Pada 2004, Bambang Sutantio merintis Cisarua Mountain Dairy (CMD) bersama rekannya. Bisnis pengolahan susu tersebut dikembangkan untuk menyerap hasil produksi peternak sapi perah di Cisarua, Bogor.
Setahun kemudian, Cimory mulai bermitra dengan koperasi susu di sekitar Cisarua. Bambang menerapkan standar kualitas bahan baku dan menawarkan harga beli susu sekitar 10 persen lebih tinggi kepada peternak.
Cimory memproduksi susu pasteurisasi dan memperluas produk olahan susunya. Cimory Yogurt diluncurkan pada 2007, disusul berbagai produk seperti susu UHT, yogurt rendah lemak, Cimory Squeeze, dan susu cokelat UHT.
Bambang juga mengembangkan bisnis ke kategori lain melalui Java Egg Specialities (JESS), pabrik telur cair pasteurisasi pertama di Indonesia. Ekspansi berlanjut dengan penambahan fasilitas produksi di Semarang dan Pasuruan.
Pada 2021, Cimory membuka Cimory Dairyland Puncak sebagai destinasi wisata edukasi dan rekreasi. Pada 6 Desember di tahun yang sama, perusahaan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham CMRY dan menghimpun dana Rp3,66 triliun.
Kini, Cimory mengoperasikan tiga pabrik dan bermitra dengan lebih dari 6.000 peternak sapi perah untuk mendukung pasokan bahan baku.
Ingin mengetahui lebih jauh perjalanan Cimory membangun bisnis, mulai dari inovasi produk, penguatan rantai pasok, hingga strategi memperluas pasar? Baca kisah lengkap Cimory dalam Majalah FORTUNE Indonesia edisi September 2026.
Baca Juga: Majalah FORTUNE Indonesia September 2026: The Long Journey To Market