Krisis keuangan Asia pada 1997 menjadi titik balik bagi Mochtar. Saat itu, ia menjadi salah satu tokoh yang mengubah lanskap perbankan Indonesia. Lewat tangannya, kondisi sejumlah lembaga keuangan yang sudah berada di ujung tanduk berubah membaik.
Tak ayal, jejaknya di industri perbankan masih membekas. Melansir Asia Society, ia telah menunjukkan keahliannya dalam bidang finansial. Pada 1960 hingga 1971, ia berhasil membalikkan kondisi defisit sejumlah bank di Indonesia menjadi surplus besar.
Ia pun berhasil melahirkan bank-bank top negara seperti Bank Buana, Bank Panin, Bank Central Asia, hingga Bank Lippo. Bank Panin, misalnya, berhasil lahir dari penggabungan empat bank dan menjadi bank swasta terbesar pada masanya.
Pada 1975, Mochtar merevitalisasi Bank Asia Tengah yang hampir bankrut. Total aset bank itu melampaui Rp7,5 triliun, dengan laba bersih Rp53 miliar per tahun di akhir kepemimpinannya. Contoh lain dari kepiawaiannya dalam bidang perbankan adalah mempertahankan Bank Lippo melewati krisis keuangan 1997.
Berbekal kecakapan itu, ia akhirnya mendirikan Grup Lippo yang tak hanya menggarap bisnis keuangan, tapi juga di bidang lain seperti properti, infrastruktur, pendidikan, dan rumah sakit.
Mochtar pun turut berkontribusi dalam aktivitas filantropis melalui penelitian dan pengajaran. Salah satunya lewat Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) yang berdiri pada 2006. MRIN, bersama Universitas Pelita Harapan dan Rumah Sakit Siloam, memberikan pelatihan dan menggelar penelitian.