Jakarta, FORTUNE - Emiten produsen emas, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menargetkan pendapatan mencapai Rp70 triliun dengan laba bersih di kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun sepanjang tahun ini dan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah saat ini. Target itu diharapkan dicapai melalui sejumlah strategi perseroan.
Direktur Utama Hartadinata Sandra Sunanto mengatakan perusahaan telah menyusun delapan strategi utama untuk memperkuat posisi dan meningkatkan kinerja pada 2026.
Strategi pertama, dengan memperkuat branding melalui umbrella brand HRTA Gold yang menaungi produk emas batangan EMASKU dan berbagai koleksi perhiasan perusahaan. HRTA Gold diposisikan sebagai produk emas terpercaya yang berfungsi sebagai safe haven asset di tengah ketidakpastian ekonomi dan tingginya risiko geopolitik global.
"Kami terus mengedukasi masyarakat bahwa HRTA Gold merupakan aset lindung nilai yang terpercaya dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat," ujar Sandra dalam paparan publik virtual, Rabu(3/6).
Strategi kedua adalah mengamankan pasokan bahan baku emas melalui kerja sama yang lebih erat dengan perusahaan tambang domestik bereputasi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan emas di tengah tingginya permintaan pasar.
Selain itu, perusahaan juga terus meningkatkan kualitas produk melalui inovasi dan sertifikasi. Saat ini produk emas batangan EMASKU telah mengantongi sertifikasi KAN, SNI, ISO, dan sertifikasi kesesuaian syariah. Perseroan juga tengah menunggu proses akhir sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA) melalui fasilitas pemurnian emas miliknya, Mas Murni Abadi.
"Kami berharap sertifikasi LBMA dapat diperoleh sebelum akhir 2026 sehingga produk EMASKU dapat diterima dengan standar internasional di seluruh dunia," kata Sandra.
Di sisi pemasaran, HRTA mengoptimalkan strategi omnichannel melalui jaringan toko fisik, platform e-commerce HRTA Gold Apps, serta web commerce. Hingga saat ini, perusahaan memiliki sekitar 85 toko yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia dan menargetkan jumlah tersebut bertambah menjadi 100 toko.
Selain jaringan toko milik sendiri, HRTA juga memperluas distribusi melalui lebih dari 1.000 toko emas mitra dan unit usaha gadai yang menjadi kanal pemasaran tambahan bagi produk-produk HRTA Gold.
Tidak hanya menyasar pasar ritel dan B2B, HRTA juga mulai memperkuat penetrasi ke pasar institusi. Segmen ini mencakup bullion bank, lembaga keuangan syariah, dan institusi keuangan lainnya yang memiliki izin untuk memasarkan produk emas.
Menurut manajemen, pasar institusi berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru, terutama seiring perkembangan regulasi industri bullion di Indonesia, termasuk rencana peluncuran produk Exchange Traded Fund (ETF) emas.
