Jakarta, FORTUNE — PT Pos Indonesia mengungkapkan konsolidasi sembilan perusahaan logistik milik BUMN ke dalam satu entitas di bawahnya diyakini langsung menghasilkan keuntungan.
Direktur Utama PT Pos Indonesia, Daud Joseph, menyebut perusahaan hasil penggabungan tersebut diproyeksikan membukukan laba sekitar Rp100 miliar pada tahun pertama pengoperasian.
Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Senin (22/6), Daud menjelaskan konsolidasi tersebut mengusung model bisnis baru yang berfokus pada penguatan sektor logistik. Menurutnya, dalam lima tahun terakhir Pos Indonesia kesulitan mencetak laba optimal jika hanya mengandalkan proyek pemerintah.
Ia menilai prospek industri logistik nasional masih sangat menjanjikan. Nilai pasar logistik Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar Rp3.300 triliun pada 2026 menjadi Rp4.300 triliun pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 6,2–8,2 persen. Sementara itu, bisnis kurir diproyeksikan tumbuh 7,2–8,7 persen per tahun dan layanan keuangan sekitar 13,7 persen.
“Core competence Pos Indonesia berada di bidang logistik dan peluang pasarnya masih sangat besar,” kata Daud.
Menurutnya, mandat utama yang diberikan kepada Pos Indonesia adalah memimpin konsolidasi BUMN logistik guna meningkatkan efisiensi, memperbesar skala usaha, serta memperkuat daya saing layanan dari hulu hingga hilir dan lintas moda transportasi, mulai dari laut, udara, darat hingga kereta api.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan biaya logistik nasional yang selama ini dinilai masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.
Daud menjelaskan, saat ini terdapat sedikitnya 15 entitas logistik BUMN yang beroperasi secara terpisah dengan skala bisnis relatif kecil. Dari pasar logistik nasional yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah, gabungan pangsa pasar perusahaan-perusahaan tersebut masih di bawah 3 persen.
Selain saling berebut pelanggan pada rute yang sama, antarperusahaan juga belum terintegrasi dari sisi teknologi maupun pemanfaatan kapasitas. Akibatnya, sering terjadi armada penuh saat berangkat namun kosong saat kembali sehingga efisiensi tidak optimal.
“Setiap mata rantai mengambil margin keuntungan sendiri-sendiri, mulai dari pelabuhan, depo peti kemas, kepabeanan, forwarding, pergudangan hingga distribusi. Setelah digabung menjadi satu perusahaan, margin keuntungan cukup satu kali sehingga dapat memangkas duplikasi biaya,” katanya.
