Jakarta, FORTUNE - Pemegang saham PT Victoria Care Indonesia Tbk (VICI) menyetujui pengangkatan Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo sebagai wakil komisaris utama, Kamis (29/10). Perseroan pun akan fokus pada strategi ekspansi internasional dan mendorong segmen premium.
Keputusan itu sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) di Jakarta Barat. Komisaris Utama VICI, Billy Hartono Salim, mengatakan, masuknya Sara ke jajaran komisaris dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan, terutama dari sisi jaringan, pengalaman, juga pemahaman terhadap industri gaya hidup dan kosmetik.
"Apalagi Bu Sara memiliki passion dan punya tujuan juga untuk membawa kita ke mancanegara," kata Billy dalam konferensi pers RUPLSB VICI, Kamis.
Selain untuk mendukung ekspansi internasional, tujuan kedua perseroan setelah bergabungnya Sara adalah mendorong segmen premium perseroan. Menurut Sara, hal tersebut sudah tercatat jelas dalam rencana bisnis perseroan ke depan.
"Kita sudah berikan amanah dan mandat kepada Dewan Direksi untuk bisa menjalankan, dan juga tentunya dengan dukungan kami di Dewan Komisaris," ujar Sara di kesempatan yang sama.
Belum lama ini, pada 26 Oktober 2026, VICI baru menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan distribusi dan pabrik di Malaysia, yakni UDI Marketing Sdn Bhd (UDIM). Kemitraan itu bertujuan untuk memasarkan dan mendistribusikan produk-produk VICI di Malaysia.
Langkah itu merupakan bagian dari upaya VICI memperluas jangkauan bisnis regional yang mendukung ekspansi pasar dan pertumbuhan jangka panjang. Pemilihan UDIM sebagai mitra distribusi didasarkan pada pengalaman perusahaan itu dalam bidang pemasaran dan distribusi FMCG di Malaysia selama sekitar 50 dekade. Pengalaman itu didukung jaringan distribusi yang menjangkau Malaysia Barat dan Malaysia Timur.
Saat ini, UDIM bahkan memiliki fasilitas pusat distribusi di Melaka dengan luas 14.000 meter persegi dan kapasitas buffer inventory hingga lebih dari 12.000 palet, serta 18 area bongkar muat.
"Perusahaan ini kebetulan juga perusahaan yang sangat terkenal dan merupakan anak perusahaan dari Salim Group, yang dikenal sangat kuat di distribusi di Indoensia maupun luar negeri. Ini tonggak sejarah lagi, kabar baik untuk perusahaan kami," kata Biilly.
VICI sendiri merupakan perusahaan manufaktur kosmetik dan perawatan tubuh, pemegang merek Herborist. Perseroan juga memiliki merek Miranda, Victoria, Nuface, CBD, Secret Clean, dan Bath & Buff. Di pasar domestik, VICI mengelola 3.256 perdagangan grosir tradisional, 10.596 ritel modern, dan 68.666 ritel tradisional secara nasional. Dari segi ekspor, VICI telah memperluas pasar ke Jepang, Brunei Darussalam, Malaysia, Timor Leste, Korea Selatan, Hong Kong, Taiwan, dan Cina.
Terkait tujuan untuk menggenjot segmen premium, VICI berencana menghadirkan merek-merek premium untuk melengkapi kinerja VICI saat ini. Salah satunya, dengan mengakuisisi PT Natura Pesona Mandiri (NPM), pemilik dari merek Secret Garden. Perseroan akan mengintegrasikan merek-merek NPM ke ekosistem VICI dengan target pelaksanaan selesai pada semester-I 2027.
Menurut Direktur VICI, Erwan Irawan Noer, segmen premium berpotensi memberikan margin yang lebih tinggi dibanding segmen low-end. "Premium ini sudah mulai banyak [juga mereknya], tapi yang [jangkauannya] semasif Secret Garden, dengan 81 outlet, itu belum ada. Makanya kami tertarik untuk masuk ke mereka," katanya kepada Fortune Indonesia setelah konferensi pers RUPSLB VICI.
