PLN Genjot Transisi Energi, Dua Proyek PLTP 220 MW Siap Dibangun di Bengkulu

- PLN memperkuat langkahnya dalam mendukung transisi energi nasional dengan mengembangkan PLTP di Provinsi Bengkulu hingga 220 MW.
- Dua proyek besar itu, PLTP Kepahiang 110 MW dan PLTP Hululais 110 MW, sebagai bagian dari implementasi RUPTL.
- PLN juga menyiapkan strategi melalui kerja sama dengan para pengembang panas bumi.
Jakarta, FORTUNE - PT PLN (Persero) mempercepat langkah transisi energi nasional dengan memulai pengembangan dua Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) baru di Provinsi Bengkulu. Proyek strategis berkapasitas total 220 megawatt (MW) ini bertujuan memperkuat bauran energi baru terbarukan (EBT) dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Dua proyek utama yang disiapkan adalah PLTP Kepahiang 110 MW di Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong, serta PLTP Hululais 110 MW di Kabupaten Lebong. Proyek Hululais ditargetkan dapat beroperasi secara komersial pada 2028, sementara proyek Kepahiang kini dalam tahap finalisasi pemilihan mitra strategis.
Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menjelaskan pengembangan ini merupakan mandat dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Pemerintah menargetkan kapasitas terpasang panas bumi secara nasional dapat mencapai 5,2 gigawatt (GW).
“Potensi panas bumi Indonesia sangat besar dan tersebar di berbagai wilayah. PLN akan mengoptimalkan pengembangan PLTP agar manfaatnya dirasakan nyata, baik oleh masyarakat di sekitar proyek maupun pelanggan PLN di seluruh Indonesia,” kata Suroso dalam keterangannya, Jumat (29/8).
Untuk merealisasikan proyek Hululais, PLN akan memanfaatkan sumber energi dari Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) milik PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Nantinya, pasokan listrik dari kedua PLTP tersebut akan disalurkan melalui Gardu Induk (GI) Pekalongan di Kepahiang.
Guna mempercepat pengembangan, PLN menerapkan strategi kerja sama dengan para pengembang panas bumi melalui skema pembelian uap. Suroso menegaskan proses ini dilakukan secara transparan dan akuntabel untuk mendapatkan mitra strategis yang sejalan dengan visi perusahaan.
“Kami memastikan proyek-proyek panas bumi dijalankan bersama mitra strategis yang memiliki visi sejalan dengan PLN untuk menghadirkan energi bersih dengan harga terjangkau. Semua proses dilakukan secara transparan dan sesuai regulasi, dengan menjunjung tinggi prinsip fairness of partnership,” jelas Suroso.
Selain berkontribusi pada ketahanan energi, proyek ini juga diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah melalui penciptaan lapangan kerja dan keterlibatan pelaku usaha lokal.
“Melalui pengembangan PLTP di berbagai daerah, PLN tidak hanya mendukung transisi menuju energi hijau, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Suroso.