Jakarta, FORTUNE - Proses tender kontraktor proyek Dek Pejalan Kaki atau Pedestrian Deck Dukuh Atas masih bergulir. Proyek dengan investasi Rp361,7 miliar itu ditargetkan masuk ke tahap onboarding kontraktor pada kuartal-IV 2026.
Sebagai konteks, proyek itu merupakan bagian dari kawasan berorientasi transit (transit oriented development/TOD) Dukuh Atas. Pengelola kawasan TOD tersebut, PT MRT Jakarta (Perseroda), mengatakan, saat ini desain dasar proyek telah rampung.
"Sekarang ini kami sedang tender kontraktor. Harapannya, pada November tahun ini [bisa onboard]. Target [penyelesaian dek pejalan kaki] mudah-mudahan di akhir 2028," kata Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan dalam MRTJ Fellowship Program 2026 di Transit Hub Jakarta, Kamis (30/7).
Dalam prosesnya, proyek dek pejalan kaki itu akan menggunakan skema pendanaan di luar APBD. Sebagian akan bersumber dari investasi MRT Jakarta, sedangkan sebagian lainnya dari fasilitas kredit atau pinjaman.
Perusahaan belum berencana memperluas opsi pendanaan seperti dari private placement. "Karena kalau misalnya ada pendanaan lain, nanti akan berkaitan ke isu aset. Kalau sekarang, jika kita bangun dengan dana MRT, asetnya punya MRT. Jadi ketika bangun di atas lahan Pemerintah Provinsi, urusan terkait asetnya enak. Bahwa kami menyewa lahan Pemprov [DKI], asetnya punya MRT," ujar Agus.
Sebelumnya, pada Juni 2026, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung telah mencanangkan pembangunan proyek dek pejalan kaki itu. Rencananya, infrastruktur itu akan menghubungkan seluruh kawasan transit Dukuh Atas, termasuk integrasi 6 moda transportasi (MRT Jakarta, LRT Jakarta Rute Velodrome-Manggarai, LRT Jabodebek, kereta bandara, Transjakarta, dan Kereta Commuter Line).
Berdasarkan hasil studi perusahaan, nantinya fasilitas itu dapat memangkas waktu berjalan kaki hingga sekitar 7 menit. Selain itu, dek pejalan kaki itu juga diharap dapat mengurangi jarak tempuh hingga sekitar 400 meter dalam perpindahan antarmoda transportasi.
"Jakarta saat ini telah menjadi kota kedua dengan sistem transportasi publik terbaik di Asia Tenggara. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta berkomitmen terus meningkatkan kualitas layanan dan konektivitas antarmoda agar semakin banyak masyarakat beralih menggunakan transportasi publik,” kata Pramono pada Juni 2026.
Sepanjang jalur fase 1 dan fase 2 MRT Jakarta, terdapat 9 kawasan berorientasi transit. Lima di antaranya telah beroperasi, yakni Gerbang Suar Jakarta (Lebak Bulus TOD), Ruang Atas Dinamis (Fatmawati TOD), Green Creative Hub (Blok M-ASEAN TOD), Beranda Pelita Indonesia (Istora Senayan TOD), dan Kolaborasi Gerak (Dukuh Atas TOD).
Empat kawasan lain yang belum aktif, meliputi: Simpul Transisi Regenerasi (Bendungan Hilir TOD), Jantung Niaga Prestisius Jakarta (Setiabudi TOD), Poros Monumental Jakarta (Bundaran HI TOD), serta Permata Utara Jakarta dan Pavilion Emas Kotatua Jakarta (Kotatua dan Glodok TOD).
