Teresa Wibowo Dan Perjuangan Transformasi Digital Kawan Lama

- Teresa Wibowo, generasi ketiga Kawan Lama Group, memimpin transformasi digital perusahaan dengan melahirkan platform e-commerce terintegrasi Ruparupa.com.
- Ia menghadapi resistensi internal besar karena kekhawatiran investasi dan perbedaan budaya kerja, namun tetap mempertahankan visinya terhadap masa depan digital.
- Dengan dukungan ayahnya, Kuncoro Wibowo, Teresa berhasil meluncurkan Ruparupa.com pada 2016 dan mendirikan PT Omni Digitama Internusa untuk mengelola seluruh aspek operasional digital grup.
Jakarta, FORTUNE - Teresa Wibowo, generasi ketiga Kawan Lama Group, menjadi salah satu tokoh di balik upaya transformasi digital perusahaan ritel tersebut. Ia merupakan sosok yang mendorong lahirnya platform e-commerce terintegrasi milik grup, Ruparupa.com.
Saat berbincang dengan Fortune Indonesia, Teresa menceritakan bagaimana ide penjualan daring itu mulai dirintis pada awal dekade 2010-an, periode ketika menurutnya, perusahaan sama sekali belum siap memasuki bisnis digital.
Ketidaksiapan tersebut bersifat mendasar sekaligus sistemik. Selama puluhan tahun, seluruh infrastruktur dan proses bisnis Kawan Lama dibangun untuk mengoptimalkan ritel fisik. Ketika Teresa mengusulkan pembangunan platform e-commerce terintegrasi, ia justru menghadapi resistensi kuat di internal perusahaan.
Penolakan datang dari berbagai arah, mulai dari kekhawatiran soal investasi yang dianggap terlalu besar hingga perbedaan budaya kerja. “Diskusi paling sengit terjadi dengan salah satu paman saya,” kata Teresa. Ia menggambarkan pamannya sebagai sosok yang sangat berpegang pada angka atau numbers guy, yang menilai kinerja bisnis semata dari laporan laba-rugi.
Dalam setiap rapat evaluasi kinerja bulanan, kritik serupa kerap muncul. “Dia selalu bilang, ‘Ini rapor kamu merah terus. E-commerce is a money-losing business. Udahlah, enggak bakal gede,’” ujar Teresa mengenang masa-masa awal merintis platform digital tersebut.
Di balik perdebatan di ruang rapat, Teresa mengaku menghadapi tekanan yang tidak ringan. Ia harus terus-menerus menjelaskan dan memvalidasi idenya kepada orang-orang yang ia hormati di dalam keluarga sekaligus perusahaan.
Namun, keyakinannya pada masa depan digital bukan lagi sekadar intuisi, melainkan sebuah visi yang ditempa dan divalidasi oleh pendidikan bisnis strategis tingkat tertinggi. Di ruang-ruang kuliahnya, ia mempelajari kerangka kerja untuk inovasi, disrupsi, dan intrapreneurship.
Ia tahu ini bukan pertaruhan buta. Dukungan paling melegakan datang dari ayahnya, Kuncoro Wibowo. “Kalau dengan dia cukup mudah,” kata Teresa. “Dia melihat, ‘ya sudah.’ Simpel cara menghitungnya. Dia percaya di ujung sana bakalan ada sesuatu. ‘Ya sudah, investasi dari sekarang,’” ujarnya.
Namun, visi Kuncoro yang melesat jauh ke depan sering kali tidak diiringi dengan ketertarikan pada detail proses yang berliku. Sifatnya yang tidak berorientasi pada proses ini, di satu sisi, memberi Teresa otonomi penuh. Namun, di sisi lain, itu berarti dia acap kali harus seorang diri menerjemahkan visi besar itu ke dalam pertempuran politik dan operasional sehari-hari pada internal perusahaan.
Selama dua tahun, Teresa bergumul. Ujungnya, ia tidak hanya berhasil meluncurkan Ruparupa.com pada 2016, tetapi juga secara resmi mendirikan dan memimpin PT Omni Digitama Internusa. Dia tidak hanya membangun fasad digital, tetapi juga mengelola keseluruhan mesin di baliknya, dengan tanggung jawab penuh atas semua aspek, mulai dari merchandising, marketing communications, web content, technology, hingga operations.

















