang.
“Kontribusi batu bara sebenarnya masih cukup baik, namun risikonya sangat tinggi dan ini perlu diantisipasi. Yang lebih khawatir, jika tidak dapat diversifikasi, kita tidak punya ketahanan ekonomi ketika nanti ada perubahan pada batu bara,” ujarnya.
Menurut Imaduddin, perusahaan tambang perlu merespons siklus bisnis yang naik turun dengan kombinasi efisiensi, peningkatan teknologi, dan diversifikasi. Pemangkasan biaya memang menjadi respons paling mudah ketika bisnis memasuki tekanan, tetapi strategi tersebut memiliki keterbatasan karena tidak semua biaya dalam kegiatan produksi dapat dipangkas.
“Dalam jangka pendek penting melakukan efisiensi dan meningkatkan teknologi. Tapi dalam jangka panjang yang paling penting adalah diversifikasi,” katanya.
Ia menambahkan, diversifikasi tidak hanya diperlukan di tingkat negara, tetapi juga di tingkat perusahaan. Sejumlah perusahaan batu bara, menurut dia, mulai memperluas bisnisnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas tersebut. Strategi ini dinilai penting karena meski margin bisnis batu bara masih relatif besar dibandingkan sektor lain, tingkat ketidakpastiannya juga semakin tinggi.
Imaduddin juga mendorong pemerintah mengarahkan insentif bukan untuk mempertahankan perusahaan yang memiliki biaya produksi tinggi, melainkan untuk membantu perusahaan melakukan transisi. Salah satu contohnya adalah mendorong efisiensi penggunaan bahan bakar hingga elektrifikasi kendaraan operasional, termasuk kendaraan berat yang hingga kini belum banyak memperoleh dukungan insentif.
“Future proof-nya adalah melakukan diversifikasi, sehingga relatif bisa aman dari berbagai gejolak yang terjadi,” ujarnya.
