Jakarta, FORTUNE – PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) membukukan laba bersih setelah pajak konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,4 triliun pada semester I-2026. Capaian ini melonjak 40,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), didorong oleh ekspansi penyaluran kredit serta pengalihan portofolio kredit pensiun.
Suntikan kinerja positif ini salah satunya dipicu oleh eksekusi tahap pertama pengalihan portofolio kredit pensiun kepada PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN).
Direktur Utama SMBC Indonesia, Henoch Munandar, menyatakan seluruh langkah strategis yang diambil perusahaan berfokus pada penguatan fundamental bisnis jangka panjang.
"Kami terus memperkuat fundamental bisnis agar perseroan mampu tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Henoch dalam keterangan resmi yang dikutip Jumat (31/7).
Hingga akhir Juni 2026, total penyaluran kredit konsolidasi SMBC Indonesia mencapai Rp185,3 triliun. Pertumbuhan dialirkan ke sejumlah segmen utama, di antaranya kredit korporasi dan komersial yang tumbuh 12,8 persen (YoY).
Segmen digital savvy melalui layanan Jenius (di luar Digital Micro) turut menyumbang pertumbuhan 9,9 persen (YoY).
Kinerja positif juga ditopang oleh lini anak usaha: PT Bank BTPN Syariah Tbk. (BTPN Syariah), dengan pembiayaan tumbuh 8,7 persen (YoY); Grup OTO, pembiayaan meningkat 5,8 persen (YoY).
Secara total, SMBC Indonesia mengantongi pendapatan operasional konsolidasi sebesar Rp8,6 triliun pada paruh pertama tahun ini. Angka tersebut bersumber dari pendapatan bunga bersih Rp7,5 triliun dan pendapatan operasional lainnya sebesar Rp1,0 triliun.
Dari sisi liabilitas, SMBC Indonesia berfokus memperkuat struktur pendanaan murah melalui penghimpunan current account and saving account (CASA). Per akhir Juni 2026, simpanan CASA melesat 37,4 persen menjadi Rp60,1 triliun.
Peningkatan ini mendorong rasio CASA naik menjadi 47,5 persen terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK), disokong oleh arus dana dari segmen korporasi, komersial, usaha kecil dan menengah (UKM), hingga ritel.
“Penguatan CASA merupakan bagian penting dari upaya kami untuk membangun struktur pendanaan yang semakin sehat dan efisien,” kata Henoch.
Di tengah ekspansi bisnis, ketahanan modal bank berlogo hijau ini tetap terjaga solid. Per 30 Juni 2026, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) berada pada level 30,7 persen.
Sementara itu, total aset secara konsolidasi tumbuh 4,7 persen (YoY) menjadi Rp245,5 triliun pada akhir semester I-2026.
