Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ditopang Pendapatan, BNI Kantongi Laba Rp5,6 triliun pada Awal 2026
Paparan kinerja BNI di kuartal I 2026. (Dok/Istimewa).
  • BNI mencatat laba bersih Rp5,6 triliun pada kuartal I 2026, naik 4,7% YoY berkat pertumbuhan pendapatan bunga dan non-bunga yang masing-masing tumbuh di atas 12%.
  • Tabungan BNI meningkat 10,4% YoY dengan kenaikan dana murah (CASA) hingga 26,6%, sementara kredit tumbuh 20,1% menjadi Rp919,3 triliun per Maret 2026.
  • Kualitas aset membaik dengan NPL turun ke 1,9%, Loan at Risk di 8,6%, serta LDR dan KPMM masing-masing di level sehat 83,5% dan 18,5%.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menutup kuartal I-2026 dengan catatan laba bersih Rp5,6 triliun. Angka ini terkerek tipis 4,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan periode serupa tahun silam yang parkir pada level Rp5,4 triliun.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menyatakan rapor hijau ini merupakan buah dari pertumbuhan bunga bersih (NII) yang melonjak 12,1 persen (YoY). Tak hanya itu, pundi-pundi bank juga dipertebal oleh pendapatan non-bunga yang mendaki 12,6 persen (YoY), “terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel,” kata Putrama dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (29/4).

Laju positif ini mengantarkan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) BNI menjadi Rp9,3 triliun, yang merupakan pencapaian tertinggi dalam sejarah kuartal pertama perseroan. Meski dinamika global masih berselimut tantangan, Putrama menegaskan pihaknya tetap memegang teguh prinsip kehati-hatian.

“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam pengelolaan risiko,” ujarnya.

BNI sempat diterpa kabar miring terkait penggelapan dana nasabah oleh mantan Kepala Kas Unit Aek Nabara, Sumatra Utara. Namun, kepercayaan publik rupanya masih hadir, terbukti dari total tabungan yang masih meningkat 10,4 persen (YoY).

Kepercayaan itu turut mempertebal pundi Dana Pihak Ketiga (DPK). Komposisi dana murah (CASA) terdongkrak 26,6 persen (YoY) demi menyentuh Rp731,6 triliun. Per Maret 2026, pertumbuhan giro masih naik pada 39,7 persen (YoY).

Di sisi ekspansi, BNI tergolong agresif. Penyaluran kredit melaju 20,1 persen (YoY) menjadi Rp919,3 triliun per Maret 2026. Putrama mengatakan pertumbuhan ini disebar secara berimbang pada segmen business banking dan konsumer ritel guna menyokong denyut ekonomi nasional.

Kendati ekspansi dipacu, kualitas aset tetap dalam pantauan ketat. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) membaik ke level 1,9 persen. Sementara itu, Loan at Risk (LaR) 8,6 persen, dengan biaya kredit terjaga pada level 1,1 persen.

Struktur fundamental BNI terlihat solid jika menilik Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 83,5 persen dengan rasio permodalan (KPMM) 18,5 persen.

“Kinerja ini mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan,” kata Putrama.

Editorial Team