Jakarta, FORTUNE — Di tengah dinamika global yang kian kompleks, lanskap energi mengalami perubahan yang semakin cepat dan mendasar. Kebutuhan energi terus meningkat seiring dengan percepatan elektrifikasi, adopsi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), serta pergeseran geopolitik yang membentuk ulang cara industri dan bisnis beroperasi. Transformasi ini tidak hanya menuntut efisiensi, tetapi juga ketahanan dan keberlanjutan dalam skala yang lebih luas.
Tiga megatren utama, yakni transisi menuju lanskap energi baru, akselerasi digitalisasi dan AI, serta dunia yang semakin multipolar yang menjadi pendorong utama perubahan tersebut. Kebutuhan listrik global diproyeksikan meningkat sekitar 40 persen hingga 2035, didorong oleh pertumbuhan sektor baru seperti pusat data dan AI. Di sisi lain, kapasitas pusat data global diperkirakan akan meningkat hingga empat kali lipat sebelum 2030, menandakan lonjakan kebutuhan infrastruktur digital. Sementara itu, perubahan arah geopolitik mendorong hampir seluruh perusahaan untuk menata ulang rantai pasok mereka agar lebih terlokalisasi, terotomasi, dan selaras dengan target net-zero.
Menjawab tantangan sekaligus peluang tersebut, Schneider Electric menegaskan perannya sebagai mitra teknologi energi yang mengintegrasikan elektrifikasi, otomatisasi, dan digitalisasi di berbagai sektor, mulai dari industri, bisnis, hingga hunian. Pendekatan ini dirancang untuk membantu pelanggan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mempercepat pencapaian target keberlanjutan.
“Saat ini pelanggan kami menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks—mulai dari kenaikan biaya energi, tuntutan keberlanjutan, hingga percepatan transformasi digital yang mengubah cara industri beroperasi. Di Schneider Electric, kami melihat ini sebagai peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik bersama. Melalui peran kami sebagai mitra teknologi energi, kami ingin membantu pelanggan melangkah dengan lebih percaya diri—mewujudkan bangunan yang lebih efisien, pusat data yang berkelanjutan, industri yang lebih cerdas, serta infrastruktur yang lebih tangguh dan terintegrasi,” ujar Martin Setiawan, President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste.
